Artikel Terbaru

Dharmayudha Galungan

kategori: Hari Suci
Hari raya Galungan adalah salah satu hari raya umat Hindu yang pelaksanaannya dilaksanakan setiap 6 (enam) bulan sekali atau enam bulan kalender Bali yaitu 210 hari sekali tepatnya pada Budha Kliwon Dungulan. Penjadwalannya didasari atas perhitungan kalender Pawukon, yaitu kalender yang penghitungannya atas dasar daur hari Wuku dan Wewaraan. selengkapnya

Nyepi dan Peradaban Berkualitas

kategori: Hari Suci
Tanggal 1 bulan Waisaka Tahun Saka 1939 bertepatan dengan Selasa, 28 Maret 2017, dirayakan umat Hindu sebagai Tahun Baru Saka. Sudah lama umat Hindu Indonesia merayakan Tahun Baru Saka dengan melaksanakan Nyepi. Ritual Nyepi diawali dengan melaksanakan melasti, kemudian dilanjutkan dengan tawur agung. Lalu, Nyepi selama penuh dan diakhiri ngembak nyepi atau geni. selengkapnya

Nyepi untuk Keutuhan NKRI

kategori: Hari Suci
Selamat datang Tahun Baru Saka 1939. Tahun Saka sebagai penanggalan yang sejak belasan abad yang lalu digunakan sebagai penanggalan resmi di seluruh Nusantara segera akan memasuki tahun yang ke-1939. Penanggalan Saka yang dimulai sejak 21 Maret 78 Masehi merupakan tonggak sejarah berakhirnya perang antarsuku di daratan Bharatawarsa yang ketika itu meliputi wilayah India, Pakistan, Afghanistan, dan Bangladesh (saat ini). selengkapnya

Santi Nawa Warsa: 'Akhir Tahun untuk Mulat Sarira, Mengalami Atman'

kategori: Hari Suci
Hari suci dalam agama Hindu selalu terkait dengan waktu, baik sasih maupun wuku. Hal ini menunjukkan kejelian penerapan ilmu astronomi (jyotisa) oleh para Rsi sebagai ilmuan yang menghubungkan fenomena alam berupa peredaran matahari, bulan, bintan dan benda langit lainnya serta pengaruhnya terhadap kelahiran, kehidupan, dan kematian. Tak terkecuali hari raya nyepi yang jatuh pada penanggal 1 sasih ke dasa sekitar bulan maret. selengkapnya

Yadnya Peyangga Tegaknya Kehidupan

kategori: Artikel Baru
Kehidupan beragama di Bali tidak akan pernah lepas dari yang namanya upacara, banten, tradisi, budaya, dan sebagainya, seolah olah tidak ada sekat pemisah antara agama dan kebudayaan. Memang benar bahwa agama yang diterapkan di Bali memiliki penampakan yang sangat berbeda dengan agama Hindu yang ada di India, namun memiliki esensi dan tujuan yang sama. selengkapnya

"Punarjanma" Membentuk Insan Menjadi Manusia

kategori: Artikel Baru
Punarjanma masih tetap menjadi sesuatu yang aneh bagi banyak orang. Jika umat Hindu atau para penganut ajaran Veda yang "terperangkap" dalam keraguan tersebut, tentu saja segera harus mengakui diri sedang berada dalam kegelapan avidya alias dirinya masih terjauhkan dari sentuhan-sentuhan ajaran suci Veda. Kegelapan hanya dapat dijauhkan bukan dengan mengusir kegelapan, melainkan dengan menyalakan lampu penerang. Kegelapan avidya tidak dapat diusir melainkan orang dapat menyalakan "vidya jyoti" atau "jhana jyoti", (lampu penerang) berupa ilmu pengetahuan suci. selengkapnya

Sepuh, Sesepuh, dan Ajisepuh

kategori: Artikel Baru
Memang benar kata orang Jawa bahwa ‘tua’ itu memiliki banyak makna. Kata ‘tua’ dalam bahasa Jawa disebut sebagai ‘tuwa’ atau dalam tingkat tutur yang lebih tinggi disebut dengan istilah ‘sepuh’. Dalam terminologinya, masyarakat Jawa sering membedakannya dalam tiga istilah yang berbeda, yaitu: sepuh, sesepuh, dan ajisepuh. selengkapnya

Genderang Prambanan

kategori: Hari Suci
Prambanan adalah salah satu kaukus yang menengahi Sleman dan Klaten, membatasi Jawa Tengah dan Yogyakarta. Pada sekitar 850 atau abad 9, di wilayah itu, candi-candi bertekstur ramping didirikan, disusun megah menjulang. Manyaksikan ujungnya dari kejauhan, tak keliru Prambanan terpuji sebagai artefak terastistik dan estetik seantero nusantara, mungkin juga di dunia. Tak sampai disitu, kisah mistik berbaur mitos dan gaib membuatnya semakin ikonik. Ia adalah glorifikasi dari berbagai fitur, dari agama hingga budaya. UNESCO tidak pernah ragu menjadikannya salah satu Situs Warisan Dunia pada 1991. selengkapnya

Tutur Tantular

kategori: Artikel Pilihan
Kata-kata di atas nampak seperti judul sinetron laga “Tutur Tinular” yang saat ini sedang tayang di salah satu stasiun televisi swasta di Indonesia. Sebuah sinetron laga yang mengisahkan cerita dari para leluhur pada zaman Hindu (Majapahit) di abad lampau. Tutur Tantular yang dimaksudkan dalam tulisan ini juga masih terkait dengan zaman Majapahit yang kejayaannya telah dikenal seantero jagad pada masa itu. Akan tetapi sayangnya, saat ini sudah banyak manusia Indonesia yang lupa akan sejarah tersebut. selengkapnya

Mulat Sarira di Hari Kuningan

kategori: Hari Suci
Di Hari Raya Kuningan saat ini, setelah kita berbhakti kepada leluhur di pagi hari, marilah kita melakukan koreksi diri dengan melakukan mulat saria alias introspeksi diri. Mulat sarira ini penting dilakukan untuk membentengi diri kita agar tidak banyak terpengaruh nafsu-nafsu buruk, baik yang masih di dalam pikiran mau pun yang sudah menjadi perbuatan. Bukankah di Hari Raya Kuningan ini kita membuat tamiang di setiap persembahan dan itu adalah simbul kita membentengi diri. selengkapnya