Artikel Terbaru

Harmonis dalam Keberagaman

kategori: Hari Suci
Dengan melaksanakan Catur Brata Penyepian, yaitu tidak bepergian (amati lelungan), tidak bekerja (amati karya), tidak menyalakan api (amati gni), dan tidak mengumbar kesenangan (amati ielanguan), terciptalah suasana sepi dan hening di dalam keluarga. Ditambah lagi dengan mona brata (tidak berbicara) dan upawasa (puasa makan dan minum), maka semakin khidmatlah suasana penyambutan tahun baru tersebut. selengkapnya

Candi dan Relevansinya Kini

kategori: Artikel Baru
Sebagai umat Hindu dalam melaksanakan persembahyangan kita menghadaf ke arah bangunan yang disebut dengan padmasana, yaitu simbol tempat melinggihnya Sang Hyang Widhi dihadapan uiriat-Nya. Bangunan Padmasana berbentuk seperti tugu, bagian bawah terdapat hiasan kura-kura yang dililit oleh 2 ekor naga, di bagian tengah dihias dengan ukir-ukiran yang milah dan seringkaii dilengkapi dengan arca-arca di setiap sudutnya. Sedangkan - di bagian atas berbentuk kursi dengan bagian sandaran tangannya dihias dengan 2 ekor naga. selengkapnya

Nyikut Raga dengan Karmaphala

kategori: Artikel Pilihan
Karmaphala berarti buah perbuatan. Setiap perbuatan pasti akan mendatangkan hasil. Sebagaimana seorang petani yang menanam padi, maka padilah yang akan dipanen. Jika menanam jagung maka jagunglah yang akan dipetik. Demikian pula halnya setiap perbuatan baik akan menghasilkan buah yang baik, atau sebaliknya hasil yang buruk adalah akibat dari perbuatan yang buruk. Tiada satu pun di alam semesta ini akan luput dari hukum karmaphala, karena setiap kerja akan menampakkan hasilnya. Jika tidak ada sebab tak mungkin akan ada hasil. Inilah hukum sebab-akibat yang merupakan keyakinan yang sangat mendasar dalam ajaran agama Hindu. selengkapnya

Siwa Nataraja, Koreografer dan Kreativitas

kategori: Artikel Baru
Siwa Nataraja adalah Siwa dalam wujud sedang menari. Siwa adalah 'penari kesadaran kosmis. Siwa adalah rajanya penari, pencipta tari-tarian yang terindah, terdahsyat dari segala jenis tarian yang ada. Karenanya, Siwa disebut sebagai sumber dari mana kesadaran dan kreativitas kesenian menyebar (ngebek) dan kepadanya menyublin (ngingkes) di dunia ini. Siwa menari untuk kemakmuran, kesejahteraan dan kedamaian £ dunia; dan yang paling penting adalah untuk melepaskan jiwa individu dari segala ketergantungan atau belenggu duniawi atau oleh kekuatan maya (ilusi) selengkapnya

Prasada: Anugrah Nyata dari Tuhan

kategori: Upacara
Prasada adalah anugrah yang memberikan kedamaian, yang merupakan makanan suci yang sucah dipersembahkan kepada Tuhan. Selama melakukan pemujaan, para pemuja biasanya mempersembahkan nasi putih, buah-buahan, gula kelapa, dan bahan-bahan semacam itu kepada Tuhan, sesuai dengan kemampuannya. Selelah aneka makanan, minuman dan buah-buahan ini dipersembahkan kepada Tuhan, kemudian dibagikan diantara anggota keluarga, atau jika di pura akan dibagikan kepada para bhakta di pura. selengkapnya

Catur Purusa Artha dalam Serat Wedhatama

kategori: Artikel Baru
Jawa sebagai sentral perkembangan Hindu di Indonesia, telah melahirkan banyak karya-karya besar dari Resi-resi agung seperti lontar-lontar tatwa, kekawin-kekawin dan banyak lagi yang lain yang punya nuansa Religius, etis, moralis dan juga filosopis. Seiring dengan perkembangan jaman, dimana Hindu mulai digeser oleh agama-agama lain, kontribusi Hindu terhadap perkembangan tradisi di Jawa tetap besar. Ajaran-ajaran Hindu masih banyak mewarnai pola pikir para sesepuh atau penglingsir Jawa selengkapnya

Penghayatan Terhadap Kemulian Manusia

kategori: Artikel Baru
Setiap manusia di dunia ini, apapun agamanya, mempunyai tujuan hidup yang hendak dicapai. Ada yang menyebutkan agar dapat hidup bahagia di dunia ini dan bahagia juga di dunia akhirat. Ada yang mengatakan agar mendapatkan kebahagiaan di jagat raya ini dan juga kebahagiaan di nirwana. Apapun istilahnya, tujuannya adalah agar selama hidup di mercapada (dunia ini) selalu dalam keadaan bahagia, demikian pula kalau sudah meninggal (mendapatkan kebahagiaan yang abadi). Namun demikian, cara orang mencapai kebahagiaan itu sangat beragam. Karena itu pendekatannya pun berbeda-beda sesuai dengan pandangan hidup orang itu, atau katakanlah karena agama yang dianutnya selengkapnya

Makna Upacara Magedong-Gedongan

kategori: Upacara
Kebudayaan Bali merupakan satu sosok kebudayaan yang unik dengan jati diri yang khas. Jati diri tersebut merupakan rajutan fisik, simbol, kelembagaan dan gaya yang bersifat lokal, terpadu dengan sistim kepercayaan, sistim filosofis yang menekankan sifat ekonomis yang dijiwai agama Hindu. Masyarakat Bali masa kini sebagai refleksi masyarakat transpormatif yang bergerak semakin heterogen dengan dua dikotomi kebudayaan yaitu : Kebudayaan Tradisional dan Kebudayaan Modern. Disisi lain, Kebudayaan Bali mencakup unsur-unsur yang sangat banyak beragam, salah satu diantaranya adalah unsur upacara. selengkapnya

Pohon Bilva, Rambut Dewa Brahma

kategori: Artikel Pilihan
Pohon Bilva disucikan untuk Dewa Siwa dan karena sebuah sesaji yang terbuat dari daun-daun tersebut adalah suatu ritual yang wajib, pohon ini selalu ditanam didekat kuil Dewa Siwa. Bilvadandin, Ia yang memiliki sebuah tongkat yang terbuat dari kayu Bilva, adalah nama lain dari Dewa Siwa. selengkapnya

Gedhang Ayu Pejati Suku Jawa

kategori: Upacara
Ini adalah upakara utama bagi suku Jawa. Kalau orang Bali punya Pejati. Upakara ini memiliki makna filsafat sebagai stana Sang Hyang Widhi. Cara merangkainya lebih mudah dibandingkan merangkai Pejati. Dasar dari upakara ini Daun Dhadhap Srep sejumlah ganjil, saya pilih 5 kadang 7. Dhadhap Srep sebagai perlambang penyerap karunia Tuhan. selengkapnya