Artikel Terbaru

Makna Upacara Magedong-Gedongan

kategori: Upacara
Kebudayaan Bali merupakan satu sosok kebudayaan yang unik dengan jati diri yang khas. Jati diri tersebut merupakan rajutan fisik, simbol, kelembagaan dan gaya yang bersifat lokal, terpadu dengan sistim kepercayaan, sistim filosofis yang menekankan sifat ekonomis yang dijiwai agama Hindu. Masyarakat Bali masa kini sebagai refleksi masyarakat transpormatif yang bergerak semakin heterogen dengan dua dikotomi kebudayaan yaitu : Kebudayaan Tradisional dan Kebudayaan Modern. Disisi lain, Kebudayaan Bali mencakup unsur-unsur yang sangat banyak beragam, salah satu diantaranya adalah unsur upacara. selengkapnya

Pohon Bilva, Rambut Dewa Brahma

kategori: Artikel Pilihan
Pohon Bilva disucikan untuk Dewa Siwa dan karena sebuah sesaji yang terbuat dari daun-daun tersebut adalah suatu ritual yang wajib, pohon ini selalu ditanam didekat kuil Dewa Siwa. Bilvadandin, Ia yang memiliki sebuah tongkat yang terbuat dari kayu Bilva, adalah nama lain dari Dewa Siwa. selengkapnya

Gedhang Ayu Pejati Suku Jawa

kategori: Upacara
Ini adalah upakara utama bagi suku Jawa. Kalau orang Bali punya Pejati. Upakara ini memiliki makna filsafat sebagai stana Sang Hyang Widhi. Cara merangkainya lebih mudah dibandingkan merangkai Pejati. Dasar dari upakara ini Daun Dhadhap Srep sejumlah ganjil, saya pilih 5 kadang 7. Dhadhap Srep sebagai perlambang penyerap karunia Tuhan. selengkapnya

Tradisi Agama Membangun Hidup Bahagia

kategori: Artikel Baru
Dalam pustaka Sarasamuscaya 260 dinyatakan bahwa ajaran suci Weda sabda Tuhan itu harus ditradisikan dengan istilah "Veda abhyasa". Isi Weda adalah kebenaran yang kekal abadi atau disebut Sanatana Dharma. Tetapi penerapannya oleh umat dengan konsep Nutana. Artinya tradisi itu harus terus menerus diperbaharui agar senantiasa segar dan membahagiakan. Artinya ada proses peremajaan terus-menerus mengikuti perkembangan jaman. Yang utama adalah agar kebenaran Weda yang kekal abadi itu terus-menerus dapat diterapkan sesuai dengan kebutuhan zaman. Dengan demikian tidak ada jaman yang tidak berpegang dengan kebenaran Weda tersebut. selengkapnya

Panaturan: Kitab Suci Hindu Kaharingan

kategori: Artikel Pilihan
Agama Hindu sudah berusia ribuan tahun. Diperkirakan telah ada sejak 5 ribu tahun yang lalu. Agama ini mula-mula dianut oleh masyarakat India di sepanjang sungai Sindu. Kemudian ajaranNya menyebar ke seluruh pelosok dunia. Sebagai sebuah agama memiliki pula kitab suci yang bernama Weda. Kitab suci Weda ini terbagi atas dua kelompok besar, yakni kitab Weda, Sruti dan Weda Smerti. Kitab Weda Sruti terbagi lagi atas 3 kelompok, yakni kelompok Kitab Suci Mantra, Brahmana, dan Upanishad. Yang termasuk di dalam kelompok kitab Mantra adalah Kitab Rig Weda, Sama Weda, Yajur Weda dan Atharwa Weda. selengkapnya

Sorga dan Neraka

kategori: Artikel Baru
Hampir setiap ajaran agama di muka bumi ini mengenal adanya Sorga dan Neraka, tetapi hanya ajaran Hindu yang mengenal Moksa. Apakah Sorga dan Neraka itu merupakan sebuah tempat? Kalau merupakan sebuah tempat, pertanyaan kita berikutnya adalah: di manakah tempat itu berada? Benarkah Sorga dan Neraka itu ada? Bagaimanakah keadaan tempat-tempat tersebut? Siapakah yang sudah pernah ke sana dan mau menceritakannya? selengkapnya

Kelapa, Rambut Dewa Brahma

kategori: Artikel Pilihan
Pada Tahun Baru Hindu, diangpap menguntungkan bila melihat sebuah kelapa, maka salah satu dari matanya akan terbuka. Orang Benggala percaya bahwa buah kelapa mempunyai mata dan tidak akan pernah jatuh menimpa kepala seseorang yang lewat dibawah pohon itu. Di Gujarat, pohon Kelapa adalah keluarga Dewa. Masyarakat Muslim melemparkan kelapa yang terbelah dan limau melewati kepala sepasang pengantin untuk menakut-nakuti roh-roh jahat. Di India Barat, buah-buah kelapa dibuang ke laut pada saat mendekati musim hujan untuk memberi sesaji dan menenangkan air laut. selengkapnya

Pemujaan dan Persembahyangan

kategori: Artikel Baru
Mengamati hiruk-pikuk sementara umat beragama belakangan ini, dimana ada yang mengaku dan mengklaim diri sebagai Nabi yang kemudian didakwa sebagai penganut aliran sesat, ada majelis umat yang menjatuhkan fatwa bersalah dan pelarangan bagi yang bersembahyang menggunakan bahasa Indonesia, dan entah apa lagi nantinya, tidaklah terlalu aneh bila itu memunculkan pertanyaan di benak tak sedikit orang tentang : Apakah sesungguhnya pemujaan atau persembahyangan itu ?; Mengapa bersembahyang harus begini atau begitu, harus merujuk kitab ini ataupun kitab itu, dan yang serba harus lainnya?. selengkapnya

Pura Penataran Agung Peed

kategori: Artikel Pilihan
Secara rasional maupun para penganut kepercayaan yang hidup pada zaman Megalithik itu menaruh perhatian yang sungguh-sungguh terhadap terpeliharanya kesuburan tanaman, binatang tumbuh-tumbuhan lainnya yang ada di bumi ini. Mereka mengharapkan kesuburan senantiasa terpelihara sehinga dapat memberi kenikmatan pada kehidupan, sungai yang bening, air pancuran yang jernih akan memberi kesuburan kepada masyarakat. Kesuburan yang terpelihara dengan baik dengan usaha yang benar-benar jernih akan memberi kesuburan kepada mereka sekalian. selengkapnya