Artikel Terbaru

Memahami Dharma Gita Dalam Sistem Nilai Agama Dan Budaya Hindu

kategori: Artikel Baru
Dalam perhelatan tualang angkah kita yang makin jauh menjelajahi ranah zaman Kali hingga ke gerbang milenium ketiga ini, maka berarti sejauh itu pulalah dharma gita (kidung dharma/religius) dikidungkan dalam bioritmis hidup dan kehidupan. Bahkan, gita dharma ini yang secara kosmologis an sich akan bersifat ad infinitum manakala kehidupan itu sendiri meniadakan hidup kita. selengkapnya

Gita Dan Kita

kategori: Artikel Pilihan
Rabindranath Tagore adalah penulis karya sastra Gitanjali. Berkat karya sastranya ini dia mendapat hadiah Nobel kesusastraan. Penyair ini juga pernah berkunjung ke Bali pada tahun 1927, sebuah perjalanan setelah mengunjungi Jawa. Lewat Gitanjali kita mengetahui betapa sebuah gita atau "puisi" dapat dijadikan sebuah persembahan. Gita memang bukan sekedar puisi, bukan pula sekedar persembahan tetapi adalah juga teriakan jiwa lewat kidung yang indah. selengkapnya

Toya Pawitra

kategori: Artikel Baru
Bima yang dikisahkan dalam cerita ini, disuruh oleh gurunya Bagawan Drona untuk mencari air suci, tirta amreta ke sebuah tempat yang sering juga disebut dengan alas Tibrasara di daerah Candra-muka, yang dihuni oleh dua orang raksasa. Hal ini bisa dimaknai bahwa untuk mencari 'kesucian' dan 'kesejatian' seseorang harus melalui suatu proses kesengsaraan dan penderitaan di dalam kawah Candramuka dan bisa mengalahkan raksasa-raksasa itu yang pada hakikatnya melambangkan nafsu keserakahan dan kekurangan, demikian perumpamaan sering diberikan. selengkapnya

Tut Wuri Handayani: Siapa Punya?

kategori: Artikel Baru
Ketiga prinsip dasar pendidikan ini, jika dikaji dari aspek ontologisme pendidikan, maka dapat dijabarkan sebagai berikut. Pendekatan ontologis menekankan pada hakikat atau keberadaan pendidikan itu sendiri. Artinya, keberadaan atau hakikat pendidikan adalah berkenaan dengan keberadaan atau hakikat manusia itu sendiri. Atau dengan bahasa lainya dapat dikatakan bahwa peserta didik dan pendidik tidak terlepas dari makna keberadaan manusia itu sendiri selengkapnya

Saripati Pendidikan Hindu

kategori: Artikel Baru
Sehingga akan ada empat belas Manu dan Manu pertama disebut sebagai Swayambu Manu. Setelah Swayambu Manu menikah dengan Satarupa maka lahirlah para manawa (anak manusia,). Setelah itu apa yang terjadi? Tentu saja para manawa beranak pinak menjadi tambah banyak, dan tambah banyak terus. Meski ada yang mati, yang lahirpun semakin banyak. Dalam siklus kelahiran dan kematian itu terjadilah tumimbal lahir (punarbhawa). selengkapnya

Tradisi

kategori: Artikel Pilihan
Mantra ini menjadi penting karena memiliki pesan yang sangat indah, tinggi, dan mendalam, yang ia adalah bukan sekadar doa, tetapi sekaligus perenungan spiritual, sekaligus meditasi, yaitu bermeditasi pada tujuan hidup seperti yang disebutkan di dalam kitab Upanisad ini. Juga, sekaligus perenungan spiritual karena ia merupakan perenungan "mulat sarira", yaitu "perjalanan spiritual" memasuki gudang harta karun sang diri sejati. selengkapnya

Revitalisasi Makna Tumpek Landep Dalam Kehidupan Masyarakat Modern

kategori: Hari Suci
Di Bali, budaya dan agama Hindu menjadi dua fenomena dalam satu realitas. Transformasi kebudayaan menuju tradisi religius terjadi begitu apik dalam ruang Hinduisme yang menebarkan aroma harmoni budaya dan agama. Fenomena budaya muncul sebagai ekspresi kebenaran (satyam), kesucian (sivam), dan kebahagiaan (sundaram) menuju realitas absolut (Brahman). Berbasis persembahan suci (yajna), masyarakat Hindu di Bali menyelaraskan gerak kehidupan adat dan budayanya menjadi kesatuan rasa (keindahan), agama (tradisi suci), dan buddhi tepet (kebijaksanaan). selengkapnya

Indrakila dan Indrajala

kategori: Artikel Baru
Indrakila itulah gunung tempat sang Arjuna bertapa. Oleh karena itu Indrakila disebut juga Indra Giri atau Indra Parwata. Di gunung ini pula Sang Arjuna mendapatkan berbagai godaan yang sesungguhnya merupakan perbuatan yang dilakukan oleh Hyang Indra sendiri. selengkapnya

Usaha Memahami

kategori: Hari Suci
Fokus sentral dari tradisi Nyepi adalah kedalaman kontemplatif. Pada kedalaman kontemplatif tersebut, manusia berusaha memahami ”goa hatinya”, yang dipercayai sebagai tempat bersemayamnya Brahman (Tuhan) di dalam diri sendiri. selengkapnya