Artikel Terbaru

Pohon Beri (Bidara), Rambut Dewa Brahma

kategori: Artikel Baru
Pohon Beri adalah sebuah bagian dari ceritera rakyat di India Utara, khu-susunya di daerah Punjabi. Dianggap bahwa tidak baik menanam pohon ini di dalam rumah karena diperkirakan dapat membuat penghuninya berselisih. Suku Dukhban jani atau suku "Kesedihan" memindahkan pohon yang ada pada Kuil Emas di Amritsar yang dipuja oleh Suku Sikh. selengkapnya

Drupada dan Karma

kategori: Artikel Baru
Hakekat wayang sebagai simbul perwatakan manusia tampaknya agak sulit untuk dimengerti. Hal ini karena cerita wayang yang menggambarkan sikap hidup manusia yang beraneka ragam. Walaupun demikian, ke-anekaragaman itu sebenarnya telah diatur dengan jelas oleh dechotomi-dechotomi yang nyata. Sebutan tokoh pewayangan yang berbudi luhur misalnya, munculnya sebutan ini karena adanya tokoh berbudi angkara: tokoh pemberani karena adanya tokoh yang berwatak pengecut; tokoh yang jujur karena adanya tokoh yang berwatak penipu; dan sebagainya. selengkapnya

Makanlah Setelah Beryadnya

kategori: Artikel Baru
Upacara masaiban dalam tradisi umat Hindu di Bali sudah berlangsung sejak ratusan tahun. Namun sampai sekarang masih ada banyak perbedaan persepsi di kalangan umat Hindu tentang upacara sederhana itu. Upacara masaiban adalah tradisi untuk melakukan persembahan berupa sesajen atau banten setelah selesai memasak. Sesajen masaiban itu berbentuk sejumput nasi dengan menggunakan alas sepotong daun pisang atau sarana lain. Nasi itu dilengkapi lauk-pauk yang ada atau dengan sedikit garam saja. selengkapnya

Membangun Kesucian dengan Yoga

kategori: Artikel Pilihan
Kawasan suci adalah upaya menata ruang agar masyarakat dengan ruang yang ada dalam kawasan itu termotivasi untuk melakukan halhal yang disebut perilaku suci. Yang disebut perilaku suci itu adalah perilaku berdasarkan rta dan dharma. Rta adalah perilaka yang mematuhi dinamika hukum alam sehingga alam itu tidak terganggu hak azasi alaminya. Kawasan suci itu adalah ruang yang dapat berfungsi untuk mendorong umat manusia untuk berperilaku suc; sesuai dengan dharma. Perilaku berdasarkan rta adalah perilaku yang menjaga eksistensi alam menurut hak azasi alaminya. Sedangkan perilaku berdasarkan dharma adalah senantiasa menjaga dinamika perilaku berada pada garis dharma. Misalnya tidak merusak eksistensi Tri Chanda sebagaimana dinyatakan dalam mantra Rg Weda. selengkapnya

Tuhan Maha Besar

kategori: Artikel Baru
Sebagaimana bentuk anatomi dan fisiologinya, pikiran manusia juga mengalami parinama (evolusi). Manusia tidak sekadar tumbuh, berkembang, dan bereproduksi, tetapi juga ada dan menjadi (being and becoming). Pola pemikiran seperti ini juga terjadi pada penghayatan manusia terhadap hakekat keberadaannya, beserta sumber dari keberadaannya itu. selengkapnya

Dharma, Jalan Menuju Keabadian

kategori: Artikel Baru
Kita semua tahu bahwa tujuan hidup menurut ajaran Agama Hindu (baca : Veda) adalah untuk mencapai kebahagiaan di dunia dan di akhirat (Moksartham Jagadhita) dengan ^tenjadikan kebahagiaan di dunia (materi) sebagai tujuan sementara dan kebahagiaan di akhirat yang bersifat abadi sebagai tujuan akhir. Hal sebagaimana yang disebutkan dalam Catur Purusa Artha (Empat Tujuan Hidup Manusia), yaitu : Dharma, Artha, Kama dan Moksa. selengkapnya

Krisis Keanekaragaman

kategori: Artikel Baru
Dewasa ini dunia yang kita tempati sedang mengalami berbagai macam krisis. Ada krisis energi, krisis air, krisis sumber daya hayati, serta berbagai macam krisis lingkungan yang berawal dari ulah manusia. Kehidupan sosial manusia juga dilanda oleh situasi tersebut. Terdapat krisis kepribadian, krisis kepercayaan dan panutan, krisis kepemimpinan, serta sederet krisis yang lain, yang sebenarnya bermula dari krisis moral manusia. Dengan demikian manusialah yang menjadi penyebab beraneka warna krisis tersebut, dan manusia pula yang wajib untuk menikmatinya. selengkapnya

Niskama Karma

kategori: Artikel Baru
Bhagavad Gita menyerukan perbuatan tanpa pamerih, niskama karma, lebih dari sekedar kebajikan atau subha karma. Sebagai ajaran moral-etik luhur, dalam Karma Yoga dapat kita temukan jurus-jurus altruistis sejati. Seperti telah disinggung sebelumnya, motivasi yang melatari tindakan, merupakan unsur penentu kwalitas dari perbuatan itu sendiri. Para pekerja institusi-institusi sosial kemasyarakatan misalnya, kendati mereka tidak digaji dalam melakukan tindakan bajik, namun bilamana mereka melakukannya dengan harapan agar 'disebut sebagai orang-orang bajik', maka secara kwalitatif ini belum dapat disebut sebagai tanpa pamerih (niskama). selengkapnya

Panca Nidana

kategori: Artikel Baru
Di dalam beberapa kitab Ayur-veda dikatakan bahwa untuk mengetahui suatu penyakit secara jelas (nirnaya), baik dalam menegakkan diagnosis (rupa nidana) maupun prognosis (vyddhi laksana), diperlukan suatu pengetahuan khusus. Pengetahuan ini mencakup tentang proses perjalanan penyakit sampai penyembuhannya, yakni mulai dari penyebab penyakit (etiologi), proses perjalanan penyakit sampai prognosisnya. selengkapnya

Ratnakara Tersadarkan Oleh Kidung Suci Puja-puji Rama

kategori: Artikel Baru
Agama Hindu telah mengenalkan adanya Catur Yuga (empat zaman) yaitu: Kerthayuga, Tretayuga, Dwa-parayuga dan Kaliyuga. Dalam melakukan Yajna (pemujaan/upacara kurban suci) umat Hindu pada setiap yuga (zaman) caranya berbeda-beda mengingat situasi dan kondisi pada setiap zaman adalah juga berbeda-beda, manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya juga berbeda sesuai dengan zamannya, zaman dulu dan sekarang jelas berbeda, dulu manusia hidup dari berburu binatang, lalu bercocok tanam, kemudian menuju industrialisasi dan perdagangan. selengkapnya