Artikel Terbaru

Belajar dari Lakon Dewa Ruci

kategori: Artikel Baru
Lakon Dewa Ruci dalam kesusastraan Jawa ditulis dalam beberapa sumber pustaka seperti "Nawaruci", "Dewa Ruci" dan "Bimo Suci". Menurut Seno Sastroamidjojo (1967) babon cerita Dewa Ruci itu berbahasa Jawa kuno atau Kawi, tertulis pada rontal. Tan Khoen Swie (1923) menyebutan bahwa cerita Dewaruci yang asli itu digubah dalam bahasa Kawi oleh Mpu Wijayaka di Mamenang, Kediri atau lebih terkenal dengan Ajisaka yang pada waktu kecilnya bernama Jayasengkala, salah seorang putra Mpu Anggojali. selengkapnya

Hendak Menemukan Kedamaian di Liang - Kubur?

kategori: Artikel Baru
Disadari atau tidak, setiap orang menganut suatu prinsip tertentu di dalam hidupnya, di dalam menjalani kehidupannya ini. Prinsip itulah yang menjadi landasan sekaligus pegangannya setiap kali seseorang mesti berpikir menilai, menimbang, dan sebagainya berucap, dan bertindak. Pendek kata, prinsip-hidupnya inilah yang melandasi setiap gerak dan langkahnya di dalam menjalani kehidupannya. selengkapnya

Leadership Dalam Agama Hindu

kategori: Artikel Baru
Menanamkan ajaran kepemimpinan sesuai sumber suci agama Hindu kepada para generasi muda (sekati teruna) atau kelompok muda-mudi bangsa Indonesia, para pemimpin dalam bidang kependidikan seperti kepada kepala sekolah, wakil kepala sekolah, para pengawas ataupun komponen kependidikan yang lainnya dalam bidang pendidikan dari berbagai jenjang adalah upaya positif dan terpuji untuk meningkatkan pemahaman serta praktek kepemimpinan Hindu sesuai dengan kapasitasnya masing-masing. selengkapnya

Tri Matra

kategori: Artikel Baru
Tri Matra terdiri atas Bhuta Matra, Prana Matra, dan Prajnya Matra. Bhuta Matra terdiri atas lima bagian yaitu : Pratiwi, Apah, Teja, Bayu, dan Akasa; Prana Matra terdiri atas dua bagian yaitu Surya dan Candra, sedangkan Prajnya Matra adalah Sang Pencipta, Tuhan Yang Maha Kuasa. Dengan demikian Tri Matra terdiri atas delapan bagian yang disebut juga Asta Murti. selengkapnya

Nias Tradisi Pemujaan Leluhur Yang Hilang

kategori: Artikel Baru
Pada pertengahan Februari 2007 saya berkesempatan datang ke Pulau Nias, sebuah pulau kira-kira seluas Pulau Bali di sebelah barat Sumatera. Saya mengunjungi desa-desa tradisional di Kecamatan Teluk Dalam, Kabupaten Nias Selatan, Sumatera Utara. Berdasarkan informasi dari rekan-rekan saya yang telah lebih dahulu berkunjung ke sana, di Kecamatan Teluk Dalam setidak-tidaknya masih terdapat 16 desa tradisional. Desa-desa tradisional di Nias Selatan ditandai dengan letaknya di punggung bukit atau dataran yang tinggi, rumah-rumah didirikan berderet memanjang, saling berhadapan dengan halaman desa di tengahnya, yang diperkeras dengan lantai batu. selengkapnya

Karna dan Kunti

kategori: Artikel Baru
Pada hari ke tujuh belas Bratayuda berlangsung, pagi-pagi benar Karna telah mengenakan baju kebesaran baru, anugerah dari Suyodana, pada malam sebelumnya dianjungan Korawa Seratus di Tegal Kuru Keshetra. Karna duduk dengan sikap sempurna, wajahnya menatap arah terbitnya surya. Karna sedang melaksanakan Surya Sewana. Tiba-tiba Kunti hadir berdiri didekat Karna, menghalangi wajah Karna dari sinar surya pagi, menggunakan kain kerudung sutra putih tipis lembut dan halus. selengkapnya

Dana Punia

kategori: Artikel Baru
Dalam kehidupan beragama, yang memberi kesejahteraan pada manusia adalah dharma. Tidak semata-mata harta benda dan berbagai pemuas duniawi lainnya, konsep ini dalam ajaran Catur Purusa Artha jelas dikatakan bahwa apapun aktivitas manusia (umat Hindu) hendaknya didasari oleh jalan "Dharma". Hakikat Catur Purusa Artha "sebagai empat tujuan hidup manusia" Dharma, Artha, Kama dan Moksha, mesti berjalan atas dasar kebenaran atau Dharma. selengkapnya

Ongkara Nyasa Brahman

kategori: Artikel Baru
Ongkara merupakan aksara tertinggi dalam aksara Bali dan Ongkara dimaksud ditulis (x) yang merupakan ke-empat putra Sang Hyang Brahma. Hal ini sangat seirama dengan Babad Brahmana Catur, disebutkan bahwa Sang Hyang Brahma mayoga maka lahir Ongkara (x). Kamus Jawa Kuna Indonesia menguraikan, Aksara berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti kata suci. Sehingga, Ongkara merupakan kata utama dan suci. Ongkara merupakan nyasa Ida Sanghyang Widhi Wasa. Dengan demikian Ongkara senantiasa mengawali setiap mantra. Ongkara berhubungan dengan yadnya khususnya yang berkaitan dengan Kramaning Sembah dalam hal ini sarana yang berupa kwangen, sejatinya merupakan nyasa Ida Sang Hyang Widhi Wasa, sekaligus merupakan nyasa suara tertinggi. selengkapnya

Ikuti Kebiasaan Pandita dan Burung Angsa

kategori: Artikel Baru
Kemampuan selalu seimbang dan bahagia itulah seorang Brahmana disebut orang suci. Beliau hidup di dunia yang selalu ada baik buruknya. Sarasamuscaya 128 menyatakan di Bhuwana Alit dan Bhuwana Agung dinyatakan ada dua lautan yaitu Wisaya Arnawa dan Amertha Arnawa. Yaitu lautan beracun dan lautan madu. Sedikit saja salah dalam mengarungi kehidupan ini dapat terjerumus ke dalam Wisaya Arnawa atau lautan beracun. Bagi beliau yang sudah pada tahapan Pandita tidak terpengaruh oleh dua lautan itu. selengkapnya

Buana Kosa Pembangkit Spiritual Umat Hindu di Bali

kategori: Artikel Baru
Paham Sivaisme yang berkembang di India yang merupakan asal mula dari agama Hindu berawal dari kelahiran dan perkembangan paham Sivaisme di daerah Jammu dan Kashmir. Wilayah tersebut terletak di ujung utara ilayah negara India, yang saat ini berbatasan dengan negara Pakistan, negara Afganistan, negara Cina, dan kerajaan Nepal di sekitar pegunungan Himalaya (Parvata Kailasa). Tepatnya di wilayah Jammu dan Kashmir tersebut terdapat sebuah lembah yang sangat indah dan subur bernama lembah sungai Sindhu. selengkapnya