Artikel Terbaru

Tampak Ing Paksi

kategori: Artikel Baru
Kitab Sarasamuccaya menguraikan sesuatu yang patut mendapat perenungan yang mendalam. Bagian akhir dari kitab yang merupakan intisari Mahabharata tersebut menyuratkan apa yang disebut sebagai "Jnana", atau kepradnyanan. Orang yang disebut majnana atau memiliki kepradnyanan adalah orang yang tidak terikat oleh keinginan dan kesedihan hatinya (tan raket ikang harsa lawan prihati ri manahnya). Pikiran seperti itu disebut pradnya. selengkapnya

Brahmacari: Masa Menuntut Ilmu [2]

kategori: Artikel Baru
Dalama Agama Hindu, kehidupan dibagi berdasarkan jenjang kehidupan yang mesti dilalui sesuai dengan tingkatan-tingkatan yang disebut dengan Catur Asrama. Jenjang kehidupan manusia berdasarkan alas tatanan rohani, waktu, umur dan sifat perilaku manusia. Catur Asrama berasal dari Bahasa Sansekerta yaitu dari kata Catur dan Asrama. Catur berarti empat dan Asrama berarti tempat atau lapangan "Kerohanian". Kata Asrama sering juga dikaitkan dengan jenjang kehidupan selengkapnya

Kriya Yoga Mengawali Pendakian Spiritual

kategori: Artikel Pilihan
Memasuki Sadhana Pada berarti memasuki paparan spiritual praktis untuk mencapai Samadhi dalam berbagai kategori, seperti yang dipaparkan dalam Samadhi Pada. Dalam Samadhi Pada telah disajikan idealisasi-idealisasi terpenting Yoga untuk mencapai. Kini, Patanjali akan memaparkan bagaimana mencapai semua dalam Sadhana Pada sebagai paparan praktis praktik sprirtual -dibuka dengan Kriya Yoga melalui dua sutra berikut. selengkapnya

Jagaraga

kategori: Artikel Baru
Jagaraga nama sebuah desa di Buleleng tempat terjadinya perang Buleleng menghadapi Belanda menarik perhatian kita. Nama itu telah ada sebelum perang terjadi, namun makna yang dikandungnya agaknya relevan dengan makna perang itu sendiri. Jagaraga dapat dimaknai "menjaga diri, mengendalikan diri", namun kata raga sendiri memiliki makna yang lebih khusus. Raga di dalam Kakawin Ramayana berarti nafsu: Ragadi musuh maparo, ri hati ya tonggwannya tan madoh ring awak. selengkapnya

Revitalisasi Makna Tumpek Landep Dalam Kehidupan Masyarakat Modern [4]

kategori: Artikel Baru
Pengertian idep dalam konteks TUmpek Landep tampaknya tidak tepat jika disamakan dengan manah (pikiran) yang hanya identik dengan daya tahu manusia. Mengingat manusia dalam dirinya juga memiliki kehendak dan ego yang menyempurnakan hakikat kemanusiaannya. Kata "idep" lebih tepat dijelaskan dalam terminologi "citta" atau alam pikiran menurut ajaran Samkhya-Yoga. Seperti dijelaskan oleh Maharsi Patanjali bahwa: selengkapnya

Pura Penataran Agung Peed

kategori: Artikel Baru
Secara rasional maupun para penganut kepercayaan yang hidup pada zaman Megalithik itu menaruh perhatian yang sungguh-sungguh terhadap terpeliharanya kesuburan tanaman, binatang tumbuh-tumbuhan lainnya yang ada di bumi ini. Mereka mengharapkan kesuburan senantiasa terpelihara sehinga dapat memberi kenikmatan pada kehidupan, sungai yang bening, air pancuran yang jernih akan memberi kesuburan kepada masyarakat. Kesuburan yang terpelihara dengan baik dengan usaha yang benar-benar jernih akan memberi kesuburan kepada mereka sekalian. Makanan yang berlimpah ruah, tumbuhan yang terpelihara, binatang yang hidup sehat akan memberikan kesehatan kepada penduduk, dan Anak Cucu mereka. selengkapnya

Kautilya Artha Sastra [2]

kategori:
Sejarah tradisi politik India setua Veda dan politik sudah dikenal sejak awal Smrti dan Purana sebagai Dandaniti yang isinya merupakan kristalisasi tradisi Arthasastra dan Dharmasastra. Walaupun terdapat refrensi tentang naskah-naskah politik sebelum abad keempat SM, interpretasi yang paling populer, benar-benar ilmiah, dan paling kuasa atas trasisi itu ialah Kautilya Arthasastra. selengkapnya

Kala dan Mala

kategori: Artikel Pilihan
Cerita tentang Kalarahu cukup populer dalam masyarakat. Cerita yang bersumber dari kitab Adi Parwa, kitab pertama dari delapan belas kitab yang membangun Mahabharata, menceritakan Kalarahu menaruh dendam kepada Surya dan Candra, karena keduanya menjadi saksi atas perbuatannya ikut meminim Amreta bersama para Dewa. Ketika Amreta baru berada di kerongkongannya ia lalu dipenggal oleh Dewa Wisnu atas pemberitahuan dari Surya dan Candra. selengkapnya

Memahami Dharma Gita Dalam Sistem Nilai Agama Dan Budaya Hindu [2]

kategori: Artikel Pilihan
Dalam perhelatan tualang angkah kita yang makin jauh menjelajahi ranah zaman Kali hingga ke gerbang milenium ketiga ini, maka berarti sejauh itu pulalah dharma gita (kidung dharma/religius) dikidungkan dalam bioritmis hidup dan kehidupan. Bahkan, gita dharma ini yang secara kosmologis an sich akan bersifat ad infinitum manakala kehidupan itu sendiri meniadakan hidup kita. selengkapnya

Sistem Hukum dalam Arthasastra [2]

kategori: Artikel Pilihan
Dalam suatu teks Arthasastra dinyatakan bahwa seorang raja yang melaksanakan tugasnya melindungi masyarakat secara adil dan sesuai dengan ketentuan hukum, maka ia akan masuk surga. Sebaliknya, mereka (para pemimpin, termasuk dalam pengertian ini adalah para hakim atau mereka yang menjalankan tugas mengadili atau memberikan keadilan kepada masyarakat; Pen) selengkapnya