Artikel Terbaru

Galungan: Dari Simbol Menuju Aktualisasi Diri

kategori: Hari Suci
Sampai saat ini masih ada beberapa desa tua di Bali tidak pernah melaksanakan perayaan Galungan karena mereka menganggap Galungan sebagai peringatan jatuhnya Bali ke tangan bala tentara Majapahit. Sedangkan, menurut isi lontar Purana Bali Dwipa, perayaan Galungan pertama kali di Bali pada Purnama Kapat, Budha Kliwon Dunggulan, tahun Saka 804 (902 M); jauh sebelum jatuhnya Bali ke tangan Majapahit pada tahun 1265 Saka (1343 M). Dengan demikian, alasan untuk tidak merayakan Galungan seperti tersebut di atas hanyalah kesalahtafsiran. selengkapnya

Rudra dan Samudra

kategori: Artikel Baru
Ketika kita melaksanakan Siwaratri di Pura Luhur Uluwatu kita menyadari bahwa kita berada di atas samudra. Pura Sad Kahyangan dan juga Dangkahyangan ini memang berdiri di atas sebuah bukit kapur yang menjorok ke samudra Hindia. Pura yang sangat disucikan ini adalah salah satu pura yang senantiasa dikunjungi oleh orang-orang suci, dan terakhir dibangun kembali oleh Danghyang Nirartha. Beliau yang dikenal sebagai pembaharu dan pemberi pencerahan agama Hindu di Bali dengan mewujudkan konsep padma, telah menjadikan tempat ini sebagai tempat moksa. selengkapnya

Kala dan Bala

kategori: Artikel Baru
Merayakan Hari Galungan pertama-tama mengajak kita mengingat apa yang disebut sebagai Kala Tiga. Memang sejak hari Minggu sampai hari Selasa pada Wuku Dungulan tercantum hari Kala (bagian dari Astawara), sehingga sejak hari Minggu tersebut dikatakan Sang Kala Tiga turun yaitu Kala Dungulan, Kala Amangkurat dan Kala Galungan. Semua ini mengingatkan kita betapa kita diajak untuk merenungkan kebesaran Sang Pencipta atau Hyang Siwa, yang dinyatakan memiliki putra Kala. Dalam berbagai literatur Hyang Siwa juga disebut sebagai Maha Kala. selengkapnya

Galungan, Semua Menikmati Kemenangan

kategori: Artikel Baru
Bagaimana Anda memaknai kemenangan selama ini? Apakah kemenangan mesti berarti mengalahkan atau menundukkan orang lain, makhluk lain atau alam? Kalau Anda memaknainya demikian, maka Anda harus terus-menerus berjuang seumur-hidup Anda untuk itu, dimana setiap kemenangan yang Anda peroleh itu bersifat parsial, temporer, dan oleh karenanya semu. Bukan kemenangan sejati. Ia setiap waktu siap berbalik menjadi kekalahan. selengkapnya

Makna Sesajen dalam Ma'toratu

kategori: Artikel Baru
Agama Hindu Alukta memandang upacara keagamaan, diantaranya, sebagai suatu upaya untuk membangun dan melestarikan hubungan yang harmonis, tidak hanya dengan Puang Matua (Tuhan), Dewata (Dewa), Bombo Tomate (Leluhur), Tomasagala (Roh halus), dengan alam, tetapi juga dengan sesamanya. Keharmonisan dengan sesama manusia diwujudkan dalam upacara keagamaan yang disebut ma'toratu atau ma'tosae. Upacara ini dilaksanakan tatkala ada tamu yang pertama kali berkunjung ke suatu keluarga tertentu atau ke suatu kampung. Selain itu, juga tatkala ada bayi baru lahir. selengkapnya

Tugas Ilmuan Membersihkan Bahasa dengan Pikiran

kategori: Artikel Baru
Untuk mencegah adanya enam bahaya domistik seperti ketidakadilan, ke-sewenang-wenangan, arogansi kekuasaan, arogansi kekayaan, arogansi intelektual dan keberingasan sosial semuanya itu menjadi tugas semua pihak. Untuk mencegaTi agar jangan ada pihak-pihak yang merasa benar sendiri. Kenyataan yang masih jauh dari kebenaran tidak mudah memprosesnya untuk mencapai kebenaran. Dalam hidup ini selalu ada proses merubah kenyataan menuju harapan yang dicita-citakan. selengkapnya

Galungan dan Durga Puja

kategori: Artikel Baru
Hari Raya Galungan menempati posisi yang istimewa di dalam sistem rerainan agama Hindu di Bali. Hari raya ini dilaksanakan setiap 210 hari atau setiap wuku Dungulan (Galungan), tepatnya Buddha Kliwon Dungulan, enam bulan menurut sistem kalender Wuku (Kalender Jawa-Bali). Sering dikatakan sebagai rerainan gumi dan tidak kena sebelan atau cuntaka oleh adanya kamatian. Umat Hindu menyambut hari ini dengan serangkaian upacara sejak Tumpek Wariga hingga Buddha Keliwon Pahang. Jadi, rentang waktunya 42 hari. Ketika Galungan bertepatan dengan tilem atau purnama, maka Galungan mendapatkan perhatian yang khusus. Artinya, pelaksanaannya tidak hanya memperhatikan sistem kalender wuku, tetapi sistem kalender solar-lunar (surya-chandra pramana). selengkapnya

Kontroversi Tajen dalam Upacara Agama Hindu di Bali

kategori: Artikel Pilihan
Ada dua hal yang menjadi alasan tajen bertentangan dengan agama Hindu. Pertama, tajen adalah judian. Agama Hindu dengan tegas menampik judian. Kedua, tajen adalah perbuatan yang mengandung unsur himsa karma (perbuatan menyakiti makhluk lain); dalam hal ini ayam. Maka jelaslah, baik dari sudut sosial maupun filosofi tajen bertentangan dengan agama Hindu. selengkapnya

Pentingnya Menu Vegetarian Saat Bersekolah

kategori: Artikel Baru
Seperti diketahui tubuh manusia terdiri elemen padat, cair dan gas. Yaitu (bumi), apah (air), teja (api), vayu (udara) dan akasha (eter/gas). Ini yang disebut pancha-mahabutha. Elemen tubuh manusia ini dalam ayurweda disebut dosha : vata (vayu/ udara), pitta (panas/agni) dan kapha (zat cair/padat). Manusia yang sehat saat ketiga unsur dosha itu dalam keadaan stabil secara fisik. Yang lain menyebut sehat sebagai keseimbangan satwam, rajas, tamas. Sehat dalam ayurweda disebutkan: "sama dosha, sama agnisca, sama dathu malakriya. Prasanam atmaen-driyah, manah". Sehat bukan hanya bugar secara fisik namun juga sehat secara abstrak dalam wujud fikiran, rohani/psikologis. selengkapnya

Penyucian Harta Melalui Dana Punia

kategori: Artikel Baru
Tiga paham yang melekat dalam kehidupan manusia pada zaman kali, yakni konsumerisme, hedonisme dan materialisme. Konsumerisme adalah paham atau gaya hidup yang menganggap barang-barang mewah sebagai ukuran kebahagiaan, kesenangan, bahkan ukuran kesuksesan dalam hidup. Konsumerisme juga bisa diartikan sebagai gaya hidup yang tidak hemat. Hedonisme adalah kesenangan atau kenikmatan menjadi tujuan hidup manusia. Materialisme adalah pandangan hidup yang mencari segala sesuatu berlandaskan kebendaan semata dengan menge-nyampingkan segala sesuatu yang bersifat nonmateri, seperti jiwa, roh, cinta, dan yang sejenisnya. Orang-orang yang hidup berorientasi pada materi disebut materialis. selengkapnya