Artikel Terbaru

Epistemologi Jawa: Sebuah Rekonstruksi Makna

kategori: Artikel Baru
Jawa adalah salah satu pulau yangpernah menjadi pusat kebudayaan dunia di masa silam. Sebagai sebuah pusat kebudayaan, Jawa memberikan banyak kesempatan dalam berbagai kegiatan olah pikir dan asah budi. Tidak sedikit pemikir-pemikir Jawa bermunculan waktu itu. Berbagai konsep dan hasil perenungan Jawa sudah banyak ditelorkan. Produk pemikiran ini juga tersebar ke mana-mana. selengkapnya

Jnyana, Karma dan Bhakti Bagaikan Gula Batu

kategori: Artikel Pilihan
Tuntunan beragama Hindu yang disebut Jnyana, Karma dan Bhakti, sering menjadi ajang beda pendapat di kalangan umat Hindu sendiri. Ketiga ajaran untuk menuntun umat yang beragama Hindu dalam melakukan kahidupan-nya beragama. Kalau berbeda itu tidak dipertentangkkan, justru baik karena saling memperkaya wawasan beragama Hindu itu sendiri. Tetapi ada juga hal itu dipertentangkan. Seperti upacara yadnya, hanyalah jalan bhakti dan karma tidak ada jnyana-nya. selengkapnya

Pahala Melaksanakan Sepuluh Norma Hidup

kategori: Artikel Baru
Sepuluh Dharma Laksana itu, Dhritih adalah sikap hidup yang mantap dan konsentrasi dalam menjalan tugas-tugas yang menjadi tanggung jawabnya. Latihan konsentrasi bukan semata-mata untuk tujuan rokhani mencapai Moksha. Dalam melakukan tugas-tugas duniawi juga dilakukan dengan penuh konsentrasi untuk menyelesaikan tugas-tugas tersebut secara profesional dan bertanggung jawab. Sesungguhnya latihan meditasi atau Dhyana itu hasilnya untuk meningkatkan keluhuran moral dan menguatkan daya tahan mental. selengkapnya

Anoman Dharma Duta Agung

kategori: Artikel Pilihan
Ketika Sri Rama dalam kebingungan mencari istrinya, Sita yang diculik oleh raja raksasa Ravana. Anoman datang menghaturkan sembah bhakti dengan menjadi duta Rama untuk menemui Sita di negeri raksasa, Alengka. Dengan kemampuannya kera cerdas ini menyelinap masuk istana raja Ravanayang dikenal sakti mandraguna. Dan akhirnya berhasil menemui Dewi Sita serta menyampaikan pesan Rama kepadanya. Tapi apa daya akhirnya putra Dewa Bayu itu tertangkap oleh pasukan raksasa yang dipimpin oleh Indrajit, sang putra mahkota dari kerajaan Alengka Pura. selengkapnya

Hindu dan Teologi Pembebasan dalam Konteks Kekinian

kategori: Artikel Baru
Istilah teologi pembebasan (liberation teology) mula menemukan momentum sejak Gustavo Guitierrez mempelopori gerakan pembebasan bagi kaum tertindas di Amerika Latin menjelang akhir abad ke-20. Ketika itu Guiterrez merumuskannya dalam bentuk pembebasan belenggu sosial, ekonomi, politik, dehumanisasi dan pembebasn dari segala dosa sebagai akibat hegemoni kebuasan (pemerintah dan gereja). selengkapnya

Keyakinan dan Pengetahuan Reinkarnasi

kategori: Artikel Baru
Para intelektual muda Hindu yang tinggal di luar Bali terlebih lagi di belahan dunia barat memang patut kita akui keuletannya. Mereka tidak mudah percaya tentang sesuatu dengan begitu saja, bahwa mereka memang lebih tekun dan mempelajari tentang prinsip-prinsip. Reinkarnasi secara lebih mendalam, mereka terus mencari hal-hal yang mendukung keyakinannya, tentang kepercayaan atau keyakinan tentang adanya Reinkarnasi atau Punarbhawa, tentang penjelmaan-penjelmaan di masa yang lalu, sekarang dan yang akan datang. selengkapnya

Jiwa dan Wija

kategori: Artikel Baru
Upacara besar seperti Karya Ekadasa Rudra, Panca Balikrama, ataupun Bhatara Turun Kabeh yang diselenggarakan di Pura Agung Besakih terangkai dengan upacara di "Bale Paselang", disebut "Bhatara Tedun ke Paselang". Bale Paselang disebut juga "Smara Bhawana" karena di sini terjadi proses penciptaan seisi jagat. selengkapnya

Nyanyian Cinta Dewi Satyawati

kategori: Artikel Baru
Perkawinan adalah sebuah tangga untuk menggapai salah satu sisi siklus hidup manusia, sebelum masuk ke dalam nirvikalpa mounam (menunggal dengan keheningan). Sebab di bingkai itu terjadi transformasi berkelanjutan dengan dua arah yang sering tak terbatas. Tubuh adalah wahana dari pergulatan yang tak pernah berhenti kecuali mati. Ruang itu menghadirkan sejuta fenomena, yang ditandai oleh jeda perubahan. Misalnya, adaptasi akan melahirkan stabilitas, kemudian stagnasi yang dilanjutkan dengan degradasi dan disintegrasi serta inkubasi, yang pada akhirnya menuju sebuah proses menggapai vivekachundamani (permata wiweka). selengkapnya

Tumpeng, Wujud Kearifan Tradisional

kategori: Artikel Pilihan
Tumpeng adalah sesajian khas masyarakat Jawa yang senantiasa kita jumpai dalam berbagai upacara, seperti slametan, kenduri, bersih desa, maupun syukuran. Bahkan dewasa ini nasi tumpeng tidak hanya digunakan untuk upacara keagamaan yang bersifat sakral, tetapi juga untuk perayaan-perayaan yang bersifat profan, seperti hari ulang tahun, syukuran awal pembuaan film, syukuran pembukaan tempat usaha, dan lain-lain. Nasi yang dibentuk kerucut ini biasa diletakkan di atas tampah (nampan dari anyaman bambu berbentuk bulat) dengan dikelilingi lauk pauk dan sayuran di sekelilingnya. Barangkali semua orang bisa mengatakan bahwa nasi tumpeng adalah simbol dari sebuah gunung, namun mungkin hanya sedikit orang yang bisa memahami mengapa simbol gunung menjadi begitu dominan di dalam tradisi sesaji Jawa. selengkapnya