Artikel Terbaru

Smara Pura

kategori: Artikel Baru
Kelungkung disebut juga Smara Pura. Kung dalam bahasa Kawi berarti "Keindahan", baik keindahan alam maupun rasa indah di dalam hati : maka Kung juga berarti "Cinta" Seorang Kawi yang menulis kaidah keindahan kakawin memakai nama Mpu Tanakung. Disamping menulis kakawin Wreta Sancaya, beliau juga menulis kakawin Siwa Ratrikalpa dan sejumlah kakawin lainnya. Dalam karyanya berjudul Bhasa Tanakung, beliau menyatakan dirinya masih sangat jauh dari "kung" itu sendiri. selengkapnya

Perkawinan Sejenis dalam Perspektif Hindu

kategori: Artikel Baru
Guna mempertahankan eksistensinya, setiap makhluk hidup memiliki naluri untuk berkembang biak. Manusia sebagai insan berbudi luhur, mengatur naluri berkembang biak itu dalam sebuah lembaga perkawinan, baik melalui norma hukum maupun norma sosial. Bahkan, Tuhan Yang Maha Esa melalui ajaran agama yang diturunkan-Nya -termasuk agama Hindu, memberi tuntunan yang jelas tentang perkawinan. selengkapnya

Pernapasan Saat Muspa

kategori: Artikel Baru
Proses bernafas berlangsung secara otomatis tanpa dipengaruhi kehendak. Hal ini diakibatkan karena pengendalian saraf otonom yang dimiliki oleh manusia seperti halnya pergerakan jantung dan pencernaan. Berbeda dengan otot rangka yang bisa diperintah oleh kehendak, otot-otot pernafasan memiliki struktur sendiri, bekerja dengan sistem mandiri. selengkapnya

Fungsi dan Makna Keris di Bali

kategori: Upacara
Keris adalah senjata tradisional yang mempunyai banyak keunikan. Ditinjau dari bentuknya keris adalah senjata tikam yang tajam dan memiliki sisi tajam di kedua sisinya atau bermata dua, serta ada keris yang lurus dan ada juga keris yang berkeluk-keluk (luk). Keris yang berluk mempunyai banyak nama tergantung jumlah luk pada setiap keris serta mempunyai Khasiat tersendiri. Bagian-bagian keris antara lain : Wilahan (bilah keris), Ganja, Dhapur, Pamor, Danganan (Hulu Keris), Werangka (sarung keris), dan Wewer. selengkapnya

Memuja Tuhan, Bukan Berhala

kategori: Artikel Baru
Umat Hindu di Bali berbeda dengan umat Hindu di daerah lain karena lebih banyak melaksanakan ajaran Karma Marga dan Bhakti Marga. Sebagian besar waktu umat Hindu di Bali dihabiskan untuk melaksanakan ritual-ritual suci keagamaan yang telah ada sejak dahulu kala. Dari pelaksanaan upacara itu, mencerminkan seni dan budaya Bali tetap dilestarikan oleh masyarakatnya selengkapnya

Memuja Tuhan untuk Keseimbangan Jiwa dan Raga

kategori: Artikel Baru
Salah satu ciri beragama Hindu yang paling substansial adalah percaya atau Sraddha dan Bhakti pada Tuhan. Tuhan itu Maha Sempurna tidak membutuhkan apa-apa dari siapapun. Dalam pemujaan pada Tuhan ini bukan Tuhan yang membutuhkan dipuja, tetapi manusialah yang membutuhkan pemujaan pada Tuhan itu. Ibarat matahari bersinar terus menerus dan tetap tinggal dan berputar di tempat. Itulah Rta atau hukum alam yang ditetapkan oleh Tuhan pada matahari. selengkapnya

Lantunkan Gita untuk Kesejahteraan Rohani

kategori: Artikel Baru
Bernyanyi merupakan kodrat manusia untuk mengekspresikan kegembiraan hatinya dan juga untuk mengatasi kesedihan. Hidup senang dan tenang merupakan dambaan manusia yang normal pada umumnya. Hidup bersenang-senang tanpa kendali bisa berbalik menjadi hidup susah menderita. Karena itu hidup senang yang dikendalikan dengan jiwa tenang itulah yang lebih utama. Agar bisa hidup senang dengan tenang itu salah satu dari banyak cara adalah dengan bernyanyi untuk mendapatkan vibrasi keheningan. selengkapnya

Agnihotra di Zaman Modern

kategori: Artikel Baru
Belakangan ini saya lihat sebagian umat Hindu Bali melakukan ritual Agnihotra yang dikolaborasikan dengan ritual tradisi Bali, seperti ritual Melaspas Sanggah, Ngaben, Telubulanan, Pawiwahan, dan lain-lain. Agnihotra memang ada dalam Weda dan di India masih tetap ada. Karena dewa api atau dewa Agni adalah saksi wajib dalam setiap upacara. Dulu di era Majapahit, konon umat selalu melakukan Agnihotra, tetapi sempat dihentikan karena pernah ada insiden yakni karena apinya sangat besar dan mengakibatkan kebakaran kemudian upacara ini dihentikan dan dimodifikasi dengan Pasepan atau Takepan Sambuk. selengkapnya

Tanah dan Langit: Klasifikasi Simbolisme Yang Dualistik

kategori: Artikel Pilihan
Manusia pada hakikatnya berasal dari pertemuan langit dan tanah, manusia hidup di atas tanah dan di bawah langit, mati pun kembali ke tanah dan langit. Hubungan antara manusia dan tanah sangatlah erat tidak mungkin dipisahkan, demikian juga hubungan manusia dengan langit. Kelangsungan hidup manusia sangat tergantung dari keberadaan tanah, dan sebaliknya, tanah pun memerlukan perlindungan manusia untuk eksistensinya sebagai tanah yang memiliki makna dan fungsi. selengkapnya