Artikel Terbaru

Resonansi Tattwa Susila Acara

kategori: Artikel Pilihan
Rangkaian tattwa-susila-acara merupakan satu kesatuan yang utuh dalam ajaran agama Hindu. Orang menyebut tiga rangkaian itu sebagai tiga kerangka dasar agama Hindu. Maksudnya ketiga kerangka dasar itu harus dikuasai dan diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. selengkapnya

Menyoal Pilar Keagamaan, Seperti Menerima Pilar Kebangsaan

kategori: Artikel Baru
Hindu, pada akhirnya harus mau melengkapi seperangkat syarat, seperti telah memiliki nama untuk agama, Tuhan, kitab suci, nabi, hari suci dan peranti administrasi lainnya. Andaikan saja sejumlah prasyarat ini dibuka lagi, mungkin Konghucu bukan agama terakhir yang akan diakui dan diterima resmi. Sebabnya, masih banyak "agama lokal" yang masih hidup subur, bahkan ada di tiap daerah seantero nusantara. selengkapnya

Berlindung pada Kebenaran "Satyam"

kategori: Artikel Baru
Kalimat "Satyam eva jayate" yang terdapat dalam kitab Mundaka Upanisad sudah menjadi sedemikian terkenal. Bahkan, mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Antasari Ashar ketika keluar lapas menikmati kebebasan, di hadapan media menyampaikan Satyam Eva Jayate, tapi ketika ada wartawan menanyakan sambil mengulang kalimat tersebut dengan kata "Jayante", Antasari juga ikut mengucapkan kalimat kurang tepat "Satyam Eva Jayante". Antasari sudah benar menguĀ­capkan jayate akhirnya ikut-ikutan mengucapkan yang kurang tepat secara tata bahasa Sanskerta. selengkapnya

Pemujaan Tri Murti untuk Mengendalikan Perubahan

kategori: Artikel Baru
Menurut keyakinan Hindu, hanya Tuhan yang kekal abadi tidak kena hukum perubahan. Semua ciptaan Tuhan tidak ada yang langgeng di alam semesta ini. Semua ciptaan Tuhan kena hukum Tri Kona yaitu utpati, sthiti dan pralina yaitu tercipta atau lahir, hidup dan lenyap tanpa bentuk. Menurut Bhuwana Kosa IV.33 yang dikutip di atas yang menciptakan hukum Tri Kona; utpati, sthiti, dan pralina itu adalah Tuhan sendiri. Ini artinya tidak ada ciptaan Tuhan yang luput dari proses utpati, sthiti, dan pralina. selengkapnya

Renungkanlah Enam Hal dalam Hidup

kategori: Artikel Baru
Untuk meningkatkan kualitas kehidupan di bumi ini ada dinyatakan dalam Bhagawad Gita XIII, 8 agar setiap saat merenungkan enam hal yang disebut sad anu dharsanam. Enam kelemahan itu kalau tidak direnungkan dapat menimbulkan penderitaan. Tapi kalau direnungkan baik-baik maka dampak negatifnya dapat diperkecil. selengkapnya

Bahaya Bermusuhan dengan Ibu

kategori: Artikel Baru
Dalam suatu kehidupan bersama seperti dalam kehidupan suatu rumah tangga ada saja masalah yang muncul. Kadang-kadang masalah tersebut dapat menguras pikiran dan mental. Misalnya, ada anak yang demikian memusuhi ibu kandungnya, sampai ibunya menjauhinya karena tidak tahan dimusuhi oleh anaknya. Sesungguhnya anak yang demikian itu menurut Sarasamuscaya yang dikutif di atas akan mendapat pahala buruk. Seperti miskin, senantiasa dirundung derita, seolah-olah dunia memusuhinya. selengkapnya

Lima Hal Orang Bisa disebut Bapak

kategori: Artikel Pilihan
BAPAK dalam babasa Sansekerta disebut dengan istilah "Pita" atau "Pitra" dalam bahasa Jawa Kuna. Pita atau Pitra juga berarti leluhur yang menurunkan anak, cucu, buyut, dan seterusnya. Penyebutan "bapak" dalam bahasa Indonesia mungkin berasal dari kata "bapa" dalam bahasa Jawa Kuno yang sudah lama mewarga ke dalam bahasa Bali. Kata bapa mungkin berasal dari bahasa Sansekerta dari kata "bat hara" yang asal katanya dari "btr" yang artinya melindungi. Hal inilah yang menyebabkan Dewa manifestasi Tuhan juga disebut Bhatara karena salah satu fungsi Dewa sebagai manifestasi Tuhan Yang Maha Esa memberi perlindungan ciptaanNya. selengkapnya

Ada Tiga Jenis Manusia Menurut Keinginannya

kategori: Artikel Baru
Sudah merupakan pengetahuan umum bahwa manusia yang lahir di dunia ini bermacam-macam jenisnya. Brahma Purana 228.45 telah memberikan arah bahwa wujud fisik ini hanya boleh digunakan sebagai alat untuk mencapai empat tujuan hidup yang disebut Catur Purusa Artha. Dalam Brahma Purana dinyatakan: Dharma, artha, kama Mokshanam sarira sadhanam. Wujud fisik yang disebut Sarira hanyalah boleh digunakan sebagai alat untuk mencapai dharma, artha, kama dan moksha. selengkapnya

Dimana Wanita Dihormati Disana Para Dewa Melimpahkan Anugerahnya

kategori:
Dalam Manawa Dharmasastra I. 32 ada dinyatakan bahwa laid dan perempuan sama-sama diciptakan oleh Tuhan. Dalam ajaran Hindu tidak dikenal bahwa wanita itu berasal dari tulang rusuk laki-laki. Ini artinya menurut sloka Manawa Dharmasastra tersebut bahwa laid dan perempuan menurut pandangan Hindu memiliki kesetaraan. Sayang dalam adat istiadat Hindu seperti di Bali misalnya wanita masih belum sepenuhnya setara terutama dalam perlakuan adat beragama Hindu. selengkapnya

Uang dan Manusia Bagaikan Air dan Perahu

kategori: Artikel Baru
Hubungan manusia dengan uang bagaikan hubungan antara air dan perahu. Tanpa ada air perahu tak bisa berlayar. Tapi perahu berlayar bukan mencari air, tapi mencapai pantai tujuan. Kalau perahu salah caranya berlayar, justru air itulah yang menenggelamkan perahu. Penumpang dan barang yang ada dalam perahu pun ikut tenggelam dan rusak karena air. selengkapnya