Artikel Terbaru

Pisang, Rambut Dewa Brahma

kategori: Artikel Pilihan
Menurut legenda, pohon pisang membuahi dirinya sendiri tanpa penyerbukan silang. Maka pohon tersebut dianggap sebagai perwujudan Dewi Parwati. Di India Timur, di panggung-panggung pernikahan terdapat batang-batang pohon pisang pada sudut-sudutnya. Di daerah Ghat barat, pohon pisang dipercaya sebagai Nanda Dewi. Perwujudannya diukir pada batang pisang dan pada Bulan Kartika dihanyutkan ke sungai. Dalam Kitab Mahabharata, Kadalivana atau kebun pisang di Sungai Kubera-pushkarni adalah kediaman Dewa Kera Hanuman. selengkapnya

Mencari Kebenaran Sang Diri

kategori: Artikel Baru
Sebelum membahas "Kebenaran Sang Diri" dari dimensi Hindu, nampaknya menarik untuk mempelajari makna keberadaan manusia di dunia ini dari pemikiran-pemikiran Sartre. Filsuf Perancis, yang berdiri tegak mengusung teori filsafat eksistensialis. Apa yang menarik dari pemikirannya? Banyak, namun dalam sketsa dari "Sebuah Teori Emosi" tentang filsafatnya, manusia dihadapkan pada suatu realitas antara "ada dan ketiadaan". selengkapnya

Mengendalikan Nafsu Seks, Menurut Ajaran Hindu

kategori: Artikel Baru
Agama Hindu mengajarkan agar umat Hindu mengarahkan tujuan hidupnya pada empat tujuan hidup yang disebut Dharma, Artha, Kama, dan Moksha. Kama adalah dorongan hidup atau keinginan yang harus diwujudkan berdasarkan Dharma dan Artha. Swami Satya Narayana Kama menjadi salah satu tujuan hidup bukan berarti hidup ini mengikuti keinginan atau hawa nafsu. Kama sebagai tujuan hidup untuk mengubah Kama itu dari Wisaya Kama menuju Sreya Kama. Dari dorongan hidup untuk memenuhi tuntutan hawa nafsu (wisaya) beralih secara bertahap menuju Sreya Kama untuk membangun keinginan untuk dekat dengan Tuhan berdasarkan kasih sayang dan keikhlasan. selengkapnya

Pohon Beri (Bidara), Rambut Dewa Brahma

kategori: Artikel Baru
Pohon Beri adalah sebuah bagian dari ceritera rakyat di India Utara, khu-susunya di daerah Punjabi. Dianggap bahwa tidak baik menanam pohon ini di dalam rumah karena diperkirakan dapat membuat penghuninya berselisih. Suku Dukhban jani atau suku "Kesedihan" memindahkan pohon yang ada pada Kuil Emas di Amritsar yang dipuja oleh Suku Sikh. selengkapnya

Drupada dan Karma

kategori: Artikel Baru
Hakekat wayang sebagai simbul perwatakan manusia tampaknya agak sulit untuk dimengerti. Hal ini karena cerita wayang yang menggambarkan sikap hidup manusia yang beraneka ragam. Walaupun demikian, ke-anekaragaman itu sebenarnya telah diatur dengan jelas oleh dechotomi-dechotomi yang nyata. Sebutan tokoh pewayangan yang berbudi luhur misalnya, munculnya sebutan ini karena adanya tokoh berbudi angkara: tokoh pemberani karena adanya tokoh yang berwatak pengecut; tokoh yang jujur karena adanya tokoh yang berwatak penipu; dan sebagainya. selengkapnya

Makanlah Setelah Beryadnya

kategori: Artikel Baru
Upacara masaiban dalam tradisi umat Hindu di Bali sudah berlangsung sejak ratusan tahun. Namun sampai sekarang masih ada banyak perbedaan persepsi di kalangan umat Hindu tentang upacara sederhana itu. Upacara masaiban adalah tradisi untuk melakukan persembahan berupa sesajen atau banten setelah selesai memasak. Sesajen masaiban itu berbentuk sejumput nasi dengan menggunakan alas sepotong daun pisang atau sarana lain. Nasi itu dilengkapi lauk-pauk yang ada atau dengan sedikit garam saja. selengkapnya

Membangun Kesucian dengan Yoga

kategori: Artikel Pilihan
Kawasan suci adalah upaya menata ruang agar masyarakat dengan ruang yang ada dalam kawasan itu termotivasi untuk melakukan halhal yang disebut perilaku suci. Yang disebut perilaku suci itu adalah perilaku berdasarkan rta dan dharma. Rta adalah perilaka yang mematuhi dinamika hukum alam sehingga alam itu tidak terganggu hak azasi alaminya. Kawasan suci itu adalah ruang yang dapat berfungsi untuk mendorong umat manusia untuk berperilaku suc; sesuai dengan dharma. Perilaku berdasarkan rta adalah perilaku yang menjaga eksistensi alam menurut hak azasi alaminya. Sedangkan perilaku berdasarkan dharma adalah senantiasa menjaga dinamika perilaku berada pada garis dharma. Misalnya tidak merusak eksistensi Tri Chanda sebagaimana dinyatakan dalam mantra Rg Weda. selengkapnya

Tuhan Maha Besar

kategori: Artikel Baru
Sebagaimana bentuk anatomi dan fisiologinya, pikiran manusia juga mengalami parinama (evolusi). Manusia tidak sekadar tumbuh, berkembang, dan bereproduksi, tetapi juga ada dan menjadi (being and becoming). Pola pemikiran seperti ini juga terjadi pada penghayatan manusia terhadap hakekat keberadaannya, beserta sumber dari keberadaannya itu. selengkapnya

Dharma, Jalan Menuju Keabadian

kategori: Artikel Baru
Kita semua tahu bahwa tujuan hidup menurut ajaran Agama Hindu (baca : Veda) adalah untuk mencapai kebahagiaan di dunia dan di akhirat (Moksartham Jagadhita) dengan ^tenjadikan kebahagiaan di dunia (materi) sebagai tujuan sementara dan kebahagiaan di akhirat yang bersifat abadi sebagai tujuan akhir. Hal sebagaimana yang disebutkan dalam Catur Purusa Artha (Empat Tujuan Hidup Manusia), yaitu : Dharma, Artha, Kama dan Moksa. selengkapnya

Krisis Keanekaragaman

kategori: Artikel Baru
Dewasa ini dunia yang kita tempati sedang mengalami berbagai macam krisis. Ada krisis energi, krisis air, krisis sumber daya hayati, serta berbagai macam krisis lingkungan yang berawal dari ulah manusia. Kehidupan sosial manusia juga dilanda oleh situasi tersebut. Terdapat krisis kepribadian, krisis kepercayaan dan panutan, krisis kepemimpinan, serta sederet krisis yang lain, yang sebenarnya bermula dari krisis moral manusia. Dengan demikian manusialah yang menjadi penyebab beraneka warna krisis tersebut, dan manusia pula yang wajib untuk menikmatinya. selengkapnya