Artikel Terbaru

Sekilas Tentang Percandian Muara Jambi

kategori: Artikel Baru
Provinsi Jambi terletak di pulau Sumatra merupakan salah saru wilayah negara RI yang sangat kaya dengan situs kepurbakalaan. Situs kepurbakalaan yang masih dijadikan sebagai bukti abadi di bumi Jambi adalah Situs Percandian Muara Jambi yang terletak di kabupaten Muara Jambi, Provinsi Jambi di pulau Sumatra. Untuk mencapai situs percandian ini dapat ditempuh melalui jalan darat dari kota Jambi yang menempuh perjalanan darat sekitar tiga puluh menit, atau juga bisa melalui perjalanan sungai Batanghari dengan perahu bermotor (dalam bahasa lokal dinamai ketek atau pompong). selengkapnya

Bunga Yang Tidak Layak Dipakai Sembahyang

kategori: Artikel Baru
Melakukan sembahyang jika tanpa dilengkapi dengan sarana bunga, rasanya kurang afdol. Memang pada momen tertentu sarana itu tidak mutlak, seperti misalnya sembahyang yang dilakukan di kantor bagi pegawai ataupun di sekolah bagi pelajar, kadang tanpa menggunakan sarana apapun, cukup dengan menguncarkan Gayatri Mantram saja. Tentu jika mungkin untuk mempersiapkan sarananya, jelas itu lebih baik. Tapi yang terpenting adalah jangan sampai karena ketidak tersediaan sarana, lantas menyebabkan sembahyang itu urung untuk dilakukan. selengkapnya

Upacara Nangluk Merana (Kasus Pelebon Jero Ketut)

kategori: Upacara
Berbicara upacara tradisional di daerah Bali tidak boleh lepas dari suatu evolusi sosial budaya pada masyarakat. Evolusi sosial budaya perkembangan umat manusia melewati empat gelombang peradaban : (1) peradaban yang berorientasi pada nilai peradaban asli orientasi pada kearifan lokal; (2) peradaban asli beraktualisasi dengan masuknya agama besar, termasuk Hindu; (3) peradaban yang bersinergi dengan nilai modern, termasuk politik, ekonomi, kekuasaan, iptek; (4) peradaban yang berorientasi pada keluhuran nilai luhur kemanusiaan atau humaniori. selengkapnya

Generasi Muda Hindu, Toleransi dan Pancasila

kategori: Artikel Baru
Secara intrisik-normatif dalam Hindu toleransi bagi pemeluk keyakinan yang berbeda bukanlah kategori yang produktif untuk diwacanakan setidaknya bagi kalangan internal. Radhakrishnan menyebutkan sedari hal perkembangan antara Hindu sebagai filsafat dan agama senantiasa pararel dalam menguji persoalan-persoalan tentang hakekat Tuhan, akhir kehidupan dan hubungan individu dengan spirit universalistik. Artinya, fungsi kritis filsafat pada tahapnya yang paling awal dengan refleksi rasional senantiasa mengoreksi keyakinan yang memandang Hindu sebagai agama, sehingga Hindu itu sendiri sulit dikatakan sebagai aturan-aturan yang dogmatis. selengkapnya

Drona Jaya [2]

kategori: Artikel Pilihan
Pandu Dewanata raja Astina, wafat tatkala memadu kasih dengan Dewi Madri, ibu dari sang kembar Nakula Sadewa. Merupakan hasil perbuatan masa lampau oleh Pandu Dewanata sendiri. Para Pandawa Lima putra Pandu : Darmawangsa, Bima, Arjuna, Nakula, Mahadewa masih berusia remaja, diasuh oleh Dewi Kunti, tinggal bersama didalam kraton Astina. selengkapnya

Natha dan Niti

kategori: Artikel Baru
Natha, raja atau seorang pemimpin, seharusnya berpegang teguh pada niti atau ajaran kepemimpinan. Sebuah kitab berjudul Nitisastra menguraikan secara mendalam ajaran kepemimpinan yang seharusnya dihayati oleh seorang pemimpin. Ajaran yang dikandung di dalamnya menyangkut berbagai aspek, mulai dari bagaimana seorang pemimpin membaca tanda-tanda jaman, menghadapi rakyatnya, sampai pada menentukan seorang pendeta kerajaan. selengkapnya

Tumpek Landep

kategori: Hari Suci
Tumpek Landep Memuja Sang Hyang Pasupati, Pertajam IdepUMAT Hindu kembali merayakan rerahinan Tumpek Landep, Sabtu Kliwon Wuku Landep (7 Mei 2011) hari ini Sanicara Kliwon uku landep. Pada Tumpek Landep, umat Hindu memuja Ida Sang Hyang Widhi dalam prebawa-nya sebagai Sang Hyang Pasupati yang telah menganugerahkan kecerdasan atau ketajaman pikiran sehingga mampu menciptakan teknologi atau benda-benda yang dapat mempermudah dan memperlancar hidup, seperti sepeda motor, mobil, mesin, komputer (laptop) dan sebagainya. selengkapnya

Swadharma dan Paradharma

kategori: Artikel Pilihan
Istilah swadharma dan paradharma sudah sangat sering didengar, dibicarakan, dipraktekkan, dan dijadikan bahan kajian oleh para sedharma di tanah air Indonesia. Ternyata istilah ini begitu pas dan relevan bagi umat Hindu yang merupakan ajaran suci tersurat dalam pustaka suci Bhagaivadgita sebagaimana telah disitir di depan. Kata swadharma dan paradharma berasal dari bahasa Sansekerta, yakni dari kata swa, para dan dharma. Kata swa artinya sendiri, diri sendiri, aku, orang-orang dari golongan sendiri, teman. Kata selengkapnya

Majapahit Dalam Sejarah [3]

kategori: Artikel Pilihan
Bangunan suci darmma haji berjumlah 27. Bangunan ini bertujuan untuk memuliakan para kerabat raja yang telah meninggal. Selain itu, leluhur raja dipuja dan dimuliakan setara dewata di bangunan-bangunan tersebut. Salahsatu tempat pen-dharma-an dibangun dalam masa Rajasanagara alah Prajnaparamitapuri yang dihabiskan untuk memuliakan tokoh Rajapatni, nenek Hayam Wuruk. Nagarakrtagama menguraikan sebagai berikut: selengkapnya