Artikel Terbaru

Melenyapkan Rasa Takut

kategori: Artikel Baru
"Berani karena benar, takut karena salah". Jadi rasa takut itu ditimbulkan oleh perbuatan yang salah. Oleh karena itu untuk melenyapkan rasa takut kita tak boleh salah. Perbuatan yang salah adalah perbuatan yang melanggar hukum. Pernyataan takut berbuat salah ini pernah diucapkan oleh Sutasoma. Ceritranya sebagai di bawah ini. selengkapnya

Anugerah dalam Bhakti

kategori: Artikel Baru
Diantara empat jalan (marga), jalan bhakti ini dapat disebut sebagai jalan yang amat diminati oleh manusia. Manusia-manusia besar yang menunjukkan cinta-kasih tinggi dan penuh dedikasi terlahir dari jalan ini. Bunda Teresa dan Mahatma Gandhi adalah dua diantara para bhakta yang paling termasyur, abad lalu. Gandhi juga disebut-sebut sebagai Karma-Margi yang baik, disamping Swami Viveka-nanda. Jesus, dalam ajaran-ajaran luhurnya amat menekankan pada Cinta-kasih ini, seperti juga banyak Nabi-Nabi umat manusia lainnya. selengkapnya

Rwa Bhineda: Memahami Makna Suka dan Duka

kategori: Artikel Baru
Kegelapan atau kebingungan itu ada dua macam yaitu gelap pikiran berarti berpikiran tak tenang dan gelap hati berarti berperasaan gelisah. Orang yang kegelapan disebut orang yang dalam keadaan duka. Lawan dari kegelapan itu adalah terang yaitu terang pikiran yang berarti berpikiran tenang dan terang hati berarti berperasaan senang (suka). Biasanya yang disebut rwa bhineda dalam agama Hindu adalah suka duka. selengkapnya

Memaknai Hari Raya Keagamaan

kategori: Artikel Pilihan
Hari raya keagamaan seyogianya dijadikan momen meningkatkan daya spiritual untuk meningkatkan kualitas prilaku sehari-hari. Memaknai hari raya keagamaan kita berusaha menekan angka-angka negatif dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya dalam keadaan hari raya angka pelanggaran lalu lintas diupayakan agar menurun dengan meningkatkan kepatuhan umat akan peraturan dan etika berlalu lintas. Dengan demikian angka kecelakaan akan menurun. Berusaha menekan marah sebagai wujud memaknai hari raya keagamaan. selengkapnya

Merasakan Penderitaan Orang Lain

kategori: Artikel Baru
Tinggi rendahnya derajat seseorang tidak dapat diukur dari penampilan fisiknya. Misalnya, karena ia berpakaian yang mewah, berkendaraan mahal, makan di restoran yang mewah, menginap di hotel berbintang lima. Berpendidikan tinggi di luar negeri. Bepergian dengan pesawat terbang dengan kursi VIP. Menyelenggarakan upacara agama yang mewah dan gemerlapan atau karena ia keturunan bangsawan. selengkapnya

Sakuni, Ahli Pengasut

kategori: Artikel Baru
Sakuni adalah patih Negara Astina. Badannya kurus, mukanya pucat kebiru-biruan seperti pemadat candu. Caranya berbicara "klemak-klemek" menjengkelkan (Mulyono, 1989). Orang yang mempunyai ciri fisik seperti itu cenderung berbuat tidak suci, senang menipu, munafik, senang memfitnah, senang menghasut, senang mencelakakan orang lain, dan iri hari. Walaupun Sakuni kelihatannya membantu Kurawa, tetapi sebetulnya tidak. Dapat dipastikan selama berada di Astina, ia selalu mempunyai pikiran yang tidak baik (amanachika). Dibagian gelap jiwa Sakuni selalu menyimpan suatu dorongan sadis, yaitu "biarlah orang lain menderita". Shrii Shrii Anandamurti mengatakan: Di setiap desa dimana juga, kita akan menemukan orang-orang yang memiliki kecenderungan-kecenderungan kasar yaitu ingin mempertahankan dirinya, tetapi orang lain yang harus dikorbankan. selengkapnya

Membangun Manusia Seutuhnya dan Seluruhnya

kategori: Artikel Baru
Konsep pembangunan manusia di Indonesia tersebut pernah ditetapkan dengan rumusan "Membangun Manusia Seutuhnya dan Seluruhnya". Konsep pembangunan manusia ini sudah sangat tepat. Cuma di zaman reformasi ini hal tersebut semakin ditinggalkan baik dalam wacana maupun dalam realitanya. Membangun manusia seutuhnya dan seluruhnya yang pernah dicanangkan pemerintah di masa lalu, kini semakin tidak memdapat perhatian dari berbagai pihak. Membangun manusia seutuhnya dan seluruhnya menurut ajaran Hindu harus diletakkan pada landasan yang benar dan kuat. selengkapnya

Pahala Berbakti Pada Ibu, Ayah dan Guru

kategori: Artikel Baru
Hidup tertib dan teratur di dunia ini sebagai salah satu syarat untuk mewujudkan kebahagiaan lahir batin. Pertama, berbakti pada ibu. Imam lokam matrbhaktya artinya mereka yang sungguh-sungguh berbakti pada ibunya dengan mengabdikan diri pada ibunya, kebahagiaan hidup di dunia ini atau mencapai jagathita sebagai pahalanya. Secara nyata, ibulah atau deha mata yang melahirkan kita. Dalam Nitisastra VIII.3 menyatakan, sang ametwaken, sang maweh bhinojana. Artinya yang melahirkan dan yang memberikan anak itu. Maka itulah swadharma atau kodratnya ibu. Meskipun di balik itu ada peran ayah. Swami Satya Narayana menyatakan, sesungguhnya manusia penghuni bumi ini memiliki lima ibu yaitu Deha Mata, Dewa Mata, Weda Mata, Bumi Mata dan Desa Mata. selengkapnya

Meningkatkan Pengalaman Beragama

kategori: Artikel Baru
Gunanya Sastra suci (Veda) itu untuk diketahui dan diamalkan dalam Siila dan Aacaara. Siila adalah prilaku yang berasal dari pembawaan lahir (swabhawa), Aacaara, mentradisikan pengamalan ajaran suci (Veda) dalam kehidupan bersama dalam masyarakat. selengkapnya

Banten Sebagai Bahasa Simbol

kategori: Upacara
Banten dalam lontar Yajna Prakrti memiliki tiga arti sebagai simbol ritual yang sacral. Dalam lontar tersebut banten disebutkan: Sahananing Bebanten Pinaka Raganta Tuwi, Pinaka Warna Rupaning Ida Bhattara, Pinaka anda Bhuvana. Dalam lontar ini ada tiga hal yang dibahasakan dalam wujud lambang oleh banten yaitu : "Pinaka Raganta Tuwi" artinya banten itu merupakan perwujudan dari kita sebagai manusia. "Pinaka Warna Rupaning Ida Bhatara" artinya banten merupakan perwujudan dari manifestasi (prabhawa) Ida Hyang Widhi. Dan "Pinaka Andha Bhuvana" artinya banten merupakan refleksi dari wujud alam semesta atau Bhuvana Agung. selengkapnya