Artikel Terbaru

Mengalah Menuntut Keberanian

kategori: Artikel Pilihan
Mengalah seringkali menjadi tantangan besar bagi kita. Tak semua orang berani mengalah. Untuk mengalah, bagi sementara orang juga berarti pertempuran sengit didalam. Ia tentu menimbulkan konflik batin hingga intensitas dan dalam jangka waktu tertentu. Mengalah merupakan suatu bentuk dari keberhasilan dalam 'pengendalian diri'. Memang, ada yang mempunyai watak bawaan gampang mengalah; sementara mungkin lebih banyak yang mengalami kesulitan untuk mengalah. Sesungguhnya, ia bukanlah suatu watak bawaan semata, akan tetapi dapat dilatih. Dalam konteks ini, seni mengalah juga dapat disebut sebagai seni olah batin. selengkapnya

Karma Sebagai Swadharma Menuju Kebahagiaan Bersama

kategori: Artikel Baru
Dalam kehidupan manusia tidak bisa sendirian. Antara satu orang dengan orang-orang lain saling terkait. Yang satu dengan yang lainnya saling membantu dan saling bekerja sama. Jika salah satu macet, maka yang lainnya akan berpengaruh. Bisa juga kemacetan total akan muncul. Jika hal itu terjadi, itu tak diinginkan dalam hidup kebersamaan. Untuk itu, setiap insan mesti dapat memaknai karma atau kerja itu sendiri. selengkapnya

Brahmacari: Masa Menuntut Ilmu

kategori: Artikel Baru
Dalama Agama Hindu, kehidupan dibagi berdasarkan jenjang kehidupan yang mesti dilalui sesuai dengan tingkatan-tingkatan yang disebut dengan Catur Asrama. Jenjang kehidupan manusia berdasarkan alas tatanan rohani, waktu, umur dan sifat perilaku manusia. Catur Asrama berasal dari Bahasa Sansekerta yaitu dari kata Catur dan Asrama. Catur berarti empat dan Asrama berarti tempat atau lapangan "Kerohanian". Kata Asrama sering juga dikaitkan dengan jenjang kehidupan. Jenjang Kehidupan itu berdasarkan atas tatanan rohani, waktu, umur, dan sifat perilaku manusia. selengkapnya

Keagungan Karna Sebagai Ksatria dan Dermawan

kategori:
Pada hari ke-17 perang besar Bharathayudha (Mahabharatha) mendekati usai, dengan kalahnya/robohnya Karna di medan perang. Para Pandawa bergembira merayakan kemenangan besar tersebut. Sebaliknya, Kaurawa merasa kehilangan harapan sama sekali, sebab Karna adalah kstria utama andalan mereka. Para Pandawa bersuka-cita atas kalahnya lawan berat mereka. Tetapi Krishna duduk terpisah dan tampak tenggelam dalam kesedihan. Arjuna datang mendekatinya dan bertanya, kenapa beliau merasa sedih pada hari yang seyogyanya mereka patut bersuka-cita dalam menyambut kemenangan. Krishna memberitahu Arjuna bahwa Negara Bharatha telah kehilangan prajurit/ksatrianya yang sangat utama pada hari itu. Pahlawan yang telah membawa kejayaan dan nama baik Negara Bharatha, telah roboh menyedihkan. Aku merasa sedih karena Negara telah kehilangan seorang pahlawannya yang begitu besar. selengkapnya

Sanghyang Aji Saraswati Sebagai Dewi Kata-Kata

kategori: Artikel Baru
Dewi Saraswati disamping di agungkan sebagai Dewi yang menurunkan ilmu penngetahuan dan kebijaksanaan, juga di agungkan dan di sembah oleh beberapa sekta. Dewi Saraswati di dalam kasusastraan Weda juga mencantumkan bahwa Dewi Saraswati sebagai Dewi kebijakan dan ilmu pengetahuan sangat dihormati oleh para sisia di pesraman. Dalam zaman Weda Juga Hyang Saraswati diwujudkan sebagai Dewi Beji atau Tukad yang memberikan air yang melimpah sepanjang zaman kepada manusia. Lebih terkenal lagi Dewi Saraswati disebut Dewi kebijakan dan Dewi ilmu pengetahuan. selengkapnya

Pasraman dan Pembentukan Karakter Bangsa

kategori: Artikel Pilihan
Berdasarkan UU Sistem Pendidikan Nasional No.20 tahun 2003 terutama dalam pasal 12 ayat 4, pasal 30 ayat 5, dan pasal 37 ayat 3, maka Pemerintah RI telah menetapkan PP nomor 55 tahun 2007 tentang Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan. Kemudian kalau dicermati kandungan isi pp nomor 55 tahun 2007 pada pasal 1 point angka 5 ada dijelaskan "Pasraman adalah satuan pendidikan keagamaan Hindu pada jalur pendidikan formal dan non formal''. Kemudian dalam pasal 8 ayat 1 dan 2 ditegaskan tentang pendidikan keagamaan, bahwa "pendidikan keagamaan berfungsi mempersiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memahami dan mengamalkan nilai-nilai ajaran agamanya dan/atau menjadi ahli ilmu agama yang berwawasan luas, kritis,kreatif,inovatif, dan dinamis dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa yang beriman, bertaqwa, dan berakhlak mulia". selengkapnya

Makna Simbolik Tangis Bayi dan Pemujaan Sang Hyang Kumara

kategori: Artikel Baru
Kelahiran seorang bayi merupakan dambaan setiap orang. Karena itulah segala bentuk upacara keagamaan (ritual) dilakukan sebagai wujud sradha bhakti manusia. Upacara keagamaan (ritual) adalah realisasi dari Bhakti Marga. Dasar Bhakti Marga adalah rasa cinta. Cinta kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, cinta kepada anak maupun sesama, dan cinta kepada lingkungan. Getaran cinta akan mengerakkan manusia untuk berbuat. Karena adanya rasa cinta, keinginan bergerak dan berbuat, maka akan melahirkan seni. Rasa seni digejolakkan oleh getaran keagamaan menyebabkan seni simbolis. selengkapnya

Memaknai Dharma Santi

kategori: Artikel Pilihan
Mengapa memaafkan menjadi hal yang esensial pada momen Dharma Santi? Hal ini disebabkan karena untuk menggapai suasana damai (santi) salah satu jalan yang wajib dilakoni adalah dengan memaafkan. Bagaimana tidak! Sebab suasana damai tidak akan pernah terwujud bila masih ada dendam diantara kita, masih ada sekat pemisah hati kita, masih ada ketidakharmonisan diantara kita, singkatnya sebagaimana sebuah syair lagu menyatakan "jangan ada dusta diantara kita". Klise memang! Tapi sudah menjadi kenyataan sangat sedikit orang mampu untuk mewujudkannya dalam perbuatan, lebih banyak orang hanya mampu mewacanakannya saja. Sepertinya sudah bagaikan suratan takdir, bahwa memaafkan itu sangat mudah diucapkan tapi tidak mudah untuk dilaksanakan. selengkapnya

Implementasi Dharma Dalam Era Kali Yuga

kategori: Artikel Pilihan
Dharma secara umum didefinisikan sebagai kebajikan (virtue), kewajiban (duty) dan agama (religion). Dalam Santi Parwa, Rsi Bisma memberikan wejangan kepada Yudisthira, bahwa apapun yang menimbulkan pertentangan adalah adhamia, dan apapun yang menyudahi pertentangan dan membawa pada kesatuan, keharmonisan dan keselarasan adalah dharma. Segala aktivitas manusia yang menimbulkan perselisihan, keretakan, ketidak selarasan dan menimbulkan kebencian adalah adharma. Segala upaya manusia yang membantu nutuk menyahikan segalanya, mengembangkan cinta kasih kepada Tuhan dan persaudaraan unversal adalah dharma. Dharma merupakan penuntun menuju jalan kesempurnaan, penolong nutuk penyatuan langsung dengan Tuhan, sadhana untuk mencapai sifat-sifat ilahi dan merupakan jantung etika/susila Hindu selengkapnya

Nilai-Nilai Agama Hindu dan Pencerahan Manusia

kategori: Artikel Baru
Ajaran agama Hindu adalah wahyu yang bersumber dari Hyang Widhi (Tuhan Yang Maha Esa). Semua wahyu Tuhan dihimpun dalam kitab suci Veda, yaitu yang terdiri dari Rgveda, Samaveda, Yajurveda dan Atharvaveda. Sedangkan Veda Smrti merupakan penjabaran dari Veda Sruti yang memberikan penjelasan terhadap hal-hal tertentu yang berkenaan dengan hukum-hukum Hindu. Di samping Veda Sruti dan Smrti, ada juga yang menjelaskan berbagai pokok ajaran agama Hindu, seperti Dharmasastra, Itihasa, Purana dan sebagainya. Sesuai dengan formulanya, agama Hindu mempunyai tujuan yang sangat mulia dan konkrit, yaitu tujuan yang tidak saja meliputi aspek-aspek material, melainkan juga tujuan dalam aspek-aspek spiritual. Agama Hindu mengajarkan kepada umatnya, agar di dalam kehidupannya bersikap dan berperilaku yang baik; yakni berpikir, berkata dan berbuat untuk bertindak berpedoman pada ajaran agama. selengkapnya