Artikel Terbaru

Berguru Kepada Sang Gembala

kategori: Artikel Pilihan
Pada dasarnya, mengendalikan-diri adalah mengendalikan-pikiran, dimana yang dimaksudkan dengan 'pikiran' disini adalah duet antara pikiran dengan perasaan, kerjasama antara motor sistem kognitif dan sistem afektif kita. Duet ini merupakan proponen mental utama kita yang paling aktif, yang menciptakan mood yang sering kita sebut juga dengan suasana-hati, yang memicu kehendak yang menimbulkan bentuk-bentuk keinginan dan perasaan lebih lanjut serta mengaktifkan kelima indria-motorik dan kelima indria sensorik, yang membangkitkan semangat dan daya juang, mengaktifkan naluri, dan berbagai aktivitas mental dan fisikal lainnya. selengkapnya

Siswa Bhagawan Dhomya : Pengembala

kategori: Artikel Pilihan
Sebuah cerita di dalam kitab Adiparwa sangat relevan untuk kita jadikan bahan renungan ketika kita membahas tentang sistem pendidikan Hindu. Adalah Bhagawan Domya memiliki tiga orang siswa masing-masing bernama Sang Utamanyu, Sang Arunika, dan Sang Weda. Masing-masing melewati masa pemeriksaan dengan cara yang berbeda. Sang Arunika disuruh bersawah, sang Utamanyu disuruh menggembala sementara Sang Weda mendapat tugas memasak. Cara dan proses pemeriksaan seperti itu menarik perhatian kita karena sarat makna. selengkapnya

Gatutkaca Sang Kancing Jaya

kategori: Artikel Baru
Paham manusia, sejalan dengan paham para dewa; tentang 'Sad Ripu' musuh dalam diri manusia, ada enam jumlahnya : 1. Kama, 2. Loba, 3. Kroda, 4. Moha, 5. Maha, dan 6. Matsarya. Sad Ripu wajib diwaspadai dan dibasmi oleh diri manusia itu sendiri. Namun bagi kaum raksasa, 'Sad Ripu', justru dipupuk diladeni sepuas-puasnya sepenuhnya oleh para kaum raksasa. Perbedaan paham manusia dan desa dengan kaum raksasa, mencipta-kan perang antara dewa dan manusia, melawan kaum raksasa. Hal ini dijadikan rriotifasi bekerja kreatif menyusun sanggit cerita lakon. selengkapnya

Ri Taru Tiraning Ranu

kategori: Artikel Baru
Susunan kata yang dipilih oleh Mpu Tanakung dalam kakawin Siwaratrikalpa pasti bukanlah susunan kata yang tanpa makna. Ri taru tiraning ranu berarti di pohon di tepi danau, itulah tempat si Lubdaka bermalam. Pohon itu tiada lain adalah pohon maja, sebuah pohon yang memiliki makna penting dalam ajaran Siwa, pohon yang tumbuh di tepi danau dan menjorok ke tengah danau. Maka daun-daun pohon itu yang dipipiknya, lalu dibuangnya, mengenai sebuah lingga yang ada di tengah danau itu, sebuah lingga yang tidak ada yang membuatnya (nora ginawe). selengkapnya

Bhuta Hita

kategori: Artikel Baru
Hari raya Nyepi menyisakan renungan tentang Bhuta Hita atau keharmonisan jagat raya. Bahwa sehari sebelum Nyepi umat Hindu melaksanakan Bhuta Yadnya, pengorbanan suci yang ditujukan kepada Bhuta. Konsep Hindu tentang Bhuta tertuang di dalam ajaran Hyang Siwa, seperti ajaran tentang Panca Maha Bhuta. Itulah sebabnya Bhuta Yadnya menjadi salah satu bagian dari Panca Maha Yadny selengkapnya

Garuda Panca Sila Bagi Umat Hindu

kategori: Artikel Baru
Pengenalan mendalam terhadap kebesaran burung Garuda baru terjadi sejak epos Ramayana dan Mahabrata yang terkenal ditulis kembali dalam bahasa Jawa Kuna. Dalam kedua epos tersebut, Garuda berperan sebagai 'tokoh' pembebasan di tengah arus deras kebatilan. selengkapnya

Panca Sila dan Bhineka Tunggal Ika

kategori: Artikel Baru
Siapakah nama tokoh yang menjadi teman Bung Karno, yang ahli Bahasa, dan yang memberi petunjuk tentang penanaman dasar negara dengan kata Pancasila?. Walau tokoh tersebut masih menyimpan misteri, namun dapat ditentukan bahwa tokoh bersangkutan adalah seorang yang akrab dengan Kekawin Sutasoma karya Mpu Tantular. selengkapnya

Yadnya Sesa

kategori: Upacara
Dalam ajaran Hindu, Tuhan di puja sebagai yang ngiyangin 'mengisi' berbagai aspek kehidupan, tempat ruang dan waktu. Seperti Pasar, kebun, sawah, pohon besar, batu besar, kantor, peternakan, perdagangan, kekayaan, kesehatan, kesenian, ilmu pengetahuan, kerajinan untuk menyebut beberapa contoh. Hampir tidak ada aspek kehidupan yang lepas dari kemahakuasaan Hyang Widhi. selengkapnya

Nyanyian Karawista

kategori: Artikel Baru
Ilalang, alang alang sejenis rumput yang sangat eksotis sehingga sering menjadi bagian dari metafora para kawi sastra. Dalam kepustakaan Hindu rumput dengan ketinggian hampir sedepa, merupakan salah satu sarana penting dalam yadnya. Syahdan, dikisahkan dalam cerita Sang Garuda dalam penggalan Adi Parwa, ilalang adalah rumput suci karena terkena percikan tirtha amertha saat terjadi perebutan tirtha kamandalu. selengkapnya