Artikel Terbaru

Jiwa dan Wija

kategori: Artikel Baru
Upacara besar seperti Karya Ekadasa Rudra, Panca Balikrama, ataupun Bhatara Turun Kabeh yang diselenggarakan di Pura Agung Besakih terangkai dengan upacara di "Bale Paselang", disebut "Bhatara Tedun ke Paselang". Bale Paselang disebut juga "Smara Bhawana" karena di sini terjadi proses penciptaan seisi jagat. selengkapnya

Nyanyian Cinta Dewi Satyawati

kategori: Artikel Baru
Perkawinan adalah sebuah tangga untuk menggapai salah satu sisi siklus hidup manusia, sebelum masuk ke dalam nirvikalpa mounam (menunggal dengan keheningan). Sebab di bingkai itu terjadi transformasi berkelanjutan dengan dua arah yang sering tak terbatas. Tubuh adalah wahana dari pergulatan yang tak pernah berhenti kecuali mati. Ruang itu menghadirkan sejuta fenomena, yang ditandai oleh jeda perubahan. Misalnya, adaptasi akan melahirkan stabilitas, kemudian stagnasi yang dilanjutkan dengan degradasi dan disintegrasi serta inkubasi, yang pada akhirnya menuju sebuah proses menggapai vivekachundamani (permata wiweka). selengkapnya

Tumpeng, Wujud Kearifan Tradisional

kategori: Artikel Pilihan
Tumpeng adalah sesajian khas masyarakat Jawa yang senantiasa kita jumpai dalam berbagai upacara, seperti slametan, kenduri, bersih desa, maupun syukuran. Bahkan dewasa ini nasi tumpeng tidak hanya digunakan untuk upacara keagamaan yang bersifat sakral, tetapi juga untuk perayaan-perayaan yang bersifat profan, seperti hari ulang tahun, syukuran awal pembuaan film, syukuran pembukaan tempat usaha, dan lain-lain. Nasi yang dibentuk kerucut ini biasa diletakkan di atas tampah (nampan dari anyaman bambu berbentuk bulat) dengan dikelilingi lauk pauk dan sayuran di sekelilingnya. Barangkali semua orang bisa mengatakan bahwa nasi tumpeng adalah simbol dari sebuah gunung, namun mungkin hanya sedikit orang yang bisa memahami mengapa simbol gunung menjadi begitu dominan di dalam tradisi sesaji Jawa. selengkapnya

Migrasi Galungan

kategori: Hari Suci
Galungan adalah ritual keagamaan Hindu yang dilaksanakan secara rutin setiap Budha Kliwon Dungulan. Rutinitas ini menandai terjadinya perulangan religiusitas. Artinya, umat Hindu telah lama melaksanakan hari raya Galungan yang dihadirkan kembali pada ruang-waktu sakral. Kehadiran Yang Sakral dalam ritual agama menegaskan ciri religiusnya sekaligus membedakannya denaan aktivitas rutin lainnya yang bersifat profan. Oleh karena itu. perayaan Galungan dapat dipahami dalam dimensi religiusitas umat Hindu se-hingga tidak menjadi tradisi yang kaku dan beku. apalagi nihil makna. selengkapnya

Berkaca Pada Penjor

kategori: Artikel Baru
Mitos Toh Langkir sebagai penguasa gunung tertinggi di Bali sering didengar, begitu pula dengan cerita Anjani sebagai pemilik Rinjani. Toh Langkir maupun Anjani, keduanya adalah analog ayah dan ibu. Sebab, ibu menjadi dasar pemujaan sementara ayah menjadi tujuan pemujaan. Dasar dan tujuan tidaklah dapat dipisahkan keduanya merupakan dualisme yang tidak dapat berdiri sendiri. selengkapnya

Sejarah Wayang Beber

kategori: Artikel Pilihan
Awal mula pewayangan adalah Wayang Watu (batu) pada abad ke 9, atau wayang yang terukir pada dinding relief candi-candi, kemudian berkembang menjadi wayang rontal. Hal ini terdapat pada Serat Sastramiruda tertulis Sengkalan Gambaring Wayang Wolu, yang berarti 861 Saka atau 939 Masehi. selengkapnya

Galungan: Dari Simbol Menuju Aktualisasi Diri

kategori: Hari Suci
Sampai saat ini masih ada beberapa desa tua di Bali tidak pernah melaksanakan perayaan Galungan karena mereka menganggap Galungan sebagai peringatan jatuhnya Bali ke tangan bala tentara Majapahit. Sedangkan, menurut isi lontar Purana Bali Dwipa, perayaan Galungan pertama kali di Bali pada Purnama Kapat, Budha Kliwon Dunggulan, tahun Saka 804 (902 M); jauh sebelum jatuhnya Bali ke tangan Majapahit pada tahun 1265 Saka (1343 M). Dengan demikian, alasan untuk tidak merayakan Galungan seperti tersebut di atas hanyalah kesalahtafsiran. selengkapnya

Rudra dan Samudra

kategori: Artikel Baru
Ketika kita melaksanakan Siwaratri di Pura Luhur Uluwatu kita menyadari bahwa kita berada di atas samudra. Pura Sad Kahyangan dan juga Dangkahyangan ini memang berdiri di atas sebuah bukit kapur yang menjorok ke samudra Hindia. Pura yang sangat disucikan ini adalah salah satu pura yang senantiasa dikunjungi oleh orang-orang suci, dan terakhir dibangun kembali oleh Danghyang Nirartha. Beliau yang dikenal sebagai pembaharu dan pemberi pencerahan agama Hindu di Bali dengan mewujudkan konsep padma, telah menjadikan tempat ini sebagai tempat moksa. selengkapnya

Kala dan Bala

kategori: Artikel Baru
Merayakan Hari Galungan pertama-tama mengajak kita mengingat apa yang disebut sebagai Kala Tiga. Memang sejak hari Minggu sampai hari Selasa pada Wuku Dungulan tercantum hari Kala (bagian dari Astawara), sehingga sejak hari Minggu tersebut dikatakan Sang Kala Tiga turun yaitu Kala Dungulan, Kala Amangkurat dan Kala Galungan. Semua ini mengingatkan kita betapa kita diajak untuk merenungkan kebesaran Sang Pencipta atau Hyang Siwa, yang dinyatakan memiliki putra Kala. Dalam berbagai literatur Hyang Siwa juga disebut sebagai Maha Kala. selengkapnya

Galungan, Semua Menikmati Kemenangan

kategori: Artikel Baru
Bagaimana Anda memaknai kemenangan selama ini? Apakah kemenangan mesti berarti mengalahkan atau menundukkan orang lain, makhluk lain atau alam? Kalau Anda memaknainya demikian, maka Anda harus terus-menerus berjuang seumur-hidup Anda untuk itu, dimana setiap kemenangan yang Anda peroleh itu bersifat parsial, temporer, dan oleh karenanya semu. Bukan kemenangan sejati. Ia setiap waktu siap berbalik menjadi kekalahan. selengkapnya