Artikel Terbaru

Nyepi Dalam Kegaduhan

kategori: Hari Suci
Mari sejenak mengingat alunan mendiang Franky Sahilatua berikut, “Hari ini telah terbaca, Tentang banjir dan gajah mati, Gempa bumi dan para pencuri, Harga harga tinggi.” Syair tersebut merupakan penggalan lagu “Hari Ini Telah Terbaca” yang didendangkan Franky di era tujuh puluhan. Syair tersebut menggambarkan situasi kehidupan bangsa Indonesia masa itu, yang ternyata hingga kini masih banyak terjadi. Bahkan skalanya jauh lebih besar dan berintensitas lebih tinggi. selengkapnya

Perayaan Nyepi dan Gerhana Matahari

kategori: Hari Suci
Nyepi, perayaan Tahun Baru Saka 1938 bagi umat Hindu jatuh pada 9 Maret 2016. Perayaan Nyepi kali ini bertepatan dengan gerhana matahari total, yang sering dikaitkan dengan berbagai mitos kesialan, walaupun secara ilmu pengetahuan modern diketahui bahwa gerhana matahari merupakan peristiwa alam biasa yang datang secara berulang. selengkapnya

Meneguhkan Jalan Peradaban

kategori: Hari Suci
Hari raya Nyepi pada hakikatnya adalah peristiwa budaya dengan diakuinya tahun Saka pada 78 Masehi oleh Raja Kaniska I di India Utara. Hal itu seiring dengan perubahan strategi perang sang raja: menjadi diplomasi dan persahabatan. selengkapnya

10 Abad Jejak Gerhana di Nusantara

kategori: Artikel Baru
Gerhana matahari total adalah fenomena alam biasa yang mulai terjadi sejak terbentuknya tata surya 4,5 miliar tahun lalu. Namun, peristiwa itu menjadi langka karena hanya sedikit daratan di muka bumi yang bisa menyaksikan dan merasakan dampaknya. Karena itu, tak banyak dokumentasi nenek moyang kita yang merekam gerhana matahari di Nusantara. selengkapnya

Sekilas Tentang Percandian Muara Jambi

kategori: Artikel Baru
Provinsi Jambi terletak di pulau Sumatra merupakan salah saru wilayah negara RI yang sangat kaya dengan situs kepurbakalaan. Situs kepurbakalaan yang masih dijadikan sebagai bukti abadi di bumi Jambi adalah Situs Percandian Muara Jambi yang terletak di kabupaten Muara Jambi, Provinsi Jambi di pulau Sumatra. Untuk mencapai situs percandian ini dapat ditempuh melalui jalan darat dari kota Jambi yang menempuh perjalanan darat sekitar tiga puluh menit, atau juga bisa melalui perjalanan sungai Batanghari dengan perahu bermotor (dalam bahasa lokal dinamai ketek atau pompong). selengkapnya

Bunga Yang Tidak Layak Dipakai Sembahyang

kategori: Artikel Baru
Melakukan sembahyang jika tanpa dilengkapi dengan sarana bunga, rasanya kurang afdol. Memang pada momen tertentu sarana itu tidak mutlak, seperti misalnya sembahyang yang dilakukan di kantor bagi pegawai ataupun di sekolah bagi pelajar, kadang tanpa menggunakan sarana apapun, cukup dengan menguncarkan Gayatri Mantram saja. Tentu jika mungkin untuk mempersiapkan sarananya, jelas itu lebih baik. Tapi yang terpenting adalah jangan sampai karena ketidak tersediaan sarana, lantas menyebabkan sembahyang itu urung untuk dilakukan. selengkapnya

Upacara Nangluk Merana (Kasus Pelebon Jero Ketut)

kategori: Upacara
Berbicara upacara tradisional di daerah Bali tidak boleh lepas dari suatu evolusi sosial budaya pada masyarakat. Evolusi sosial budaya perkembangan umat manusia melewati empat gelombang peradaban : (1) peradaban yang berorientasi pada nilai peradaban asli orientasi pada kearifan lokal; (2) peradaban asli beraktualisasi dengan masuknya agama besar, termasuk Hindu; (3) peradaban yang bersinergi dengan nilai modern, termasuk politik, ekonomi, kekuasaan, iptek; (4) peradaban yang berorientasi pada keluhuran nilai luhur kemanusiaan atau humaniori. selengkapnya

Generasi Muda Hindu, Toleransi dan Pancasila

kategori: Artikel Baru
Secara intrisik-normatif dalam Hindu toleransi bagi pemeluk keyakinan yang berbeda bukanlah kategori yang produktif untuk diwacanakan setidaknya bagi kalangan internal. Radhakrishnan menyebutkan sedari hal perkembangan antara Hindu sebagai filsafat dan agama senantiasa pararel dalam menguji persoalan-persoalan tentang hakekat Tuhan, akhir kehidupan dan hubungan individu dengan spirit universalistik. Artinya, fungsi kritis filsafat pada tahapnya yang paling awal dengan refleksi rasional senantiasa mengoreksi keyakinan yang memandang Hindu sebagai agama, sehingga Hindu itu sendiri sulit dikatakan sebagai aturan-aturan yang dogmatis. selengkapnya

Drona Jaya [2]

kategori: Artikel Pilihan
Pandu Dewanata raja Astina, wafat tatkala memadu kasih dengan Dewi Madri, ibu dari sang kembar Nakula Sadewa. Merupakan hasil perbuatan masa lampau oleh Pandu Dewanata sendiri. Para Pandawa Lima putra Pandu : Darmawangsa, Bima, Arjuna, Nakula, Mahadewa masih berusia remaja, diasuh oleh Dewi Kunti, tinggal bersama didalam kraton Astina. selengkapnya