Artikel Terbaru

Yadnya, Bentuk Keterpanggilan Orang Bali

kategori: Upacara
Belakangan ini beberapa orang Bali mulai mengeluh kalau menyambut hari raya Bali. Mengeluh beratnya beban yang harus dipikul, fisik maupun materi. Membayangkan pekerjaan bertumpuk yang harus diselesaikan. Bisa tidak bisa harus selesai. Mereka mulai marah, merengut dan pada hari H di mana semua persiapan telah selesai, bukan kebahagiaan yang diperoleh. Anggota keluarga lainnya pada diam karena lelah dan jengkel mengingat kemarahan yang dilontarkannya. Akan teruskah tiap hari raya disambut dengan merasa beban? Bisakah merasakan bahwa Tuhan, leluhur tidak pernah minta disajikan yang ''wah,'' yang termegah? Yang diajarkan dan yang diharapkan, ''Dengan cara apa pun kamu sembah Aku, Aku terima''. selengkapnya

Membangun Keseimbangan Alam dan Manusia

kategori: Artikel Baru
Berbakti pada Tuhan harus didayagunakan untuk memotivasi diri masing-masing untuk memperlakukan alam dan manusia menurut hukum rta dan dharma. Tuhan telah menciptakan alam dengan hukum rta-nya. Sepanjang manusia tidak merusak dinamika hukum rta itu maka alam akan senantiasa lestari dan selalu menyediakan sumber kehidupan bagi semua makhluk hidup di bumi ini. Demikian juga sesama manusia wajib hidup untuk saling beryadnya sesuai dengan swadharma masing-masing. selengkapnya

Membangun Manusia Seutuhnya

kategori: Artikel Baru
Agama Hindu tidak melihat manusia dari sudut pandang rohani semata. Manusia harus digerakkan secara utuh dengan segala totalitasnya. Kalau badan kereta yang rusak, maka kereta itupun tidak dapat berjalan dengan baik oleh unsur yang lainnya. Demikian juga kuda yang menarik kereta haruslah kuda yang sehat. Di samping sehat, juga tidak binal sehingga dapat dikendalikan dengan mudah. selengkapnya

Omkara Panggilan Tuhan yang Pertama

kategori:
Penempatan bangunan suci di kiri-kanan Kori Agung atau Candi Kurung di Pura Penataran Agung Besakih memiliki arti yang mahapenting dan utama dalam sistem pemujaan Hindu di Besakih. Karena dalam konsep Siwa Paksa, Tuhan dipuja dalam sebutan Parama Siwa, Sada Siwa dan Siwa sebagai jiwa agung alam semesta. Sebutan itu pun bersumber dari Omkara Mantra. Apa dan seperti apa filosofi upacara dan bentuk bangunan di pura itu?. selengkapnya

Hidup Ini Berenang di Lautan Madu dan Racun

kategori: Artikel Baru
Semua ciptaan Tuhan kena hukum Rwa Bhineda. Tidak ada yang mutlak jelek dan mutlak baik. Apakah yang ada di dalam diri mansia atau bhuwana alit maupun yang ada di alam semesta atau bhuwana agung. Manusia sebagai ciptaan Tuhan sudah diberikan widya dan wiweka yaitu ilmu pengetahuan dan kemampuan untuk menganalisis. selengkapnya

Kamboja, Rambut Dewa Brahma

kategori: Artikel Pilihan
Kemampuan pohon ini untuk berbunga bahkan ketika ia sudah tidak berakar telah menjadikannya sebagai sebuah simbol kehidupan yang kekal. Dengan alasan ini umat Buddha dan Muslim menanam pohon tersebut didekat kuburan-kuburan pada kematian mereka. Kenyataan bahwa patung Sang Buddha diukir dari kayu pohon tersebut. Umat Hindu menganggapnya sebagai salah satu pohon tersuci dan menanamnya didekat pura-pura dengan bunga-bunganya yang dipersembahkan bagi Kamadewa, Dewa Cinta, dan adalah sebuah kesialan bila memotongnya. selengkapnya

Pada Hakekatnya Kita Semua Sama

kategori: Artikel Baru
Pada hakekatnya kita semua sama. Mahavakya "Tat tvam asi" menegaskan itu. Akan tetapi secara faktual, mengapa kita berbeda-beda satu-sama-lain? Mengapa ada laki-laki dan perempuan, ada yang pintar dan ada yang bodoh, ada yang cantik dan ada yang jelek, ada yang cacat dan yang sempurna, ada yang lahir dari rahim seorang ratu dan ada terlahir dari rahim pengemis, ada yang mulia ada yang nista, dan sejenisnya? Apa yang menyebabkan secara faktual kita berbeda satu-sama-lain? Apa yang menyebabkan terjadi penyimpangan dari hakekat itu? selengkapnya

Upacara Panca Yadnya Dalam Kehidupan Beragama

kategori:
Sejarah menyatakan, bahwa pada jaman dahulu kala di wilayah Nusantara Indonesia telah berdiri Kerajaan-Kerajaan Besar seperti salah satu di antaranya adalah Kerajaan Majapahit yaitu sebuah Kerajaan penganut Agama Hindu yang merupakan Kerajaan terbesar yang bisa menyatukan seluruh wilayahnya sampai ke Madagaskar. Pada jaman itu sudah ada hubungan dagang dengan negara Luar Negeri terutama dengan Negeri Campa, yang saat ini Negara Cina. selengkapnya

Tumpek Landep: Mengasah Rasa Mepertajam Rasio

kategori: Hari Suci
Kutipan dari teks Sundarigama di atas memberi kita pemahaman filosofis, betapa manusia hendaknya tak pernah lupa dengan Sang Hakekat. Parama Wisesa sebagai hakekat tunggal, asal muasal semua makhluk, keberadaannya selalu dalam keadaan dialektika, Ia Sang Hakekat suksma adanya. Ia berada tidak jauh dan tidak dekat, tidak bersatu dan tidak berpisah. Beliau berhak dalam kekuasaan untuk mengambil dan memberi. Dalam konsepsi filosofis sebagaimana kitab-kitab tattwa, Ia adalah Nir. selengkapnya

Kembalilah Kepada Tuhan

kategori: Artikel Baru
Setiap orang tidak bisa menghindari suka lara pati, yaitu kebahagiaan, penderitaan dan kematian. Pada waktu menikmati kesukaan umumnya orang lupa kepada Tuhan, tetapi bila penderitaan menimpa ataupun kematian mendekatinya orang baru teringat kepada Tuhan. Sejak lahir manusia diperkenalkan dengan isi dunia, dan asik bermain-main dengan isi duniawi. Tidak pernah memikirkan apalagi berterima kasih kepada pemilik daripada benda-benda itu. Sudah sepatutnyalah berburu kesenangan duniawi itu dikurangi dengan mengalihkan pandangan kepada Tuhan yang menciptakan alam semesta ini. Kesenangan akan benda-benda duniawi tidak akan pernah dapat dipuaskan dengan memenuhi kesenangan itu sendiri. Seperti menyiram api dengan minyak, api akan berkobar semakin besar. Setitik kesenangan yang kita nikmati selalu terdapat bibit penderitaan didalamnya. selengkapnya