Artikel Terbaru

Meloloskan Diri dari Cengkraman Maya?

kategori: Artikel Baru
Gagak merupakan burung hitam yang menjadikan dirinya khas, lantaran suara seraknya yang sumbang dan menyebut-nyebut namanya sendiri. Nama "gagak" itu sendiri yang di Bali disebut "goak" diambil dari suara serak nan sumbangnya itu. Masyarakat Bali, umumnya mengenal nasehat orang-orang tua yang kurang lebih berbunyi: "Hendaknyalah kamu tidak menamai diri sendiri seperti burung gagak itu". selengkapnya

Tradisi Mabarang, Memupuk Persatuan di Kalangan Pemuda

kategori: Upacara
Tradisi mabarang menjadi prosesi yang paling ditunggu-tunggu kalangan pemuda Desa Adat Timbrah, Pertima, Karangasem. Seni budaya adiluhung yang masih dilestarikan warga setempat ini menyuguhkan khazanah budaya Bali kuno yang masih terpelihara hingga zaman ini. Mabarang kini tak hanya bersifat ritual rutin tiap tahun, tetapi mampu menjadi wadah guna memupuk persatuan di kalangan pemuda. selengkapnya

Mengendalikan Kemarahan

kategori: Artikel Baru
Kemarahan (Krodha) adalah merupakan salah satu musuh utama dari enam musuh (Sad Ripu) yang ada di dalam diri manusia. Dalam hidup ini setiap orang tidak luput atau terhindar dari marah contohnya Resi Wiswamitra yang dikenal menerima wahyu Gayatri Mantra beliau pernah dikuasai marah sehingga yoga atau tapa beliau harus diulang lagi atau dengan kata lain ketika tapa samadhi beliau sudah mencapai tingkat tinggi harus turun lagi level bawah gara-gara dikuasai kemarahan. selengkapnya

Yoga dan Pengendalian Pikiran

kategori: Artikel Pilihan
Ajaran yoga yang paling penting adalah citta wrtti nirodha artinya pengendalian gerak pikiran. Pikiran memegang peranan penting dalam melaksanakan yoga karena ia sebagai rajanya indriya (rajendriya). Dalam melaksanakan yoga seseorang akan mengalami lima perubahan bentuk pikiran yaitu : Pramana yakni pengamatan yang benar, wiparyaya yakni pengamatan yang salah, wikalpa yakni pengamatan yang ada hanya dalam kata-kata, nidra pengamatan dalam tidur atau mimpi, smrti yakni pengamatan terhadap apa yang diingat dari sesuatu yang dialami. Dari perubahan bentuk pikiran inilah Sang Jiwa memandang dirinya lahir, mati, tidur, salah, benar dan sebagainya. selengkapnya

Pengampunan Dosa dalam Hindu

kategori: Artikel Baru
Menurut Ramanujacharya, dosa timbul dari tindak pendurhakaan kepada Tuhan. Tuhan telah memberikan kebebasan berkehendak kepada umat manusia, dan sastra-sastra Veda telah memberikan tuntunan agar kita bisa hidup di jalan Dharma. Sarasamuscaya 18 menyatakan Dharma dapat melebur dosa jagat tiga ini. 'dharma mantasakenikang triloka'. Sebelumnya, sloka 17 menyebutkan, bagaikan prilaku matahari yang terbit melenyapkan gelapnya dunia, demikian pulalah orang yang melakukan Dharma. Dharma akan memusnahkan segala macam dosa. Sebaliknya, mereka yang melanggar Dharma akan dihukum dengan siklus kelahiran dan kematian (punarbhava) yang tidak jelas kapan berakhirnya. selengkapnya

"Manusa Yadnya", Menciptakan Lapangan Kerja untuk Rakyat

kategori: Upacara
Dalam Manawa Dharmasastra III.70 menyatakan ada istilah Nara Yadnya yang dinyatakan sebagai berikut: Nara Yadnya atithi pujanam. Maksudnya: Nara Yadnya adalah beryadnya pada manusia atau nara dengan menghormati atau pujanam pada para tamu. Itulah rumusan Manusa Yadnya menurut teks pustaka sastra Hindu. Namun, dalam pengertian umum di kalangan umat Hindu di Bali yang dimaksud manusa yadnya itu adalah upacara yadnya yang mengupacarai manusa secara lansung seperti nelu nulanin atau nyambutin, otonan, metatah, masakapan dan seterusnya. selengkapnya

Dari

kategori: Artikel Baru
Bertani bagi masyarakat Hindu Bali, tidak sekadar menanam benih tanamam. Ada proses ritual mengiringi. Ada kearifan nilai budaya yang dijadikan pijakan. Mulai dari kegiatan mapag toya (menjemput air dari sumber mata air), membajak, menanam benih padi, hingga panen, tak lepas dari ritual. Aktivitas tanam padi dengan mengikuti pakem tradisional itu masih kita jumpai di Bali, termasuk di wilayah Kabupaten Tabanan, daerah yang menyandang predikat lumbung berasnya Bali itu. selengkapnya

Tradisi di Ubun-Ubun Jagat "Danau di Atas Kepala"

kategori: Artikel Pilihan
Windu juga dimaknai oleh tradisi sebagai sebuah danau yang ada di ubun-ubun setiap kepala manusia. Pada Danau Windu itulah diyakini terdapat kumpulan air-hidup (amrta). Air Danau Windu dikatakan mengalir ke seluruh tubuh melalui sungai-sungai yang tiada lain adalah nadi-nadi. Ada banyak sekali sungai-nadi dalam tubuh. Namun demikian, diajarkan ada tiga sunga-nadi yang utama. Ada yang menyebutnya Ida, Sumsumna, Pinggala. Ada yang menyebutnya Suranadi, Gangga, Yamuna selengkapnya

Diksa dalam Saiva Siddhanta Dua

kategori: Artikel Pilihan
Diksa (inisiasi) telah menjadi tradisi yang penting di dalam perguruan rohani sejak zaman Veda, upanisad, purana dan hingga sekarang. Diksa menandakan seseorang telah siap masuk ke tingkatan hidup sanyasa, menurut konsep catur asrama. Masing-masing agama atau perguruan rohani dalam Hinduisme mempunyai tradisi diksa, etika, atribut, dan ritual yang berbeda-beda, namun pada dasarnya dengan diksa seorang sisya (siswa kerokhanian) setelah melalui pengamatan guru dan dipandang sudah siap untuk mengambil jalan rohani ditingkatkan kualitas kesucian dan rohaninya sehingga yang bersangkutan mempunyai kemampuan atau kewenangan untuk melakukan ritual-ritual tertentu; mempunyai tingkat kualitas rohani yang memungkinkan yang bersangkutan menuju Siv selengkapnya

Panca Balikrama Di Pura Taman Ayun

kategori: Artikel Baru
Pura Taman Ayun terletak di Desa Mengwi, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung, 18 kilometer dari Denpasar. Halaman pura begitu luas dengan candi bentar dan candi kurung menghadap ke selatan, dikelilingi oleh kolam yang luas pula, sementara bangunan induk terletak di ketinggian yang menciptakan keagungan pura ini. Pura ini pertama bernama Taman Ayun, yang berarti taman yang indah atau taman yang menyenangkan. Nama ini diambil mungkin karena letak pura ini serta pandangan alam sekitarnya yang dikelilingi dengan kolam memang memberikan suasana yang indah. selengkapnya