Artikel Terbaru

Sampah Upakara Yadnya: Berkah atau Musibah?

kategori: Upacara
Sampah upakara yadnya (menggambarkan sisi terang dan gelap keberagamaan umat Hindu. Sisi terangnya, sampah itu berkah karena menandai intensitas kesadaran dan kegiatan keagamaan. Semakin banyak sampah upakara yadnya, semakin tinggi kesadaran keagamaan, dan semakin banyak kegiatan keagamaan. Sisi gelapnya, bila kesadaran keagamaan tidak disertai kesadaran lingkungan sehingga sampah upakara yadnya menjadi musibah, entah malapetaka moral ataupun bencana alam. selengkapnya

Lungsuran, Surudan, Paridan

kategori: Artikel Pilihan
Hukum Tri Kona; utpeti-sthiti-pralina adalah sistem daur ulang kehidupan. Apa yang tiada menjadi ada, lalu terpelihara untuk akhirnya kembali sima. Begitupun dengan aktivitas yadnya, diutpeti dulu menjadi banten, disthiti menjadi haturan bhakti, sampai akhirnya menjadi pasuecan/paican Ida Bhatara. Saripati hasil pertemuan bhakti umat kalawan sueca Widhi/Ida Bhatara-Bhatari itulah kemudian lumrah disebut lungsuran atau surudan, yang dalam bahasa Sanskrit dinaikkan derajat maknanya menjadi prasadham (menikmati sajian yang telah disucikan). selengkapnya

Bisa, dan Misa-Misa

kategori: Artikel Pilihan
Ada tiga kata dalam khazanah bahasa Bali yang satu sama lain serangkai pengejawantahannya, yaitu bisa, nawang, dadi. Bisa, artinya ‘mampu' (berbuat sesuatu), nawang artinya 'tahu’ (uning/wikan) tentang sesuatu, dan dadi artinya “boleh” (melakukan sesuatu. Seseorang dikatakan bisa karena mampu berbuat atau melakukan sesuatu yang bisa dikerjakan. Sementara itu, disebut nawang, menunjuk pada pengetahuan yang diketahui atau dikuasai. Sedangkan dikatakan dadi, ketika seseorang sudah boleh melakukan apa yang semestinya dikerjakan, setelah yang bersangkutan dianggap bisa dan nawang. selengkapnya

Tidak Menyimpan Keburukan Sampai Mati

kategori: Artikel Baru
Dikatakan, mengubah orang jahat menjadi orang baik-baik bukan susah melainkan tidak mungkin. Sifat dan kelakuan jahat sudah menjadi darah dan daging bagi orang jahat. Kejahatan sudah menjadi dan memberikan “kepuasan” tersendiri baginya. Bahkan ia tidak akan bisa hidup tanpa “kepuasannya” tersebut, yaitu tanpa berbuat jahat mereka merasa hari-harinya menjadi aneh dan “tanpa rasa”. Hari-harinya seperti sudah menjadi keharusan untuk diisi dan dihias dengan kejahatan atau perbuatan-perbuatan tidak baik. selengkapnya

Manajemen Tri Hita Karana Era Millenium

kategori: Artikel Baru
Sifat individualistis tercermin dalam usaha pebisnis yang umumnya menempatkan kepentingan diri sendiri atau kelompok sendiri sebagai hal yang paling utama atau paling primer sedangkan kepentingan orang lain atau kepentingan bersama ditempatkan dalam posisi kepentingan sekunder. Sifat kedua dari bisnis Barat adalah bersifat kapitalis yang berarti proses manajemen lebih mengejar dan mengutamakan efisiensi untuk mencapai keuntungan setinggi-tingginya. Kecenderungan ini muncul karena sifat ketiga dari bisnis Barat adalah profanes, yakni sifat yang memnggalkan nilai-nilai religius. selengkapnya

Yoga Millenial

kategori: Artikel Baru
Matsyendra, Goraksa, yang lainnya mengetahui Hatha Vidya dan melalui kebaikan mereka, Yogi Swatmarama juga mempelajarinya dari para Siddha tersebut yang diyakini pernah hidup pada jaman sebelumnya. Ada empat poros atau gugusan atau tradisi pemikiran yang berkembang sejak jaman Renaissance sampai awal millennial ini menyangkut prinsip teologi, kepercayaan, agama dan spiritualitas. Pertama, orang mulai jenuh beragama. selengkapnya

Manusia Dadu

kategori: Artikel Baru
Kama adalah dewa. Dewa Kama tidak memiliki tubuh. Karena itu ia disebut Anangga. A berarti tidak. Angga berarti tubuh. Tanpa tubuh, maka ia tidak kelihatan. Dalam bahasa sekarang ia adalah energi. Energi Kama mengembara ke sana ke mari di alam bebas. Tujuannya mencari tubuh untuk dimasukinya. Pada waktunya, tubuh yang dicari ditemukannya. Kama masuk ke dalam tubuh melalui pandangan mata. Caranya masuk sangat rahasia sehingga tidak terdeteksi. selengkapnya

Merawat Iman

kategori: Artikel Baru
Beranalogi dengan sebuah rumah, jika dibiarkan kosong, cepat ataupun lambat pasti akan dipenuhi debu. Debu yang kian banyak akan menebal, lalu ruangan menjadi kotor, lembab, pengap dan berbau. Dalam keadaan demikian, tanpa diundang akan datang dan berdiam berbagai jenis binatang, mulai jangkrik. laba-laba, kecoak, lipan, kalajengking. tikus dll. Semakin lama rumah dengan ruang-ruangnya dibiarkan kosong, kotor dan berbau. pelan tapi pasti aura manusia sebagai penghuni awal mulai pudar dan menghilang, diganti dengan masuknya energi astral, berdaya magis atau mistis selengkapnya

Rahasia Dibalik Otonan

kategori: Upacara
Dalam tradisi Hindu Bali, otonan diperingati setiap 210 hari, disebut pinget, maknanya, agar kita selalu sadar atau ingat pada diri sendiri, ingat selalu berpegang teguh pada Dharma. Ingat siapa diri kita, di mana kita berada, berapa usia kita, apa tujuan lahir menjadi manusia, dan seterusnya. Di Barat, G.I. Gurdjieff menggunakan mengingat diri (self-remembering) sebagai teknik dasar meditasi. Di India, Osho menjelaskan “self-remembering", mengingat sang diri diajarkan sejak dahulu sebagai teknik dasar meditasi dalam kitab Vigyan Bhairav Tantra. selengkapnya

Mendambakan Kematian yang Indah

kategori: Artikel Baru
Orang menginginkan kematian indah tetapi tidak semua beruntung mendapatkannya. Jatayu, sang raja burung yang mencoba menyelamatkan Dewi Sita dari tangan Ravana merupakan salah satu yang beruntung mendapatkan kematian indah. Ia melepaskan nyawanya di hadapan Rama dan Laksamana, bahkan dipeluk oleh Rama dalam keadaan berlumuran darah. Pelukan Sri Rama bukanlah sembarang pelukan, dan itu merupakan pesan rama kepada Hanuman bahwa pelukannya adalah harta berharga bagi Rama. Pelukan tersebut didapatkan oleh Jatayu sekaligus menjadi "pengantar" pulang ke alam pembebasan. Moksa. Jatayu beruntung memperoleh kesempatan meninggal di jalan sangat indah. selengkapnya