Artikel Terbaru

Pendidikan Pasraman Hindu

kategori: Artikel Baru
Pendidikan Pasraman sudah ada di Indonesia sejak zaman purba. Pada Zaman modern, keberadaannya kembali diangkat ke pentas kehidupan. Di setiap pura di seluruh Indonesia, pendidikan Pasraman, menjadi satu alternatif pendidikan agama. Siswa yang tidak mendapatkan pendidikan agama di sekolah umum, mendapatkannya di pendidikan Pasraman. selengkapnya

Bangkit Dari Keruntuhan Majapahit

kategori: Artikel Baru
Ketika Kerajaan Majapahit runtuh abad ke-14, para manggala kerajaan berucap, "Boleh saja kerajaan mereka dihancurkan, tetapi tunggu lima ratus tahun lagi anak cucu mereka akan bangkit dan menagih kembali bekas wilayah Majapahit." Itulah yang diyakini sebagian besar umat Hindu Banyuwangi, sehingga kini ada kebanggaan bagi mereka untuk kembali ke agama Hindu. selengkapnya

Candi Agung Gumuk Kancil

kategori: Artikel Pilihan
Dikisahkan, Rsi Markandya mengajak sekitar 800 pengikut menyeberang ke Bali. Sampai di pegunungan Toh Langkir, Besakih, Karangasem, sebagian besar pengikutnya meninggal akibat terserang penyakit. Setelah bermeditasi, Rsi Markandiya bersama sebagian pengikutnya kembali lagi ke lereng Raung. Keanehan muncul, pengikutnya mendadak sembuh setelah mandi di lereng Raung. “Ini kisah tentang nama Sugihwaras (sugih = kaya, waras = sehat) yang kami dapat dari Bali,” kata Hadi Pranoto, sesepuh Hindu Sugihwaras selengkapnya

Kewajiban Manusia Pada Zaman Kaliyuga

kategori: Artikel Baru
Agama Hindu mengenal adanya 4 (empat) zaman yang disebut "Catur Yuga" yang terdiri dari: Krtayuga, Trta Yuga, Dwapara Yuga dan Kali Yuga. Masa kerta yuga adalah merupakan masa yang penuh kedamaian dimana pada masa tersebut tidak ada manusia yang berbuat adharma walaupun hanya dalam pikiran. Manusia pada masa itu selalu mematuhi ajaran-ajaran kebenaran dan tiada pernah menyakiti mahluk lain baik dalam pikiran, perkataan maupun perbuatan. Yang ada dalam kehidupan manusia pada masa tersebut adalah : berbuat untuk kesenangan orang lain dan berjalan diatas jalannya dharma sehingga jaman tersebut sering juga dinamakan: Zamah Satya Yuga yang mengandung arti bahwa pada masa itu manusia hidup didalam kesetiaan. selengkapnya

Saksi Bangkitnya Umat Hindu di Tanah Jawa

kategori: Artikel Baru
Pada dasarnya kebesaran Pura Tawang Alun yang didirikan secara phisik tahun 1980, hanya berupa sebuah palinggih Padmasana yang tidak begitu megah. Tetapi luasnya boleh dikatakan cukup memadai. Keberadaan Pura Tawang Alun yang letaknya sangat dekat dengan pantai ini pernah mendapat cobaan secara sekala niskala. Pasalnya tahun 1993 ketika lautan Samudra Selatan memuntahkan lidah ombaknya yang ganas dan memporak-porandakan desa sekitarnya, bangunan Padmasana ini justru masih tetap berdiri kokoh. Seperti tidak tersentuh oleh apa pun. Terjangan Tsunami yang mahadasyat itu tidak mampu merobohkan bangunan saci tersebut. Ini sebuah muzisat yang tidak terpikirkan oleh manusia selengkapnya

Keris, Warisan Budaya Penuh Makna

kategori: Artikel Baru
Keris bagi kita sebagai masyarakat Indonesia bukanlah barang baru atau yang asing lagi. Akan tetapi merupakan benda yang sudah menjadi warisan budaya nenek moyang kita yang telah mengakar dalam sendi-sendi kehidupan budaya masyarakat kita, lebih-lebih bagi masyarakat Jawa khususnya yang sangat kental dengan warisan leluhur tersebut. selengkapnya

Sunari Gama

kategori: Artikel Pilihan
Manas Puja atau Puja pikiran biasanya dilakukan sebagai bahagian dari laku samadhi hanian. Karena kita tentunya sudah mengerti tentang samadhi sehari-hari, dimana kita akan membuat tahap-tahap itu pada saat ini dengan sangat pendek. Kita akan membuat langkah-langkah samadhi ini agak singkat pada saat ini, tetapi ketika anda duduk untuk laku harian anda maka urut-urutan yang seperti biasanya harus diikuti, dan menghabiskan waktu seperti yang biasa anda lakukan. selengkapnya

Pahala Kesetiaan Suami Istri dalam Ikatan Perkawinan

kategori: Artikel Pilihan
Suami istri yang tidak mendapat ketentraman dan kedamaian dalam rumah tangganya, cenderung akan mencari hiburan ke tempat-tempat lain yang kadang-kadang dapat menyusahkan orang sekitarnya dan dapat menjadi penyebab keributan dan kegelisahan masyarakat sekitarnya. Dalam memenuhi tuntunan supaya bisa hidup tenang dan damai, masing-masing harus memperhatikan kebutuhan dan keinginan suami atau istrinya. Keduanya harus dapat saling mengerti dan berusaha untuk dapat memahami latar belakang hati dan jiwa masing-masing, sehingga tidak ada yang merasa tertekan dan menderita. Apabila hal ini terjadi akan dapat menyebabkan ketidak-harmonisan dalam hidup berumah tangga. selengkapnya

Pura Ulun Danu Batur

kategori: Artikel Pilihan
Pura Ulun Danu Batur pada mulanya bernama Pura Tampurhyang dan terletak di Desa Sinarata (Desa Batur) pada lereng Gunung Batur bagian barat. Pura Tampurhyang dan Desa Sinarata tertimbun lahar pada waktu Gunung Batur meletus tanggal 3 Agustus 1926, sehingga masyarakat Batur ditempatnya yang baru di Desa Karanganyar (Desa batur sekarang) membangun kembali Pura Batur itu di Desa Batur dengan bantuan dari pemerintah sesuai dengan banyaknya pelinggih-pelinggih yang pernah ada di Pura Tampurhyang lama. Pembangunan Pura ini selesai dan dipelaspas pada hari Redite Pon, Prangbakat tanggal 14 April 1935 meskipun belum keseluruhan pelinggih-pelinggihnya dapat dibangun dan akan dilanjutkan dengan pembangunan secara bertahap. selengkapnya

Pada Awalnya Keduanya Menjadi Satu, Pada Akhirnya Keduanya Menjadi Nol

kategori: Artikel Baru
Pertemuan dua ujung duri biasanya berlangsung tidak lama. Mungkin sedetik, dua detik. Sedetik dua detik itulah yang disebut momen oleh orang-orang modern. Jadi, selain kondisi fisik, tepet juga ditentukan oleh momen. Dalam bahasa lain, momen itu disebut kala. Pertemuan ujung malam dengan ujung pagi disebut prabhata, juga disebut tepet. Pertemuan ujung siang dengan awal malam disebut sandyakala, juga disebut tepet, ketika manusia yang berdiri tidak punya bayang-bayang selengkapnya