Artikel Terbaru

Menyelami Pesta Cahaya Dipavali

kategori: Hari Suci
Jyotisa adalah Dipa, lampu suci atau sinar suci penerang kegelapan. Kini umat Hindu Dharma di Nusantara mulai diperkenalkan tentang perayaan lampu suci Dipa yang dinamakan Dipavali. Selamat bagi umat yang merayakannya. Semoga Ida Sang Hyang Widhi Wasa mengaruniai segala jenis kecemerlangan dalam hidup. selengkapnya

Ketika Kehebatan dan Kejahatan Bergabung dalam Seorang Ravana

kategori: Artikel Pilihan
Raja lanka (Lengka, Alengka) Ravana dalam sloka di atas disebutkan sebagai seorang raja yang sangat gagah perkasa. Ia terlahir dari Rsi Visrama dengan istrinya Dewi Kaikesi. Ravana mempunyai vimsat bhuja atau 20 lengan (lawan bahu rwang puluh), memiliki kekuatan dan kesaktian yang bahkan para dewa pun mengalami kesulitan untuk menghadapinya, apalagi mengalahkannya. Untuk itu, Tuhan sendiri harus ber-avatara ke dunia untuk membasmi kejahatan Ravana. selengkapnya

Menoleh Bingkai Desa, Kala, Patra

kategori: Artikel Baru
Trimatra itu, bukanlah bermakna tunggal sebagai pemenuhan horizon of expectation (horizon harapan) untuk menyelesaikan dengan mudah apa yang menjadi kendala dengan sesuatu yang mudah juga. Misalnya, apabila ada kerabat yang meninggal di rumah sakit, agar tidak merepotkan diri sendiri dan keluarga simpan saja jenazahnya di cold strorage rumah sakit. Nanti, kalau sudah ada hari baik (dewasa) langsung dibawa ke setra untuk dilakukan upacara pembakaran jenazah. selengkapnya

Purana dalam Khasanah Veda dan Susastra Hindu

kategori: Artikel Baru
Purana menduduki posisi yang penting dan strategis dalam tata urutan Weda dan susastra Hindu. Kitab-kitab Itihasa dan Purana dapat digolongkan sebagai gudang pengetahuan agama yang sangat besar. Kitab-kitab tersebut disusun oleh para Rsi yang dimaksudkan untuk menjabarkan ajaran suci Weda yang demikian luas, penuh kandungan spiritual, filosofis, moral, edukasi, dan lain-lain. Dengan memahami Itihasa dan Purana, maka Weda dapat dipahami, seperti diamanatkan dalam Vayu Purana, juga Sarasamucaya (39) selengkapnya

Makna Simbolik Sesajen Sunda

kategori: Upacara
Dalam kehidupan bermasyarakat sekarang tidak sedikit orang yang menganggap sesajen ini berbenturan dengan norma-norma agama tertentu, akan tetapi jika kita mengetahui arti dan makna yang terkandung di alamnya, kita tidak akan menganggap sesajen sebagai hal yang tabu lagi, karena sesajen merupakan warisan budaya dari leluhur yang harus dijaga kelestariannya. selengkapnya

Desa, Kala, Patra vs Homogenisasi

kategori: Artikel Baru
Umat Hindu dari Bali di Palangkaraya pernah resah. Isu itu memang tak pernah jelas, hingga kini. Tetapi menurut kabar, mereka sempat (katanya) agak “memaksakan” upacara keagamaan seperti di Bali. Beruntung, sampai saat ini Balai Sarah masih tegak menjadi sentral pemujaan ke hadapan Sang Atalalangit. Hal yang sama, meski tersamar, sempat juga terdengar umat Hindu di Jawa sebenarnya “tidak terlalu nyaman” dengan pura karena sejak hidup dan mendapat pengaruh agama, mereka melakukannya di bataran candi. selengkapnya

Telinga dan Bunyi Sunyi

kategori: Artikel Baru
Entah untuk apa sesungguhnya telingan itu diciptakan. Kata orang-orang bijak, telingan diciptakan untuk mendengarkan suara-suara. Mungkin saja demikian adanya, sebab telinga saya mendengar banyak hal ketika memikirkan tulisan ini. Ada suara motor, mobil, orang berteriak, burung, ketokan palu, dan masih banyak lagi. Anehnya, saya merasa tahu bahwa suara teriakan yang tadi terdengar adalah suara seorang ibu yang memanggil anaknya. selengkapnya

Genta dalam Fisiologi Jantung Manusia

kategori: Artikel Pilihan
Demikian mantra pada saat sang pandita melakukan penyucian terhadap genta yang akan digunakan untuk memimpin upacara. Apa yang dapat kita pahami dari alat pemujaan tersebut? Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia arti genta sendiri adalah alat bunyi-bunyian yang terbuat dari logam berbentuk cangkir terbalik dengan sebuah pemukul yang tergantung tepat di porosnya dalamnya, apabila pemukul itu mengenai dinding cangkir, cangkir tersebut akan menghasilkan bunyi-bunyian. selengkapnya

Akar Kejahatan

kategori:
Dewi Sukesi mengandung anak Wisrawa, Rsi agung yang mencuri cinta anaknya, Prabu Danareja dari negeri Lokapala. Rsi Wisrawa sejatinya ke Alengka bertamu ke istana Prabu Somali, sahabat lamanya dikala muda, untuk meminang Dewi Sukesi demi mewujudkan cinta anaknya semata. Tetapi sang Rsi terhanyut oleh keinginan Dewi Sukesi akan keillahian yang bukan miliknya, sehingga mereka berdua terjerumus kedalam dosa. Dosa itulah yang ada dalam kandungan Dewi Sukesi, yang kemudian lahir dalam bentuk darah, kuku dan daun telinga. Darah itu tumbuh menjadi Rahwana yang jahat, kuku menjelma menjadi Sarpakanaka yang penuh nafsu, dan daun telinga menjadi Kumbakarna yang selalu tidur. Kelak, ketika Dewi Sukesi dan Wisrawa menyesali dosa-dosanya dan kembali kedalam kebajikan, mereka melahirkan seorang anak yang bijak dan tampan, Wibisana. selengkapnya

Tentang Mahardika

kategori: Artikel Baru
Kata ‘mahardika’ berasal dari bahasa sanskerta ‘maharddhi’ yang berarti “kemakmuran, kekuasaan, kesempurnaan, besar, sangat makmur, kuasa”. Sebagai suatu istilah filsafat kata “mahardhika” sendiri berarti “berkualitas istimewa, luar biasa, khas, unggul, sempurna, berbudi luhur, orang bijaksana, orang suci.” selengkapnya