Artikel Terbaru

Merasakan Penderitaan Orang Lain

kategori: Artikel Baru
Tinggi rendahnya derajat seseorang tidak dapat diukur dari penampilan fisiknya. Misalnya, karena ia berpakaian yang mewah, berkendaraan mahal, makan di restoran yang mewah, menginap di hotel berbintang lima. Berpendidikan tinggi di luar negeri. Bepergian dengan pesawat terbang dengan kursi VIP. Menyelenggarakan upacara agama yang mewah dan gemerlapan atau karena ia keturunan bangsawan. selengkapnya

Sakuni, Ahli Pengasut

kategori: Artikel Baru
Sakuni adalah patih Negara Astina. Badannya kurus, mukanya pucat kebiru-biruan seperti pemadat candu. Caranya berbicara "klemak-klemek" menjengkelkan (Mulyono, 1989). Orang yang mempunyai ciri fisik seperti itu cenderung berbuat tidak suci, senang menipu, munafik, senang memfitnah, senang menghasut, senang mencelakakan orang lain, dan iri hari. Walaupun Sakuni kelihatannya membantu Kurawa, tetapi sebetulnya tidak. Dapat dipastikan selama berada di Astina, ia selalu mempunyai pikiran yang tidak baik (amanachika). Dibagian gelap jiwa Sakuni selalu menyimpan suatu dorongan sadis, yaitu "biarlah orang lain menderita". Shrii Shrii Anandamurti mengatakan: Di setiap desa dimana juga, kita akan menemukan orang-orang yang memiliki kecenderungan-kecenderungan kasar yaitu ingin mempertahankan dirinya, tetapi orang lain yang harus dikorbankan. selengkapnya

Membangun Manusia Seutuhnya dan Seluruhnya

kategori: Artikel Baru
Konsep pembangunan manusia di Indonesia tersebut pernah ditetapkan dengan rumusan "Membangun Manusia Seutuhnya dan Seluruhnya". Konsep pembangunan manusia ini sudah sangat tepat. Cuma di zaman reformasi ini hal tersebut semakin ditinggalkan baik dalam wacana maupun dalam realitanya. Membangun manusia seutuhnya dan seluruhnya yang pernah dicanangkan pemerintah di masa lalu, kini semakin tidak memdapat perhatian dari berbagai pihak. Membangun manusia seutuhnya dan seluruhnya menurut ajaran Hindu harus diletakkan pada landasan yang benar dan kuat. selengkapnya

Pahala Berbakti Pada Ibu, Ayah dan Guru

kategori: Artikel Baru
Hidup tertib dan teratur di dunia ini sebagai salah satu syarat untuk mewujudkan kebahagiaan lahir batin. Pertama, berbakti pada ibu. Imam lokam matrbhaktya artinya mereka yang sungguh-sungguh berbakti pada ibunya dengan mengabdikan diri pada ibunya, kebahagiaan hidup di dunia ini atau mencapai jagathita sebagai pahalanya. Secara nyata, ibulah atau deha mata yang melahirkan kita. Dalam Nitisastra VIII.3 menyatakan, sang ametwaken, sang maweh bhinojana. Artinya yang melahirkan dan yang memberikan anak itu. Maka itulah swadharma atau kodratnya ibu. Meskipun di balik itu ada peran ayah. Swami Satya Narayana menyatakan, sesungguhnya manusia penghuni bumi ini memiliki lima ibu yaitu Deha Mata, Dewa Mata, Weda Mata, Bumi Mata dan Desa Mata. selengkapnya

Meningkatkan Pengalaman Beragama

kategori: Artikel Baru
Gunanya Sastra suci (Veda) itu untuk diketahui dan diamalkan dalam Siila dan Aacaara. Siila adalah prilaku yang berasal dari pembawaan lahir (swabhawa), Aacaara, mentradisikan pengamalan ajaran suci (Veda) dalam kehidupan bersama dalam masyarakat. selengkapnya

Banten Sebagai Bahasa Simbol

kategori: Upacara
Banten dalam lontar Yajna Prakrti memiliki tiga arti sebagai simbol ritual yang sacral. Dalam lontar tersebut banten disebutkan: Sahananing Bebanten Pinaka Raganta Tuwi, Pinaka Warna Rupaning Ida Bhattara, Pinaka anda Bhuvana. Dalam lontar ini ada tiga hal yang dibahasakan dalam wujud lambang oleh banten yaitu : "Pinaka Raganta Tuwi" artinya banten itu merupakan perwujudan dari kita sebagai manusia. "Pinaka Warna Rupaning Ida Bhatara" artinya banten merupakan perwujudan dari manifestasi (prabhawa) Ida Hyang Widhi. Dan "Pinaka Andha Bhuvana" artinya banten merupakan refleksi dari wujud alam semesta atau Bhuvana Agung. selengkapnya

Arti Sarana Persembahyangan

kategori: Upacara
Untuk melaksanakan sembahyang perlu adanya sarana sembahyang. Tanpa sarana, pelaksanaan persembahyangan rasanya bakti kita kepada Ide Sang Hyang Widhi kurang begitu hidmat. Sarana persembahyangan berasal dan isi alam semesta, berarti manusia menghaturkan suksemannig idepnya atas berlimpah ruahnya anugerah Tuhan. Sarana pada dasarnya berupa material seperti: 1. Bunga, daun, buah-buahan serta hasil bumi lainnya. 2. Api/Dupha. 3. Air (tirtha) ketiga sarana pokok tersebut mempunyai fungsi masing-masing. selengkapnya

Mereka yang Dapat Disebut ''Bhakta''

kategori: Artikel Baru
Orang yang berbhakti pada Tuhan disebut bhakta. Orang yang layak dapat disebut penyembah Tuhan yang disebut bhakta itu dinyatakan dalam pustaka suci Bhagawad Gita XII sloka 13 dan 14. Dalam Bhagawad Gita tersebut penyembah Tuhan yang baik disebut bhakta. Istilah bhakta ini dinyatakan dalam Bhagawad Gita XII. 14 baris ke 4 sbb.: Yo mad bhaktah sa me priyah. Artinya, ia sesungguhnya bhakta-Ku yang terkasih. Mereka yang disebut bhakta itu adalah yang samtusta atau selalu puas secara rokhani mensyukuri kenyataan hasil kerja yang dilakukan. selengkapnya

Sekta dan Sampradaya dalam Agama Hindu

kategori: Artikel Baru
Denominasi Hindu yang utama adalah Waisnavaisme, Sivaisme dan Saktaisme. Perbedaan terletak pada istadewata yang dipuja, derajat dari jalan untuk mencapai tujuan (pandangan masing-masing atas tiga yoga). Siva Siddhanta memberikan nilai yang sama jenis yoga. Vaisnava mengganggap karma dan jnana sebagai tangga untuk jalan bhakti. Sementara Smarta berpendapat moksha hanya dicapai melalui jnana yoga. selengkapnya

Catur Asrama untuk Pencegahan HIV/AIDS

kategori: Artikel Pilihan
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah mampu mengubah pola pikir dan tatanan kehidupan manusia. Jika pada zaman dahulu wawasan pemikiran manusia masih bersifat kedaerahan, belakangan ini hasil-hasil perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah mendorong seseorang untuk berpikir dengan wawasan seluas-luasnya. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah mendorong pengembangan sarana transportasi, sehingga mampu memenuhi segala keinginan manusia untuk menjelajahi seluruh belahan dunia. Semua kemajuan tersebut pada akhirnya telah membawa dampak pada pola pikir/kecenderungan yang menganggap dunia ini sebagai satu-kesatuan yang integral, di mana antara satu belahan dunia dengan belahan dunia lainnya tidak lagi dibatasi oleh kondisi geografis yang selama ini menjadi pembatas dalam komunikasi antarorang-orang di satu wilayah tertentu dengan pihak-pihak yang berdiam pada wilayah tertentu lainnya. Kecenderungan ini dikenal dengan istilah kecenderungan global. selengkapnya