Artikel Terbaru

Multi Peran Wanita

kategori: Artikel Pilihan
Berangkat dari gagasan tersebut, kemudian dikaitkan dengan adanya keinginan wanita untuk meningkatkan perannya di sektor publik, tanpa dibarengi dengan upaya untuk mengurangi perannya di sektor domestik merupakan dilema yang tak kunjung berakhir. Artinya, ketika multi peran wanita diciptakan di saru sisi, sementara di sisi lain peran kulturalnya tidak dikurangi, atau setidak-tidaknya tidak diciptakan modifikasi dalam kehidupannya sebagai wanita tradisional, maka hal tersebut akan menyulitkan diri mereka sendiri. selengkapnya

Tiga Ta Vs Panca Ma (harta, tahta, wanita)

kategori: Artikel Baru
Lingkaran panca ma disarankan untuk dihindari karena merugikan diri sendiri dan masyarakat. Aktivitas madat tidak saja mencakup kegiatan mengkonsumsi obat-obatan yang tergolong psikotropika, namun apa saja bisa membuat diri manusia melakukan aktivitas itu. Main game, bahkan menekuni suatu ilmu juga bisa membuat manusia menjadi pemadat. Karena suntuknya bermain game, orang bisa lupa segalanya, bahkan lupa makan dan minum. selengkapnya

Bhaktityaga: Ujian Bagi Dharmawangsa

kategori: Artikel Baru
Dharmawangsa diuji? Demikianlah tersurat dalam Swarga-rohana parwa, kitab ke-18 atau terakhir dari Mahabharata. Ujian maha berat, karena menyangkut sebuah pandangan atau keyakinan. Di dalamnya terkandung ajaran rokhani yang patut dihayati. selengkapnya

Apa Itu Meditasi Eling Lan Waspada? [2]

kategori:
Pertama-tama kita harus 'sadar', harus eling. Dari sinilah kita memulainya; memulai semuanya. Sadar disini bisa diibaratkan dengan bangun tidur, ia juga bisa diibaratkan dengan terbitnya sang surya. Kita mengawali segala aktivitas keseharian kita, sejak bangun tidur. selengkapnya

Fungsi "Kahyangan Tiga" Dalam Desa Adat

kategori: Artikel Pilihan
Dalam salah satu tulisannya yang berjudul "Het Godsdienstig Karakter Der Balische Dorpsgemeenschap", R. Goris mencatat bahwa ciri religius dari desa adat di Bali dibentuk oleh tiga unsur fundamental yaitu: (1) Sejumlah tempat suci desa (Pura-Pura desa) sebagai tempat pemujaan; (2) susunan kepengurusan desa (prajuru desa) yang selalu dikaitkan dengan fungsi-fungsi keagamaan; (3) berbagai upacara seremonial (upakara)yang konsisten dilakukan oleh desa. selengkapnya

Sarameya Menonton Yajna

kategori: Artikel Baru
Posisinya cukup jauh ia hanya menonton upacara yajna yang dilaksanakan oleh Sang Srutasena atas perintah Maharaja Janamejaya. Ia menyadari dirinya kotor, tak patut mendekat ke kancah upacara besar itu, upacara yajna yang dilaksanakan di Kuruksetra. selengkapnya

"Happy Birthday", Tradisi Salah Kaprah

kategori: Artikel Pilihan
Dunia Barat merayakan hari ulang tahun dengan sebutan Happy Birthday atau Selamat Hari Ulang Tahun. Selanjutnya, dunia Timur khususnya India dan Indonesia (Bali) pun mengikutinya mentah-mentah. Tanpa merasa ada sesuatu yang salah, tanpa pertanyaan apapun juga. selengkapnya

Swana dan Swarga

kategori: Artikel Baru
Kisah perjalanan Sang Dharmawangsa ke sorga (Swarga) menghadirkan sebuah bahan renungan. Bahwa Sang Dharmawangsa, setelah meninggalkan ke empat adiknya dan Sang Dewi Drupadi istrinya, masih melanjutkan perjalanannya diikuti oleh seekor anjing (swana) yang setia. Mengetahui hal itu, Dewa Indra turun mendekati sambil meminta Sang Dharmawangsa meninggalkan anjingnya itu. "Ananda tidak dapat masuk sorga bila bersama anjing itu" sabda Dewa Indra. selengkapnya

Nilai Mitos Raja Purana

kategori: Artikel Pilihan
Dalam rangka memantapkan dan melengkapi Sradha Umat Hindu menjelang Upacara Agung Panca Bali Krama yang puncak penyelenggaraaannya tanggal 17 Maret 1999 di i pura terbesar di dunia Besakih, perlu kiranya rangsangan-rangsangan untuk membangkitkan emosi keagamaan. Rangsangan-rangsangan tersebut tidak terbatas hanya informasi yang bernilai magis, keajaiban-keajaiban yang pernah terjadi, tetapi perlu juga rangsangan-rangsangan dari kajian-kajian ilmiah dari para ilmuwan yang ahli dalam bidang religi mitologi. selengkapnya

Majapahit Dalam Sejarah [5]

kategori: Artikel Baru
Kerajaan Majapahit yang berkembang antara abad ke-14-awal ke-16 M merupakan penerus Kerajaan Singha-sari yang berkembang dalam masa sebelumnya (abad ke-13 M). Raja-raja Singhasari dan Majapahit berpangkal pada tokoh Ken Angrok yang nama penobatannya ialah Sri Ranggah Rajasa Bhattara sang Amurwwabhumi. Oleh karena itu, tokoh Ken Angrok dapat dinyatakan sebagai vamsakrta (pendiri dinasti). Dinasti yang dikembangkannya adalah wangsa Rajasa (Rajasavamsa). selengkapnya