Artikel Terbaru

Migrasi Galungan

kategori: Hari Suci
Galungan adalah ritual keagamaan Hindu yang dilaksanakan secara rutin setiap Budha Kliwon Dungulan. Rutinitas ini menandai terjadinya perulangan religiusitas. Artinya, umat Hindu telah lama melaksanakan hari raya Galungan yang dihadirkan kembali pada ruang-waktu sakral. Kehadiran Yang Sakral dalam ritual agama menegaskan ciri religiusnya sekaligus membedakannya denaan aktivitas rutin lainnya yang bersifat profan. Oleh karena itu. perayaan Galungan dapat dipahami dalam dimensi religiusitas umat Hindu se-hingga tidak menjadi tradisi yang kaku dan beku. apalagi nihil makna. selengkapnya

Berkaca Pada Penjor

kategori: Artikel Baru
Mitos Toh Langkir sebagai penguasa gunung tertinggi di Bali sering didengar, begitu pula dengan cerita Anjani sebagai pemilik Rinjani. Toh Langkir maupun Anjani, keduanya adalah analog ayah dan ibu. Sebab, ibu menjadi dasar pemujaan sementara ayah menjadi tujuan pemujaan. Dasar dan tujuan tidaklah dapat dipisahkan keduanya merupakan dualisme yang tidak dapat berdiri sendiri. selengkapnya

Sejarah Wayang Beber

kategori: Artikel Pilihan
Awal mula pewayangan adalah Wayang Watu (batu) pada abad ke 9, atau wayang yang terukir pada dinding relief candi-candi, kemudian berkembang menjadi wayang rontal. Hal ini terdapat pada Serat Sastramiruda tertulis Sengkalan Gambaring Wayang Wolu, yang berarti 861 Saka atau 939 Masehi. selengkapnya

Galungan: Dari Simbol Menuju Aktualisasi Diri

kategori: Hari Suci
Sampai saat ini masih ada beberapa desa tua di Bali tidak pernah melaksanakan perayaan Galungan karena mereka menganggap Galungan sebagai peringatan jatuhnya Bali ke tangan bala tentara Majapahit. Sedangkan, menurut isi lontar Purana Bali Dwipa, perayaan Galungan pertama kali di Bali pada Purnama Kapat, Budha Kliwon Dunggulan, tahun Saka 804 (902 M); jauh sebelum jatuhnya Bali ke tangan Majapahit pada tahun 1265 Saka (1343 M). Dengan demikian, alasan untuk tidak merayakan Galungan seperti tersebut di atas hanyalah kesalahtafsiran. selengkapnya

Rudra dan Samudra

kategori: Artikel Baru
Ketika kita melaksanakan Siwaratri di Pura Luhur Uluwatu kita menyadari bahwa kita berada di atas samudra. Pura Sad Kahyangan dan juga Dangkahyangan ini memang berdiri di atas sebuah bukit kapur yang menjorok ke samudra Hindia. Pura yang sangat disucikan ini adalah salah satu pura yang senantiasa dikunjungi oleh orang-orang suci, dan terakhir dibangun kembali oleh Danghyang Nirartha. Beliau yang dikenal sebagai pembaharu dan pemberi pencerahan agama Hindu di Bali dengan mewujudkan konsep padma, telah menjadikan tempat ini sebagai tempat moksa. selengkapnya

Kala dan Bala

kategori: Artikel Baru
Merayakan Hari Galungan pertama-tama mengajak kita mengingat apa yang disebut sebagai Kala Tiga. Memang sejak hari Minggu sampai hari Selasa pada Wuku Dungulan tercantum hari Kala (bagian dari Astawara), sehingga sejak hari Minggu tersebut dikatakan Sang Kala Tiga turun yaitu Kala Dungulan, Kala Amangkurat dan Kala Galungan. Semua ini mengingatkan kita betapa kita diajak untuk merenungkan kebesaran Sang Pencipta atau Hyang Siwa, yang dinyatakan memiliki putra Kala. Dalam berbagai literatur Hyang Siwa juga disebut sebagai Maha Kala. selengkapnya

Galungan, Semua Menikmati Kemenangan

kategori: Artikel Baru
Bagaimana Anda memaknai kemenangan selama ini? Apakah kemenangan mesti berarti mengalahkan atau menundukkan orang lain, makhluk lain atau alam? Kalau Anda memaknainya demikian, maka Anda harus terus-menerus berjuang seumur-hidup Anda untuk itu, dimana setiap kemenangan yang Anda peroleh itu bersifat parsial, temporer, dan oleh karenanya semu. Bukan kemenangan sejati. Ia setiap waktu siap berbalik menjadi kekalahan. selengkapnya

Makna Sesajen dalam Ma'toratu

kategori: Artikel Baru
Agama Hindu Alukta memandang upacara keagamaan, diantaranya, sebagai suatu upaya untuk membangun dan melestarikan hubungan yang harmonis, tidak hanya dengan Puang Matua (Tuhan), Dewata (Dewa), Bombo Tomate (Leluhur), Tomasagala (Roh halus), dengan alam, tetapi juga dengan sesamanya. Keharmonisan dengan sesama manusia diwujudkan dalam upacara keagamaan yang disebut ma'toratu atau ma'tosae. Upacara ini dilaksanakan tatkala ada tamu yang pertama kali berkunjung ke suatu keluarga tertentu atau ke suatu kampung. Selain itu, juga tatkala ada bayi baru lahir. selengkapnya

Tugas Ilmuan Membersihkan Bahasa dengan Pikiran

kategori: Artikel Baru
Untuk mencegah adanya enam bahaya domistik seperti ketidakadilan, ke-sewenang-wenangan, arogansi kekuasaan, arogansi kekayaan, arogansi intelektual dan keberingasan sosial semuanya itu menjadi tugas semua pihak. Untuk mencegaTi agar jangan ada pihak-pihak yang merasa benar sendiri. Kenyataan yang masih jauh dari kebenaran tidak mudah memprosesnya untuk mencapai kebenaran. Dalam hidup ini selalu ada proses merubah kenyataan menuju harapan yang dicita-citakan. selengkapnya

Galungan dan Durga Puja

kategori: Artikel Baru
Hari Raya Galungan menempati posisi yang istimewa di dalam sistem rerainan agama Hindu di Bali. Hari raya ini dilaksanakan setiap 210 hari atau setiap wuku Dungulan (Galungan), tepatnya Buddha Kliwon Dungulan, enam bulan menurut sistem kalender Wuku (Kalender Jawa-Bali). Sering dikatakan sebagai rerainan gumi dan tidak kena sebelan atau cuntaka oleh adanya kamatian. Umat Hindu menyambut hari ini dengan serangkaian upacara sejak Tumpek Wariga hingga Buddha Keliwon Pahang. Jadi, rentang waktunya 42 hari. Ketika Galungan bertepatan dengan tilem atau purnama, maka Galungan mendapatkan perhatian yang khusus. Artinya, pelaksanaannya tidak hanya memperhatikan sistem kalender wuku, tetapi sistem kalender solar-lunar (surya-chandra pramana). selengkapnya