Artikel Terbaru

Atasi Masalah Kehidupan dengan Ilmu

kategori: Artikel Baru
Membangun hidup sukses secara duniawi menurut Wrehaspati Tattwa 33 ini dengan cara belajar terus (dhyayana), menterjemahkan ilmu itu dalam praktek kehidupan (tarka jnyana) sampai mampu mewujudkan nilai tambah memberikan kontribusi pada kehidupan individual dan sosial (dana). Itulah ciri hidup sukses secara duniawi yang disebut wahya siddhi. selengkapnya

Menurunnya Bhakti dan Srada Umat Hindu

kategori: Artikel Baru
Telah lama penulis amati tentang keberadaan para Pejabat Hindu apakah mereka dijajaran ABRI, Sipil bahkan di BUMN atau Perusahaan bila telah memegang jabatan potensial apakah top leader atau stafnya banyak mulai menurun, lemah Bakti dan Sradanya terhadap agamanya, dimana mereka sudah tidak datang ke Pura dalam persembahyangan, tidak ikut dalam kegiatan keagamaan, mengikuti kegiatan sosial sudah sangat kurang. selengkapnya

Barong, Simbol Mengatasi Wabah

kategori: Artikel Pilihan
Dalam ajaran Hindu, Tuhan itu esa hal ini dinyatakan dalam kitab Rgveda maupun kitab-kitab Sastra Hindu lainnya. Tuhan Yang Mahaesa itu memiliki kemahakuasaan yang tiada terbatas. Manusia hanya terbatas kemampuannya memahami kemahakuasaan Tuhan yang tiada terbatas itu. selengkapnya

Hidup, Kesempatan Emas Perbaiki Karma

kategori: Artikel Baru
Sejatinya tujuan hidup umat Hindu adalah mencapai kebahagiaan, baik di alam sekala maupun niskala. Hidup merupakan kesempatan emas bagi umat untuk meningkatkan kualitas diri. Kerena itu, kesempatan emas ini hendaknya tidak disia-disiakan. Akan sangat berdosa apabila umat sengaja mengakhiri hidupnya dengan jalan bunuh diri. selengkapnya

Palasa, Rambut Dewa Brahma

kategori: Artikel Pilihan
Disebutkan berkali-kali dalam kitab suci Weda bahwa tiga rangkaian daunnya melambangkan Tritunggal Hindu dengan Brahma pada sisi kiri, Wisnu di tengah, dan Siwa pada sisi kanan. Ketika seorang anak laki-laki menjadi seorang Sadhu, ia diberi daun Palasa untuk dimakan dan tongkat yang terbuat dari kayu pohon Palasa. Bunga-bunga Palasa digunakan untuk membuat pewarna tidak permanen yang berwarna kuning muda atau oranye merah pekat. Para pemuja Siwa dan Wisnu mewarnai dahi mereka dengan pewarna tersebut. Dalam ceritera Mahabharata. Penasehat Jamadagni melaksanakan upacara persembahan bagi Dewa-Dewa di Palasvana atau hutan Palasa, suatu upacara yang diikuti oleh seluruh sungai. selengkapnya

Drestarastra: Ibarat Pohon yang Berbuah Keburukan

kategori: Artikel Pilihan
Tokoh Drestarasta digambarkan sebagai seorang tokoh yang sejak lahirnya sudah mempunyai cacat jasmani (buta)/berwatak tenang, pendengarannya sangat peka, dan mempunyai pejasaan yang tajam. Namun dalam hidupnya, ia selalu dihantui rasa cemas dan khawatir. Di samping itu, tidak sedikit sederetan tokoh-tokoh yang baik dan bijaksana hanya menyudutkannya. Hal ini karena perbuatan putra-putranya. Oleh sebab itu, tokoh Drestarastra dianggap sebagai "Pohon" yang berbuah keburukan. selengkapnya

Kekuatan Doa dan Praktek Religius

kategori: Artikel Baru
Hidup bisa menjadi saat-saat yang suram dan tidak mengenakan. Saat akal pikiran kita jauh dari Tuhan dan lekat dengan hal-hal duniawi. Ini tidak berarti bahwa kita harus menarik diri dari hal-hal yang bersifat duniawi. Namun penekanan utama sebaiknya diberikan kepada Tuhan dan memahami-Nya. Jika kita tidak memperhatikan ini, pencapaian duniawi menjadi tak berarti sama sekali. Siapapun yang tidak memberikan perhatian yang layak pada kehidupan bathiniah tidak dapat menikmati keduniawian (Jagadhita). selengkapnya

Spiritualitas Bagi Kedamain Dunia

kategori: Artikel Baru
Adalah suatu kesia-siaan atau kebodohan bila kita mencoba untuk mengukur besaran "niskala" dalam persepsi "sekala". Sebaliknya, kita akan melihat sisi astralnya atau sisi halusnya, bila sebuah fenomena sekala diamati dengan kacamata niskala. Spiritualitas, bertautan dengan yang bersifat metafisis atau niskala. Ini mesti jelas dulu bagi yang hendak melangkahkan kakinya ke dunia spiritual. selengkapnya

Misteri Mpu Kuturan

kategori: Artikel Pilihan
Mpu Kuturan adalah sebuah nama yang dikenal luas oleh masyarakat umat Hindu di Bali khususnya dan di seluruh Indonesia pada umumnya. Beliau hadir di Bali pada pemerintahan Udayana Warmadewa. Dikenal lewat sejumlah prasasti yang dikeluarkan oleh raja tersebut. Namun disamping itu dalam sejumlah lontar "Mpu Kuturan", kita mengenal juga seorang Mpu Kuturan yang berasal dari Majapahit. selengkapnya

Caru, Benarkah Untuk Melestarikan Alam

kategori: Upacara
Umat Hindu banyak sekali mempergunakan simbul-simbul dalam mengekspresikan keyakinannya kepada Hyang Widhi Wasa. Salah satunya adalah melalui upacara yadnya berupa Caru. Caru adalah salah satu bentuk Bhuta Yadnya yang dalam pelaksanaannya mempergunakan binatang sebagai korban. Secara filosofis caru dilaksanakan untuk mengharmoniskan alam. Realitas yang nampak dalam upacara ini mempergunakan binatang-binatang sebagai korban. Jumlah binatang yang dijadikan korban tergantung pada tingkatan yadnya yang dilaksanakan. selengkapnya