Artikel Terbaru

Indahnya Perbedaan

kategori: Artikel Pilihan
Tuhan itu memang luar biasa. Maha Ada dan Maha Kreatif. Bayangkan dari hampir 8 (delapan) milyar manusia yang hidup di muka bumi ini, tidak ada satupun manusia yang wajahnya persis sama. Bahkan mereka yang terlahir kembarpun wajahnya tidak sama, minimal sidik jarinya pasti berbeda. Ini merupakan rahasia Tuhan yang tidak perlu dipertanyakan dan dipertentangkan. Hal ini berarti bahwa Tuhan sendiri sebagai pencipta alam semesta ini sangat menyukai perbedaan. Lalu kenapa manusia yang merupakan ciptaan Tuhan, justru sering mempertentangkan soal perbedaan yang ada?. Pertanyaan ini perlu kita renungkan dalam-dalam. selengkapnya

AIR SUCI

kategori: Artikel Baru
Pada masyarakat Bali dibedakan dua jenis air yaitu, air yang dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari (profan) dan juga air yang digunakan untuk kebutuhan upacara agama (sakral). Dalam kitab Rg. Weda, X.17.10 disebutkan demikian: "semogalah air suci ini menyucikan kami bercahaya gemerlapan. Semogalah. pembersih ini membersihkan kami dengan air suci. Semoga air suci ini mengusir segala kecemeran. Sungguh kami bangkit memperoleh kesucian darinya". selengkapnya

Hakikat Hari Suci Nyepi dan Implementasi dalam Kehidupan

kategori: Artikel Baru
Hari suci keagamaan selalu menempati posisi tersendiri dalam kehidupan manusia dan memiliki makna kesucian yang diorientasikan pada kesempurnaan dengan ajaran-ajaran kerohanian yang berasal dari wahyu Tuhan. Karena onentasi tersebut dimensi hari raya agama tersebut bersifat vertikal. Agama apapun mengajarkan satu kesunyataan yakni Kebenaran. Demikian halnya dengan agama Hindu yang memiliki hari raya keagamaan yang dikelompokkan berdasarkan sasih/bulan dan pawukon/wuku ke dalam dua kelompok besar, diantaranya adalah Nyepi, yang akan kita rayakan di bulan Maret tahun ini. selengkapnya

Mempertimbangkan 'Gugon Tuwon'

kategori: Artikel Baru
Beragama bagi sejumlah kalangan adalah takdir sosial Faktanya, nyaris tidak seorangpun memilih agama ketika ia lahir. Seseorang memeluk satu agama tertentu karena agama orang tuanya, kemudian ia dibesarkan dalam lingkungan agama tersebut. selengkapnya

Pasraman di Lintas Zaman

kategori: Artikel Pilihan
Orang tua wajib membesarkan anak-anaknya. Tidak hanya membesarkan badan, tapi orang tua juga bertanggungjawab membangun mental dan jiwanya. Pembangunan itu terus berlanjut hingga tingkat dewasa. Dewasa menurut Hindu adalah ketika anak telah mencapai usia 25 tahun. Masa ini disebut masa belajar atau brahmacari. Pada masa inilah anak-anak ditempa sampai ia mampu hidup dan berkehidupan, dan siap memasuki jenjang kehidupan selanjutnya, grhasta. selengkapnya

Tradisi yang 'Mentradisi'

kategori: Artikel Baru
Umat agama lain sering memvonis agama Hindu di Indonesia sebagai agama tradisi atau agama bumi, bukan agama wahyu seperti agama-agama buku. Maklumat itu sering disampaikan secara oral maupun literer. Apa daya? Agama Hindu di Indonesia memang multikultur, memang jamak dalam hal tata cara. Ada yang bersembahyang dipura, di altar pemujaan sendiri, bahkan di gua-gua dan gunung-gunung. Bukan di rumah ibadah yang seragam seperti agama-agama lain. Ada pura yang berisi puluhan palinggih, ada yang sedikit bisa dihitung dengan jari. selengkapnya

Mengenali Bhagavad Gita sebagai 'Pancamo Veda'

kategori: Artikel Baru
Sebagai Veda Kelima, Bhagavad Gita menempati keterkenalan yang luar biasa di dalam literatur Veda. Kitab suci Bhagavad Gita merupakan "petikan" dari kitab Itihasa, yaitu di kitab Mahabharata. Oleh karena itulah Bhagavad Gita dikenal sebagai Pancamo Veda atau Veda Kelima. Selain itu, Bhagavad Gita dikenal sebagai Pancamo Veda juga karena ia merupakan wejangan langsung oleh Tuhan YME, sama seperti turunnya langsung ajaran Catur Veda dari Tuhan YME sehingga Catur Veda dikenal sebagai kitab Wahyu langsung dari Tuhan. selengkapnya

'Boarding School' Sebuah Pilihan

kategori: Artikel Baru
Salah satu konsekuensi diselenggarakannya Pasraman Formal adalah pola pengasuhan dan pola pembelajaran yang harus intim. Intensitas ini bukan hanya dicirikan kesamaan tempat tinggal antara guru dan murid, tetapi juga seluruh suasana yang melingkupinya. Selintas, imajinasi ini membawa kita pada suasana Upanisad di masa silam. Guru atau acarya tidak hanya akan bertindak sebagai guru, tetapi juga sekaligus "orang tua kedua" bagi para murid atau brahmacari. Mereka hidup bersama, menjalankan nilai dan norma aguron-guron, mirip Bhagawan Domia mengasuh dengan baik Sang Weda, Sang Utamaniu, dan Sang Arunika. selengkapnya

Cikalbakal Pasraman

kategori: Artikel Baru
Dahulu pola pendidikan di lakukan secara informal di lingkungan keluarga secara otodidak. Orang tua mempunyai tanggung jawab untuk mendidik anaknya. Sejarah membuktikan bahwa jaman paleolitikum kehidupan masih nomaden, hidup di gua-gua, manusia belajar dan menyesuaikan diri dengan alam. Mesolitikum mulai menetap, bercocok tanam, dan mengolah hasil tanaman terjadi pola asuh panak anak untuk bertani dan berburu untuk memenuhi kebutuhan hidup. Kemudian jaman neolitikum manusia sudah mulai berbudaya dalam hidupnya, menghasilkan kerajinan, mengolah sumber daya alam. selengkapnya

Pakraman = Pasraman

kategori: Artikel Baru
Konsep Desa Pakraman sebagai teritori yang dikenal juga dengan nama Desa Adat, merupakan gagasan Mpu Kuturan yang sejatinya mengonstruk model sistem pendidikan Pasraman. Mpu Kuturan (nama lain Mpu Rajakertha), sebenarnya seorang pemeluk Buddha Mahayana, yang datang dan tiba di Bali tahun 1001 M (Saka 923) pada zaman pemerintahan Raja Udayana dari dinasti Warmadewa. Pada masa itu Mpu Kuturan diposisikan selaku guru besar agama Siva dan Buddha, sekaligus diangkat sebagai Senapati merangkap Ketua Majelis Pekirakiran Ijro Makabehan (Dewan Penasehat) yang beranggotakan seluruh senapati, para Pandita Dangacarya dan Dangupadhyaya (Siva dan Buddha). selengkapnya