Artikel Terbaru

Diperbatasan Lidah Sejatinya Zona Anugerah

kategori: Artikel Pilihan
Lagi kita bicara tentang lidah. Karena lidah adalah sarana berucap, berbahasa, dan menyuarakan sari-sari shastra. Dan juga karena lidahlah yang biasanya dirajah dalam upacara inisiasi, untuk mendudukkan Saraswati, bahkan Sang Hyang Pashupati, agar kata-kata yang ke luar tidak kosong seperti ampas. Berikut ini, sedikit tambahan perbincangan tentang lidah. selengkapnya

Mencari dan Menanti

kategori: Artikel Baru
Lebih ke rasa! Demikian pendapat yang dinyatakan ketika seseorang membaca dua tulisan saya yang telah diturunkan dihalaman akhir Wartam. Siapa seseorang itu, tidak akan di terangkan disini. Saya ingin membiarkannya tetap menjadi rahasia. Tidak ada alasan khusus, keputusan itu saya ambil hanya karena ingin, itu saja. Semoga keputusan itu, tidak mendatangkan pikiran yang buruk dari segala penjuru. selengkapnya

Kunang-Kunang ‘Menandingi’ Rembulan

kategori: Artikel Baru
Sebuah apologi seringkali dihadirkan pencerita di dalam cerita. Pada umumnya, apologi yang dikatakan adalah mengenai ketidakmampuan. Ketidakmampuan untuk memahami hakikat, ketidak-mampuan untuk mengatakan dan menyatakan perasaan dengan kata-kata yang tepat. Ada kalanya apologi itu dipandang sebagai sebuah kesadaran kolektif dari pencerita-pencerita dalam sastra, baik itu tradisi maupun modern. selengkapnya

Ujian di Danau

kategori: Artikel Baru
Bhima dan Arjuna mengejar Jayadratha, walaupun jaraknya lebih dari 3 kilometer, dengan bantuan panah-panah dewata Arjuna menembak mati kuda-kuda kereta-nya. Kemudian Arjuna menerjang Jayadratha, saat ia mencoba berlari kencang ketakutan. “Berbaliklah, Jayadratha,” teriak Arjuna. “Berputarlah, raja yang gagah, penculik wanita!” selengkapnya

AJA WERA yang Dipelesetkan Maknanya Menghambat Upaya Kwalitas Umat Hindu

kategori: Artikel Baru
Di Bali kata majemuk Aja Wera tidak asing lagi. “Aja Wera” terdiri atas dua buah kata. “Aja” dan “Wera”. "Aja" kawi berarti “jangan” (Kamus Bahasa Bali I Wayan Simpen AB) dan (Kamus Bahasa Kawi Mardi Warsito). “Wera” berarti ribut, bahasa Balinya uyut, endeh (Kamus Bahasa Bali I Wayan Simpen AB), juga berarti “mabuk”, gila-gilaan (Kamus Bahasa Kawi Mardi Warsito). Jadi “Aja Wera” atau “Aja Were” berarti jangan ribut, jangan mabuk, jangan gila-gilaan, ketika seseorang ingin belajar pengetahuan agama maupun pengetahuan lainnya hendaknya dilakukan dengan sungguh-sungguh dalam situasi yang tenang, aman, tidak ribut, gaduh dan tidak mabuk, gila- gilaan berbuat aneh-aneh. selengkapnya

Nafsu Asmara Jayadratha Kepada Draupadi

kategori: Artikel Baru
Saat itu melintas di dekat ashrama Pandawa, Raja Sindu, Jayadratha dengan busana sangat mewah, rencana untuk melangsungkan perkawinan di kerajaan Shalwa; banyak pangeran ikut bersama dalam rombongannya. Beristirahat di dalam hutan Kamyaka, Jayadratha melihat Draupadi sedang berdiri di halaman Ashrama. Sosok Draupadi yang cantik sempurna terlihat menyala di antara pepohonan berwarna gelap di sekitarnya. selengkapnya

Manusia Pranawa

kategori: Artikel Baru
Nafas adalah prana. Brata yang ditujukan pada nafas dinamakan pranayama. Orang yang berhasil dalam brata nafas disebut jayaprana. Jaya berarti menang. Kalau orang itu kemudian mati, maka tubuhnya disebut layonsari. Layon berarti layu. Sari berarti bunga. Jasad orang yang sudah jaya prana disamakan dengan sekuntum bunga layu. selengkapnya

Medsos dan Budaya Koh Ngomong

kategori: Artikel Baru
Sebuah ungkapan sederhana ‘Aywawere’ pemah tumbuh subur dan berkembang secara luas di masyarakat pada zamannya. Pertanyaan-pertanyaan yang menyinggung persoalan-persoalan agama dan budaya yang kerap tidak mendapat jawaban yang memuaskan selalu diakhiri dengan ucapan ‘Aywawere’ sebagai jawaban pembenar terakhir yang tidak terbantahkan. Sesungguhnya 'Aywawera' ini sebuah ungkapan yang pemah tenget (sakral) beberapa dekade yang lalu, namun kini di era digitalisasi ungkapan tersebut sayup-sayup mulai tidak terdengar denyut nadinya. selengkapnya

Politik Aywawere, masihkah?

kategori: Artikel Baru
Bali itu penuh simbol. Tak banyak yang bisa langsung memahami maknawinya. Pun peneliti asing, Sthepen Lansing (2006) salah satunya. Hildred Geertz (1975) saat menulis kekerabatan orang Bali juga pusing, dan menyimpulkan Bali itu dalam banyak hal misleading. Durasi dalam kebudayaan lain adalah kenyamanan waktu, di Bali tidak berlaku. Sirkulasi lebih penting karena banyak idiom justru bisa lahir. Bali itu dinamis, tak pemah diam, namun dalam ritmiknya malah tak mau pergi ke puncak. selengkapnya