Artikel Terbaru

OM TAT SAT: Om Itulah yang (sejati) Ada

kategori:
Om adalah getaran alam semesta yang teridri atas tiga huruf AUM, suara ajaib yang menyebabkan segalanya ada, teratur dalam satu harmoni semesta. Om merupakan satu kesatuan utuh dari daya cipta, memelihara dan melebur yang merupakan esensi dari kehidupan. Buwana kosa menyatakan la halus teramat sulit dipahami yang gaibnya bagiakan angkasa, tiada namun kenyataanya ada. Om adalah suara ajaib dengan mana yang sejati dan hakiki “itu” (Tat) menyatakan sebuah keberadaan “ada” (Sat). selengkapnya

Trias Politika Hindu

kategori: Artikel Baru
Pemikiran mereka, bahkan telah merambah ranah yang menurut para pemikir politik modern cukup kontroversial, yakni apakah politik Hindu bersifat religius atau sekuler? Doktrin politik Santiparwa dengan tegas menyatakan bahwa, “Tanpa politik, Weda pun akan sirna, semua aturan hidup akan musnah, semua kewajiban akan terbaikan, tujuan hidup manusia tidak mungkin tercapai, sehingga pada politiklah semuanya berlindung.” Apabila dibaca sekilas, seolah-olah kedudukan politik lebih tinggi daripada Weda sebagai otoritas tertinggi kitab suci Hindu. selengkapnya

Pendidikan Politik Hindu

kategori: Artikel Baru
Berbicara soal pendidikan politik Hindu, tidak dapat dilepaskan dari keberadaan kitab-kitab kesustraan Hindu, baik yang ada di India maupun yang ada di Indonesia, khususnya di Bali. Seperti, kitab Manawadharma Sastra, Arthasastra, Nitisastra, Rajadharma, kitab Dhandaniti, dan lain-lain. Artinya, ketika mau berbicara soal pendidikan politik Hidu, maka rasanya tidak mungkinjika tidak merujuk kitab-kitab yang disebutkan di atas selengkapnya

Mutiara Nitisastra

kategori: Artikel Baru
Menganut ajaran agama Hindu, kaum terpelajar, filosof, ahli sosio-religius, dan masyarakat dunia memahami Nitisastra sebagai kompendium ajaran agama Hindu yang hipogramnya tiada lain ialah Kitab Suci Weda. Pun demikian, Nitisastra mengandung ajaran yang luas. Namun secara sempit diartikan sebagai ajaran tentang kebijaksanaan duniawi, etika sosial politik, tuntunan dan juga berarti ilmu pengetahuan tentang negara atau iimu bangun politik berdasarkan ajaran agama Hindu. selengkapnya

Diperbatasan Lidah Sejatinya Zona Anugerah

kategori: Artikel Pilihan
Lagi kita bicara tentang lidah. Karena lidah adalah sarana berucap, berbahasa, dan menyuarakan sari-sari shastra. Dan juga karena lidahlah yang biasanya dirajah dalam upacara inisiasi, untuk mendudukkan Saraswati, bahkan Sang Hyang Pashupati, agar kata-kata yang ke luar tidak kosong seperti ampas. Berikut ini, sedikit tambahan perbincangan tentang lidah. selengkapnya

Mencari dan Menanti

kategori: Artikel Baru
Lebih ke rasa! Demikian pendapat yang dinyatakan ketika seseorang membaca dua tulisan saya yang telah diturunkan dihalaman akhir Wartam. Siapa seseorang itu, tidak akan di terangkan disini. Saya ingin membiarkannya tetap menjadi rahasia. Tidak ada alasan khusus, keputusan itu saya ambil hanya karena ingin, itu saja. Semoga keputusan itu, tidak mendatangkan pikiran yang buruk dari segala penjuru. selengkapnya

Kunang-Kunang ‘Menandingi’ Rembulan

kategori: Artikel Baru
Sebuah apologi seringkali dihadirkan pencerita di dalam cerita. Pada umumnya, apologi yang dikatakan adalah mengenai ketidakmampuan. Ketidakmampuan untuk memahami hakikat, ketidak-mampuan untuk mengatakan dan menyatakan perasaan dengan kata-kata yang tepat. Ada kalanya apologi itu dipandang sebagai sebuah kesadaran kolektif dari pencerita-pencerita dalam sastra, baik itu tradisi maupun modern. selengkapnya

Ujian di Danau

kategori: Artikel Baru
Bhima dan Arjuna mengejar Jayadratha, walaupun jaraknya lebih dari 3 kilometer, dengan bantuan panah-panah dewata Arjuna menembak mati kuda-kuda kereta-nya. Kemudian Arjuna menerjang Jayadratha, saat ia mencoba berlari kencang ketakutan. “Berbaliklah, Jayadratha,” teriak Arjuna. “Berputarlah, raja yang gagah, penculik wanita!” selengkapnya

AJA WERA yang Dipelesetkan Maknanya Menghambat Upaya Kwalitas Umat Hindu

kategori: Artikel Baru
Di Bali kata majemuk Aja Wera tidak asing lagi. “Aja Wera” terdiri atas dua buah kata. “Aja” dan “Wera”. "Aja" kawi berarti “jangan” (Kamus Bahasa Bali I Wayan Simpen AB) dan (Kamus Bahasa Kawi Mardi Warsito). “Wera” berarti ribut, bahasa Balinya uyut, endeh (Kamus Bahasa Bali I Wayan Simpen AB), juga berarti “mabuk”, gila-gilaan (Kamus Bahasa Kawi Mardi Warsito). Jadi “Aja Wera” atau “Aja Were” berarti jangan ribut, jangan mabuk, jangan gila-gilaan, ketika seseorang ingin belajar pengetahuan agama maupun pengetahuan lainnya hendaknya dilakukan dengan sungguh-sungguh dalam situasi yang tenang, aman, tidak ribut, gaduh dan tidak mabuk, gila- gilaan berbuat aneh-aneh. selengkapnya