Artikel Terbaru

'Kemerdekaan’ dari benang merah Kerajaan Hindu

kategori: Artikel Baru
Kata ini tidak hanya berarti bebas, liberasi, tetapi juga raihan dari sebuah perjuangan (tapa) dari ketertindasan, pun keterikatan. Degan kata lain, siapapun merasakan ketertindasan, hak azasinya yang paling hakiki, yaitu kebebasan, pasti sangat mendambakan kata itu bagai menemukan oase di gurun pasir. “Merdeka” mewakili hasrat primordial umat manusia. Tak heran, nyawapun rela dikorbankan. selengkapnya

Mahardika Namaskara

kategori: Artikel Baru
Menurut Yoga Sutra Patanjali ada Sembilan jenis penghalang yang menjadikan seseorang tidak mampu mencapai kemerdekaan atau kebebasan. Kesembilan jenis itu sepenuhnya berhubungan dengan kualitas diri. Sepanjang itu semua masih bercokol di dalam diri, maka dipastikan bahwa upaya meraih mahardika atau kebebasan akan terhambat. Mengapa demikian? Karena kesemuanya ini akan menjadi seperti sebongkah batu yang menghalangi aliran air. Maka dari itu, untuk meraih kebebasan, seseorang harus mampu menghilangkan kesembilan jenis ritangan ini. selengkapnya

Nagarakretagama atawa Nagaragama?

kategori: Artikel Baru
Nagarakretagama adalah kakawin Jawa Kuno karya Mpu Prapanca yang paling termasyur dan ditulis tahun 1365. Naskahnya ditemukan kembali pertama kali tahun 1894 oleh J.L.A Brandes, seorang ilmuan Belanda yang mengiringi ekspedisi KNIL di Lombok, di perpustakaan Raja Lombok di Cakranegara sebelum istana sang raja dibakar tentara KNIL. Karya sastra Jawa Kuna berbentuk kakawin dengan titel Negarakretagama yang judul aslinya Desawarnana ini, merupakan sumber sejarah terpercaya dari kerajaan Majapahit di bawah pemerintahan Raja Hayam Wuruk (Sri Rajasa-nagara), lantaran ditulis semasa kerajaan Hindu Majapahir berdiri dan masih berputar roda kerajaannya. selengkapnya

Mahardika di Antara ‘The Four Freedom’

kategori: Artikel Baru
Para filsuf eksistensialis memahami manusia adalah mahluk bebas. Jadi, kemerdekaan adalah hakikat eksistensi manusia. Meskipun dalam realitas empiris manusia tidak pernah sepenuhnya bebas karena sebagai eksistensi, ia selalu berada dalam ruang, waktu, dan tindakan yang membatasi manusia dalam kebebasannya. Batasan itu dapat berwujud tata aturan, nilai, dan norma yang mengatur kebebasan individu yang lain. Selain itu, juga terdapat batasan-batasan yang berwujud pengingkaran terhadap hakikat kebebasan dan kemanusiaan, misalnya penjajahan. selengkapnya

Tujuhbelas Delapan dalam Perspektif Hindu

kategori: Artikel Baru
Begitulah salah satu penggalan puisi Chairil Anwar ditulis 14 Juli 1943 yang berjudul merdeka. Hal ini mengisyaratkan bangsa Indonesia merindukan kebebasan dari belenggu penjajahan bangsa asing. Bangsa Indonesia merindukan kebebasan dari segala merdeka dan juga mahardika. Merdeka adalah bebas dari belenggu penjajahan, baik penjajahan bangsa asing, penjajahan bangsa sendiri, sedangkan Mahardika bebas menuangkan gagasan maupun ide tanpa tekanan pemikiran orang lain. selengkapnya

Niti Yoga

kategori: Artikel Pilihan
Seorang pemimpin yang baik adalah sekaligus ia yang mahir dalam Yoga. Rsi Chanakya mengindikasikan hal ini dalam karyanya Kautilya Niti Sastra, sebagaimana kutipan di atas. Chanakya mengatakan bahwa seorang pemimpin mesti memiliki paling tidak empat kualifikasi di dalam dirinya, yakni: pertapa, orang yang telah puas dalam kehidupan duniawi, mereka yang memiliki rasa ingin tahu yang tinggi dan welas asih tanpa batas. Jika tidak demikian, pemimpin yang ada akan menjadi sekedar penguasa, bukan pelayan selengkapnya

Agama dan Negara

kategori: Artikel Baru
Sastra leluhur Itihasa Mahabharata menorehkan, Panca Pandawa bersama Krsna mendirikan kerajaan Indraprastha kerena kerakusan dan ketamakan Duryodana yang mempengaruhi ayahnya Drstaratha ingin menguasai Hastinapura. Namun negeri Indraprastha bersama rakyatnya gemah ripah loh ginawe, bahkan mampu melakukan upacara Rajasuya. selengkapnya

Wanita Hindu: Panca Kanyam

kategori: Artikel Baru
Jangan ditanya soal prenatal education (pendidikan bayi dalam kandungan), agama Hindu telah melakukannya sejak awal peradaban. Pada saat wanita dalam keadaan hamil, suami dan keluarga menyanyikan sloka pilihan kitab Itihasa dengan sepenuh hati dihadapannya. Harapannya, bayi yang bersemayam di dalam kandungan dengan penuh sukacita menyimaknya selengkapnya

Ramayana dan Mahabharata: Antara Dongeng dan Kenyataan

kategori: Artikel Baru
“ITIHASA dikatakan sebagai Itihasa karena ia memuat cerita-cerita yang sudah pernah terjadi sebelumnya. Pemaparan kejadiannya nyata (yang sudah pernah terjadi) tersebut dipergunakan untuk menyampaikan ajaran-ajaran mulia perihal dharma (kewajiban-kewajiban suci), artha (mengumpulkan uang dan harta benta), kama (pemenuhan keinginan-keinginan), dan moksa (pembebasan abadi dari kesengsaraan). selengkapnya

Sekelumit Jaya Baya

kategori:
Kaliyuga, bila sama dengan zaman kali dalam Hindu barangkali serupa dengan zaman edan menurut Rangga Warsita. Ciri-ciri zaman edan disebutkan, antara lain benar dan salah, baik dan buruk, dan dualitas lainnya tidak mudah dibedakan. Dalam Serat Kalatidha dalam pupuh sinom disebutkan seperti berikut :”menyaksikan zaman gila, serba susah dalam bertindak, ikuti gila tidak akan tahan, tapi kalau tidak ikut gila, tidak akan mendapat bagian, kelaparan pada akhirnya, namun telah menjadi kehendak Tuhan, sebahagia-bahagianya orang yang lalai, akan lebih bahagia orang yang tetap ingat dan waspada,” kiranya jelas yang dimaksudkan dengan zaman edan dalam pupuh ini. selengkapnya