Artikel Terbaru

Empat Macam Tujuan Memuja Tuhan

kategori: Artikel Pilihan
Memuja Aku, dalam hal ini adalah Tuhan Yang Maha Esa, memang perbuatan yang baik. Sebaik-baiknya orang tak ada yang lebih baik dari pada ingat selalu memuja Hyang Widhi. Tetapi bagaimana orang yang sedang memuja Tuhan itu, apa yang ingin diraihnya, pamerih apa yang ingin diperolehnya, akan membedakan kualitas dari pemujaan itu sendiri. Catur Widha Bhajante atau empat macam (jenis) para bhakta dalam memuja Tuhan mempunyai karakter masing-masing dan menunjukkan pula status kerohanian bhakta itu. selengkapnya

Hewan yang Dibunuh untuk Yadnya

kategori: Upacara
Seringkali ada yang bertanya, apakah boleh hewan dibunuh untuk dipersembahkan sebagai yadnya dalam ritual Hindu? Pertanyaan ini muncul beberapa tahun terakhir, sesuatu yang tak pernah ditanyakan di masa lalu. Pertanyaan muncul karena ada “aliran dalam Hindu” yang ketat dalam melaksanakan prinsip ahimsa (tak boleh menyakiti apalagi membunuh) yang disertai pula prinsip vegetarian yang kuat selengkapnya

Goa Selomangleng Tempat Pertapaan Sang Dewi Kili Suci

kategori: Artikel Baru
Goa Selomangleng adalah sebuah situs goa peninggalan jaman kerajaan Kadiri yang terletak di kaki gunung Klothok, sekitar 7 Km arah Barat Kota Kediri, tepatnya di Desa Waung, Kecamatan Mojoroto, Kediri, Jawa Timur. Lokasinya hanya berjarak beberapa meter dengan Museum Airlangga Kediri dan Bukit Maskumambang yang terdapat makam Eyang Boncolono. selengkapnya

Tapa Brata Menyucikan Atma

kategori: Artikel Baru
Atma adalah bagian dari parama atma, jadi memang selalu dalam keadaan suci. Kalau dianalogikan atma itu adalah sinar surya, sedang surya itu sendiri parama atma, maka sinar itu tak akan pernah kotor, selalu suci. Tetapi sinar itu bisa tidak diterima dengan baik di alam semesta atau samar-samar, tidak terang benderang. Penyebabnya ada awan yang menutupinya, bisa awan ringan dan tipis yang segera terbang, tetapi bisa awan gelap berupa mendung. Sinar itu sendiri tetap saja suci bersih, apalagi mataharinya. selengkapnya

Delapan Butir Kewajiban Asasi Manusia

kategori: Artikel Baru
Kecenderungan untuk menuntut hak dan, bila mungkin, melarikandiri dari kewajiban merupakan fenomena yang jamak dan bisa dengan mudah teramati di sekeliling kita. Dalam bentuknya yang halus, mungkin sekali kecenderungan ini juga hadir didalam kehidupan kita sendiri. Kita bisa saja lebih bersemangat bila diajak membicarakan hak-hak kita sebagai warga negara atau pekerja misalnya, ketimbang membicarakan kewajiban-kewajiban yang harus kita penuhi. Keengganan kita untuk membicarakan kewajiban menunjukkan kecenderungan ini dengan jelas. selengkapnya

Diksa dalam Saiva Siddhanta

kategori: Artikel Pilihan
Diksa (inisiasi) telah menjadi tradisi yang penting di dalam perguruan rohani sejak zaman Veda, upanisad, purana dan hingga sekarang. Diksa menandakan seseorang telah siap masuk ke tingkatan hidup sanyasa, menurut konsep catur asrama. Masing-masing agama atau perguruan rohani dalam Hinduisme mempunyai tradisi diksa, etika, atribut, dan ritual yang berbeda-beda, namun pada dasarnya dengan diksa seorang sisya (siswa kerokhanian) setelah melalui pengamatan guru dan dipandang sudah siap untuk mengambil jalan rohani ditingkatkan kualitas kesucian dan rohaninya sehingga yang bersangkutan mempunyai kemampuan atau kewenangan untuk melakukan ritual-ritual tertentu; mempunyai tingkat kualitas rohani yang memungkinkan yang bersangkutan menuju Siva selengkapnya

Tumpek Wariga dan Pelestarian Lingkungan

kategori: Artikel Baru
Mengenai Tumpek Wariga dilaksanakan secara turun-tumurun dari dahulu mungkin pra Hindu sudah ada. Ditinjau dari segi sejarah khususnya pada zaman mulai bercocok tanam manusia sudah berkembang hidup bertani. Sejak itu pun manusia sudah percaya akan adanya kuasa gaib yang menguasai tumbuh-tumbuhan atau pepohonan yang sering kita sebut Dinamisme. Kemudian ketika zaman Hindu disempurnakan lagi melalui sumber-sumber sastra guna memperkuat dan merawat iman umat Hindu. selengkapnya

Pancasila Sebagai Filter Membangun Kebudayaan Indonesia

kategori: Artikel Pilihan
Sifat keterbukaan Pancasila dan pesatnya kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, terutama teknologi komunikasi, secara teknis tidak mungkin kita membatasi masuknya unsur-unsur kebudayaan asing ke dalam kebudayaan nasional. Sejarah umat manusia menunjukkan bahwa kebudayaan yang menutup dirinya dan menolak pertukaran dengan kebudayaan-kebudayaan lain biasanya menjadi beku dan ketinggalan zaman. Sebaliknya perkembangan kebudayaan suatu bangsa yang mengabaikan unsur-unsur kebudayaan daerah juga akan kehilangan jati dirinya. selengkapnya