Artikel Terbaru

TUMPEK LANDEP: Antara Adu Gengsi dan Ketumpulan Nurani

kategori: Hari Suci
Bali sedang menikmati kemakmuran, memang. Bukti kemakmuran orang Bali itu bisa diamati dalam laku beragama mereka satu dasa warsa terakhir. Pura orang Bali kini tampak megah-megah. Upacara berskala besar dengan biaya ratusan juta dan milyaran rupiah pun begitu kerap digelar sepuluh tahun terakhir. Banyak orang Bali juga gemar matirtha yatra, bersembahyang ke berbagai pura di Bali, bahkan di luar Bali hingga Mancanegara. selengkapnya

Merawat Kebhinekaan

kategori: Artikel Baru
Sesungguhnya kebenaran yang diajarkan dalam masing-masing agama adalah kebenaran yang sama. Akan tetapi dalam kenyataannya kebenaran itu menjadi berbeda karena pandangan, pengalaman dan penafsiran yang berbeda-beda pula. Sebagaimana diilustrasikan dalam susastra Wrehaspati Tattwa tentang kisah Tiga Orang Buta Yang Sedang Meraba Gajah. selengkapnya

Menggagas 'Hindukonomi'

kategori: Artikel Pilihan
Sesungguhnya setiap kelahiran, seorang manusia membawa perannya masing-masing. Manusia yang telah melakukan perenungan secara mendalam dengan pikiran yang jernih akan bertanya, apa sesungguhnya yang menjadi tujuan hidupnya. Ada dua macam tujuan hidup manusia yaitu tujuan duniawi dan tujuan spiritual. Tujuan duniawi berupa harta benda sebagai penopang kehidupan ini, sedangkan tujuan spiritual, yaitu keinginan untuk bersatu kepada yang hakekat dan asal yang sesungguhnya. selengkapnya

Merawat dan Meruwat Pikiran

kategori: Artikel Pilihan
Cogito ergosum, demikian kata filsuf Rene Descartes yang artinya 'aku berpikir maka aku ada'. Jadi keberadaan, tepatnya kehidupan manusia ditandai dengan berfungsinya kemampuan berpikir. Tanpa berpikir, manusia dianggap "tiada", sering dianalogikan seperti "bangke majalan", tampak hidup, tetapi sebenarnya "tidak hidup", lantaran pikirannya tidak diolahfungsikan. Dikaitkan konsep Tri Pramana, itu artinya elemen pikiran (idep) yang menjadi penciri eksistensi manusia telah kehilangan daya fungsinya, sehingga yang menggerakkan aktivitas manusia lebih banyak karena unsur tenaga (bayu), lalu diwacanakan lewat suara/kata-kata (sabda), baru kemudian dilaksanakan selengkapnya

Ibu dan Tahun Baru

kategori: Artikel Baru
Ibu secara biologis ialah perempuan yang mampu melahirkan anak. Karena ibu memiliki rahim kuat menampung benih kehidupan. Pada ruang rahim yang nyaman benih kehidupan bersemayam menunggu waktu lahir untuk menunaikan tugas kelahiran di dunia yang diterangi mentari. Tergantung harapan seorang ibu agar kelak anaknya menjadi suputra 'anak yang berbudi dan beperilaku luhur'. Itulah keistimewaan ibu dibanding ayah yang menyemai benih di dalam rahim ibu. selengkapnya

Merespon Satyam Siwam Sundaram

kategori: Artikel Baru
Satya (kebenaran), rta (tertib semesta), diksa (kesucian), tapa (pengendalian diri), brahma (pemujaan), dan yajna (persembahan, pelayanan) adalah enam prinsip ajaran Hindu yang harus dilaksanakan demi tegaknya dunia. Keenam prinsip tersebut menurut hemat saya dapat disederhanakan menjadi tiga, yakni kebenaran (satyam, sat), kesucian (siwam, cit), dan keindahan atau kebahagiaan (sundaram, ananda). Satyam di dalamnya mencakup prinsip satya dan rta, siwam mencakup prinsip diksa dan tapa, sedangkan sundaram mencakup prinsip brahma dan yadnya. selengkapnya

Retrospeksi Pendidikan Hindu

kategori: Artikel Pilihan
Sebagaimana dipahami bersama bahwa pendidikan agama dapat dijadikan sebagai wahana untuk mengembangkan moralitas universal yang ada dalam agama-agama, sehingga dapat dijadikan acuan dalam berpikir, berkata, dan berperilaku (bertindak). Namun, dalam praktiknya pendidikan agama sering hanya memberikan pemahaman agama yang ekslusif dan dogmatis kepada para peserta didiknya, sehingga sedikit banyak telah menyumbang dan mengabadikan konflik, baik ekternal maupun internal umat beragama. selengkapnya

Resonansi Tattwa Susila Acara

kategori: Artikel Pilihan
Rangkaian tattwa-susila-acara merupakan satu kesatuan yang utuh dalam ajaran agama Hindu. Orang menyebut tiga rangkaian itu sebagai tiga kerangka dasar agama Hindu. Maksudnya ketiga kerangka dasar itu harus dikuasai dan diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. selengkapnya

Menyoal Pilar Keagamaan, Seperti Menerima Pilar Kebangsaan

kategori: Artikel Baru
Hindu, pada akhirnya harus mau melengkapi seperangkat syarat, seperti telah memiliki nama untuk agama, Tuhan, kitab suci, nabi, hari suci dan peranti administrasi lainnya. Andaikan saja sejumlah prasyarat ini dibuka lagi, mungkin Konghucu bukan agama terakhir yang akan diakui dan diterima resmi. Sebabnya, masih banyak "agama lokal" yang masih hidup subur, bahkan ada di tiap daerah seantero nusantara. selengkapnya

Berlindung pada Kebenaran "Satyam"

kategori: Artikel Baru
Kalimat "Satyam eva jayate" yang terdapat dalam kitab Mundaka Upanisad sudah menjadi sedemikian terkenal. Bahkan, mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Antasari Ashar ketika keluar lapas menikmati kebebasan, di hadapan media menyampaikan Satyam Eva Jayate, tapi ketika ada wartawan menanyakan sambil mengulang kalimat tersebut dengan kata "Jayante", Antasari juga ikut mengucapkan kalimat kurang tepat "Satyam Eva Jayante". Antasari sudah benar menguĀ­capkan jayate akhirnya ikut-ikutan mengucapkan yang kurang tepat secara tata bahasa Sanskerta. selengkapnya