Artikel Terbaru

Bergembira di Dalam Diri Melalui Kesadaran Gambhira

kategori: Artikel Baru
Pikiran dan kesadaran orang kebanyakan bagaikan periuk yang berisi air setengah, atau keadaan nasi yang baru setengah matang dalam periuk nasi. Kedua contoh menunjukkan keadaan air dan nasi setengah matang yang selalu tidak bisa tenang dan setiap saat membuat periuk menjadi berguncang keras. Kesadaran dan pikiran orang-orang biasa selalu mudah diombang-ambingkan oleh keadaan yang menyentuhnya. Jika keadaan senang yang menyentuhnya maka ia akan melonjak bersukaria, jika keadaan duka menyentuhnya maka ia akan meldnjak pula, tetapi di dalam kedukaan. Lonjakan suka dan duka akan sangat kentara pada diri orang-orang yang tidak menempatkan kesadarannya di dalam kesadaran gambhira. selengkapnya

Tirai Tipis: Uttpti Stiti Pralina

kategori: Artikel Baru
Uttpti-Stiti-PraIina, lazim disebut Tri Kona, yaitu tiga sifat Kemahakuasaan Tuhan (Sang Hyang Widhi). Menciptakan, memelihara, dan melebur ialah tiga sifat Kemahakuasaan Tuhan yang tiada ada luput dariNya. Ketiganya melekat dalam perwujudan Tuhan sebagai Tri Murti. selengkapnya

Prana Eda Ngaden Awak Bisa

kategori: Artikel Baru
Bali memiliki geguritan yang sarat dengan kajian filosofis. Seperti misalnya pupuh ginada di atas. Saat ini, yang menjadi bahan kritik dari pupuh tersebut adalah bait pertama “eda ngaden awak bisa” - “jangan merasa diri tau.” Tidak sedikit dari kalangan muda menggugat pemyataan ini. Alasannya, pertama, jika kita terus-menerus tidak pernah menunjukkan diri bisa dan membiarkan orang lain yang mendefinisikan, maka kita akan kehilangan kesempatan untuk bersaing di dunia yang penuh persaingan ini selengkapnya

Ede Ngaden Awak Bisa Ginada dalam Manajemen Modern

kategori: Artikel Baru
Jika ditarik ke konteks kekinian dalam era manajemen modern, filosofi makna menonjolkan diri yang tidak boleh dilakukan dalam pupuh itu, rasanya sudah kurang tepat. Sebab di era sekarang, untuk memperoleh pengakuan dari pihak lain atau masyarakat secara luas, maka kita haras berani menonjolkan atau mengemukakan apa yang menjadi kelebihan kita. Dalam bahasa marketingnya, kita harus berani ‘menjual diri’, sehingga orang lain tahu kelebihan yang kita miliki, atau agar orang lain tertarik kepada kita, maka kita haras mulai membangun karisma diri kita sendiri. selengkapnya

Shiva Keberuntungan yang Diharapkan

kategori: Artikel Baru
Kisah Dewa-Dewi Purana seringkali membuat umat Hindu bingung. Hal ini menjadi sebuah renungan untuk dicermati apakah purana relevan untuk menyampaikan dasar-dasar theologi ataukah justru membingungkan. Dalam beberapa film yang pernah tayang di televisi terjadi drama permusuhan antara dewa dan raksasa atau antara dewa yang satu dengan dewa yang lainya. Ada dewa yang cenderung jahat, ada yang baik, ada yang superior dan sebagainya seolah dewa itu memiliki sifat yang serupa dengan sifat manusia, bahkan terjadi pula peperangan antara sesama dewa. selengkapnya

Sampah Upakara Yadnya: Berkah atau Musibah?

kategori: Upacara
Sampah upakara yadnya (menggambarkan sisi terang dan gelap keberagamaan umat Hindu. Sisi terangnya, sampah itu berkah karena menandai intensitas kesadaran dan kegiatan keagamaan. Semakin banyak sampah upakara yadnya, semakin tinggi kesadaran keagamaan, dan semakin banyak kegiatan keagamaan. Sisi gelapnya, bila kesadaran keagamaan tidak disertai kesadaran lingkungan sehingga sampah upakara yadnya menjadi musibah, entah malapetaka moral ataupun bencana alam. selengkapnya

Lungsuran, Surudan, Paridan

kategori: Artikel Pilihan
Hukum Tri Kona; utpeti-sthiti-pralina adalah sistem daur ulang kehidupan. Apa yang tiada menjadi ada, lalu terpelihara untuk akhirnya kembali sima. Begitupun dengan aktivitas yadnya, diutpeti dulu menjadi banten, disthiti menjadi haturan bhakti, sampai akhirnya menjadi pasuecan/paican Ida Bhatara. Saripati hasil pertemuan bhakti umat kalawan sueca Widhi/Ida Bhatara-Bhatari itulah kemudian lumrah disebut lungsuran atau surudan, yang dalam bahasa Sanskrit dinaikkan derajat maknanya menjadi prasadham (menikmati sajian yang telah disucikan). selengkapnya

Bisa, dan Misa-Misa

kategori: Artikel Pilihan
Ada tiga kata dalam khazanah bahasa Bali yang satu sama lain serangkai pengejawantahannya, yaitu bisa, nawang, dadi. Bisa, artinya ‘mampu' (berbuat sesuatu), nawang artinya 'tahu’ (uning/wikan) tentang sesuatu, dan dadi artinya “boleh” (melakukan sesuatu. Seseorang dikatakan bisa karena mampu berbuat atau melakukan sesuatu yang bisa dikerjakan. Sementara itu, disebut nawang, menunjuk pada pengetahuan yang diketahui atau dikuasai. Sedangkan dikatakan dadi, ketika seseorang sudah boleh melakukan apa yang semestinya dikerjakan, setelah yang bersangkutan dianggap bisa dan nawang. selengkapnya

Tidak Menyimpan Keburukan Sampai Mati

kategori: Artikel Baru
Dikatakan, mengubah orang jahat menjadi orang baik-baik bukan susah melainkan tidak mungkin. Sifat dan kelakuan jahat sudah menjadi darah dan daging bagi orang jahat. Kejahatan sudah menjadi dan memberikan “kepuasan” tersendiri baginya. Bahkan ia tidak akan bisa hidup tanpa “kepuasannya” tersebut, yaitu tanpa berbuat jahat mereka merasa hari-harinya menjadi aneh dan “tanpa rasa”. Hari-harinya seperti sudah menjadi keharusan untuk diisi dan dihias dengan kejahatan atau perbuatan-perbuatan tidak baik. selengkapnya

Manajemen Tri Hita Karana Era Millenium

kategori: Artikel Baru
Sifat individualistis tercermin dalam usaha pebisnis yang umumnya menempatkan kepentingan diri sendiri atau kelompok sendiri sebagai hal yang paling utama atau paling primer sedangkan kepentingan orang lain atau kepentingan bersama ditempatkan dalam posisi kepentingan sekunder. Sifat kedua dari bisnis Barat adalah bersifat kapitalis yang berarti proses manajemen lebih mengejar dan mengutamakan efisiensi untuk mencapai keuntungan setinggi-tingginya. Kecenderungan ini muncul karena sifat ketiga dari bisnis Barat adalah profanes, yakni sifat yang memnggalkan nilai-nilai religius. selengkapnya